Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 207 : Membahas Alex


__ADS_3

"Iya yah benar juga. Sejak saat ia berdebat dengan ku, aku tidak pernah melihatnya berbicara dengan siapa pun lagi," timpal Ruben.


"Mungkin dia menganggap kalau kita itu tidak satu kelas dengannya jadi dia malas bicara sama kita hahahaha," timpal Ahsan. "Lagi salah satu alasan kenapa dia cuma bicara sama Ruben itu karena dia sudah menganggap Ruben itu pesuruhnya hahaha," lanjut Ahsan lagi.


"Haaa apa kata mu?" ucap Ruben tidak terima.


"Hahaha tapi kenapa kau kemaren gak mau membelikannya makanan sama minuman Ben? Apa uang upahnya semakin sedikit jadi kau tak mau melakukannya lagi?" tanya Aji.


"Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya ingin ia pergi bersama-sama ke kantin bareng aku, Ahsan, sama Galang. Itu saja," ucap Ruben.


"Wah ternyata begitu yah. Aku kira karena uang upahnya sudah semakin sedikit hahaha," timpal Aji lagi.


"Enggak lah," timpal Ruben.


***


"Oi pendek, aku lapar nih, cepat belikan aku makan sama minum sekalian sana. Kau bilang sekarang berapa uang yang kau mau, aku akan memberikannya pada mu asalkan kau mau membelikan ku makanan dan minuman," ucap Alex tiba-tiba pada Ruben yang mana Ruben sedang duduk santai bersama ku dan Ahsan.


"Kan sudah aku bilang sejak kemaren kalau aku sudah tidak akan menerima permintaan mu lagi. Kalau kau mau, kita bisa pergi ke kantin bareng-bareng sama Ahsan sama Galang sekalian," jawab Ruben.


"Haa apa kau sedang bercanda? Mana mungkin aku mau pergi ke tempat penuh keringat seperti itu," jawab Alex.


"Memangnya kau pernah pergi ke kantin?" tanya Ruben.


"Tentu saja belum," jawab Alex dengan nada arogannya.


"Lalu dari mana kau bisa tau kalau tempat itu penuh dengan keringat hah?" timpal Ruben lagi.


"Dimana-mana kantin itu pasti banyak keringat dan tentu saja pasti juga bau keringat. Untuk hidung dan kulit ku yang bagus ini, mana bisa aku berada di tempat seperti itu. Nanti bisa-bisa aku alergi lagi," jawab Alex masih dengan nada arogan.


"Kau tidak akan pernah tau sebelum mencobanya. Ayo Lang kita bawa **** manja ini ke kantin. Biar dia tau kalau kantin itu tidak seburuk yang ia kira," Ruben lalu langsung mendorong Alex menuju ke kantin dengan paksa.

__ADS_1


"Oi oi apa-apaan ini. Jangan dorong-dorng begitu oi, nanti baju mahal ku kotor lagi. Aku yakin uang saku mu 3 tahun gak bakal bisa buat ganti rugi baju ku ini. Oi oi, kau dengar tidak pendek?!?" ucap Alex dengan aak memberontak.


Sementara itu Ruben tampak tidak menghiraukan apa yang dikatakan Alex. Ia tetap mendorongnya hingga sekarang tinggal setengah perjalanan lagi hingga sampai di kantin. Aku dan Ahsan pun mengikuti mereka dari arah belakang.


Tak berselang lama, kami pun sampai di kantin. Suasana kantin pada jam istirahat yang kedua ini masih cukup ramai, meskipun tetap tidak seramai waktu istirahat pertama tadi.


"Lihat, tidak seburuk apa yang kau pikirkan kan?" tanya Ahsan.


"Haaa apa-apaan itu? Tetap saja bau keringatnya masih begitu terasa," timpal Alex.


"Cih, kau itu tidak mau jujur yah? Sudahlah jangan begitu, akui saja kalau memang kantin ini tidak seburuk apa yang kau bayangkan," timpal Ruben.


"Itu tadi adalah suara lubuk hati ku yang paling dalam," ucap Alex lagi.


"Ya sudah, terserah kau saja. Cepat sana kau beli saja makanan sama minuman yang mau kau beli. Silahkan tinggal pilih," ucap Ruben.


Setelah cukup lama berdebat, akhirnya Alex pun mau untuk membeli sendiri makanan dan minuman yang ia inginkan. Setelah itu, kami pun ikut membeli dan setelah itu kami semua kembali ke kelas untuk menyantap makanan yang baru saja kami beli itu.


"B aja," timpal Alex dengan nada yang arogan.


"Oi aku beri saran kau yah, lebih baik kau hilangkan nada bicara yang terdengar arogan itu. Atau paling tidak bersikaplah lebih ramah. Kalau tidak, tidak akan ada yang mau mengajak mu bicara loh," ucap Ruben.


"Haa? Memangnya siapa kau, berani-beraninya menasehati ku? Asal kau tau aja yah, aku itu lebih tau dari pada kau," timpal Alex.


"Ya ya ya, terserah kau sajalah," ucap Ruben yang kini terlihat langsung duduk di kursinya.


***


Bel pulang sekolah telah cukup lama berbunyi. Namun, banyak siswa yang masih berada di kelas atau di sekitaran kelas karena terjebak hujan. Ya, tidak ada yang mengira sama sekali kalau sore hari ini akan turun hujan, termasuk aku. Alhasil aku tidak membawa mantel hujan atau pun payung saat ini.


Selain aku, ada juga Ruben, Ahsan, Alex, Fahmi, Calvin, dan beberapa anak yang lain. Aku, Ahsan, Ruben, dan Alex saat ini pun masih berada di dalam kelas.

__ADS_1


"Hahaha kau lupa tidak membawa payung yah? Haha kalau sedang seperti ini, uang mu seperti tidak ada gunanya kan?" ejek Ruben pada Alex.


"Haaa? Aku gak salah dengar nih? Kau juga gak bawa payung kan? Dasar, gak punya kaca !!!" timpal Alex.


"Haaa apa kata mu?" timpal balik Ruben.


"Oi kalian berdua bisa diam gak? Aku lebih memilih mendengarkan suara hujan yang turun dari pada mendengar kalian berdua berdebat yang mana terdengar seperti suara rengekan keledai," ucap Ahsan.


"Oi tutup mulut mu itu, kau gak tau siapa yang sedang kau nasehati itu?" timpal Alex dengan nada bicara arogannya.


"Kau itu Alex kan, si anak baru, tentu saja aku tau kau," jawab Ahsan.


"Maksud ku bukan itu, cih lupakan saja. Lagi pula juga tidak ada gunanya berdebat dengan orang rendahan seperti kalian, buang-buang tenaga saja," timpal Alex lagi.


"Ya ya ya, terserah kau saja lah," timpal Ahsan.


***


20 menit telah berlalu, akan tetapi belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Justru sebaliknya, hujan kini turun semakin deras lagi.


"Wah hujannya malah tambah deras nih," ucap Ruben memecah keheningan yang sudah sekitar 5 menit tercipta.


"Waduh, mana udah mau jam 4 lagi. Kalau udah begini apa boleh buat. Tolong bangunkan aku kalau sudah reda yah," ucap Ahsan yang mana langsung memposisikan dirinya untuk tidur dengan meletakkan kepalanya itu di atas meja.


"Wah wah wah, malah tidur kau," timpal Ruben. "Oi orang kaya, kenapa kau gak meminta orang di rumah mu untuk menjemput mu saja? Kau kan juga punya mobil jadi pasti gak akan kehujanan. Kenapa kau malah terus menunggu di sini, kau itu bodoh ya?" ucap Ruben pad Alex.


"Tentu saja aku tau itu. Tapi..." ucap Alex yang mana seperti berhenti di tengah kalimat.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2