
"Ada apa San?" Cindy datang menghampiri Ahsan yang tadi memanggil namanya dan melambai-lambaikan tangan.
"Kamu tahu kalau Ruben itu sebenarnya..." belum sempat Ahsan menyelesaikan ucapannya, Ruben sudah buru-buru menutup mulut Ahsan dengan kedua tangannya. Cindy yang berada di depan mereka pun tampak kebingungan dan hanya tersenyum tipis saja melihat tingkah mereka berdua.
Ahsan kini masih terlihat berusaha untuk melepaskan tangan Ruben dari mulutnya.
"Oi Ben dengarkan dulu," sempat terlepas sebentar, tapi Ruben dengan sigap kembali menutup mulut Ahsan.
"Apanya yang didengarkan haaa?" ucap Ruben membalas perkataan Ahsan barusan.
"Ka-kalian berdua kenapa sih?" Cindy terlihat masih kebingungan.
"Gak papa Cin hehehe. Aku dan Ahsan biasa melakukan hal seperti ini," ucap Ruben yang masih menutup mulut Ahsan.
"Kalau begitu biarkan Ahsan bicara dulu. Tadi sepertinya dia akan mengatakan sesuatu yang penting," ucap Cindy meminta Ruben untuk melepaskan mulut Ahsan.
Ruben yang mendengarkan perkataan Cindy itu pun perlahan melepaskan mulut Ahsan.
"Dengarkan aku dulu Ben. Jangan langsung menutup mulut ku seperti itu. Aku bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatku tadi," ucap Ahsan yang baru saja terlepas dari Ruben.
"Awas kau yah kalau sampai bilang yang macam-macam," ucap Ruben.
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan San? Tadi kamu berkata kalau Ruben itu?" ucap Cindy.
"Iya, kau tahu? Kalau Ruben itu sebenarnya... Suka... Memasak," ucap Ahsan dengan sangat dramatis.
Mendengar ucapan sahabatnya itu, Ruben terlihat sangat lega. Dia mungkin mengira bahwa Ahsan mungkin akan benar-benar mengatakan kalau Ruben menyukai Cindy.
__ADS_1
"Eh begitu ya? Pantas kemaren masakan Ruben sangat enak. Sepertinya kamu memang sangat cocok bila jadi koki Ben..." Cindy kini menatap ke arah Ruben.
Setelah Cindy selesai mengatakan hal tersebut, Ayu kini sudah terlihat maju kedepan dan mulai membunyikan papan tulis yang dibunyikannya dengan mengetuk papan tulis menggunakan penghapus. Tok tok tok.
Kami pun lalu langsung kembali ke tempat duduk kami masing-masing. Sepertinya rapat sudah akan segera dimulai. Semua siswa kini telah berada di tempat duduknya masing-masing, kecuali satu orang, yaitu Risal.
"Selamat sore teman-teman," buka Ayu.
"Soreee..." jawab kami serempak.
"Seperi yang telah kita rencanakan, sore ini kita akan mulai membahas soal kegiatan ulang tahun sekolah. Hal pertama yang akan kita bahas adalah mengenai partisipan di masing-masing perlombaan. Jadi, tanpa berlama-lama lagi kita akan segera memulainya dari cabang futsal. Futsal ini khusus untuk anak laki-laki, jadi aku persilahkan Aji untuk menentukan siapa-siapa saja yang akan berpartisipasi," ucap Ayu sambil mengundang Aji untuk maju ke depan. Aji pun langsung maju seperti apa yang diminta Ayu.
"Sore teman-teman. Langsung saja ya, sebelumnya apakah ada yang ingin mengajukan diri untuk menjadi tim inti futsal kelas kita?" ucap Aji yang baru saja ke depan.
Beberapa saat setelah aji menanyakan hal tadi, tidak seorang pun yang terlihat mengangkat tangannya. Dengan sedikit kepercayaan diri, aku pun mengangkat tangan kanan ku tanda mengajukan diri.
Lagi-lagi tidak ada yang mengangkat tangan. "Kalau tidak ada, bagaimana kalau lima pemain inti futsal diambil dari anak yang ikut ekstrakulikuler Sepak Bola? Kebetulan anggota ekstrakulikuler Sepak Bola dari kelas ini ada 5... Bagaiman?" usul Aji.
"Boleh si... Biar yang lain jadi cadangan aja buat jaga-jaga kalau ada yang kecapean atau cedera," seru Calvin.
"Kalau begitu tinggal tiga orang lagi... Apakah ada yang ingin mengajukan? Di peraturan tertulis hanya boleh mendaftarkan 8 nama yang akan bermain di cabang futsal ini," ucap Aji lagi.
Calvin lalu terlihat mengangkat tangannya tanda bersedia untuk menjadi pemain cadangan tim futsal kita. Selanjutnya giliran Fahmi, dan Tomi yang berturut-turut mengangkat tangan mereka. Aji pun lalu langsung menulis nama mereka bertiga sebagai pemain cadangan.
Dengan begitu berikut adalah nama-nama yang akan mengikuti lomba futsal. Tim inti Ruben, Ahsan, Renaldi, Aji, dan Aku. Sementara untuk cadangannya adalah Fahmi, Calvin, dan Tomi.
"Baiklah selanjutnya kita bahas untuk yang mengikuti cabang basket. Di sini, peraturan yang dipakai adalah tiga lawan tiga. Untuk kuotanya sendiri, setiap tim hanya boleh mendaftarkan maksimal 6 pemain saja. Apakah ada yang ingin mengikuti cabang basket ini?" tanya Aji.
__ADS_1
Tomi langsung mengangkat tangannya. Tomi sendiri memang mengikuti ekstrakulikuler Basket dan hanya dia seorang yang ikut ekstrakulikuler Basket dari kelas ini.
"Selain Tomi masih ada lagi?" tanya Aji.
Kali ini, tidak ada lagi yang mengangkat tangan. Aji pun lalu mulai menunjuk-nunjuk untuk anak yang akan mengikuti cabang Basket ini. Aji pun lalu menulis namanya setelah Tomi. Sekarang masih tersisa maksimal 4 orang lagi.
"Renaldi, kau mau ikut? Kau bisa main bola basket kan?" tanya Aji kepada Renaldi yang memang memiliki tubuh yang paling tinggi di kelas ini.
"Ya sedikit," ucapnya singkat dan dengan suara yang sangat berat. Suara miliknya terdengar lebih tua dari pada usia Renaldi itu sendiri. Jarang-jarang aku bisa mendengar suaranya itu. Selama ini, ia lebih banyak diam dari pada bicara.
"Baiklah berarti Renaldi ikut. Selanjutnya Ahsan, kau mau? Kau bisa kan?" tanya Aji pada Ahsan yang memang juga memiliki tubuh yang tinggi, mungkin hanya beberapa cm dibawah Renaldi.
"Okelah, kalau kau memintaku," jawab Ahsan.
Pada akhirnya, nama-nama yang ikut lomba cabang basket adalah Tomi, Aji, Renaldi, Ahsan, Fahmi, dan Calvin.
Selanjutnya cabang Voli Putra. Setiap tim maksimal mendaftarkan 10 nama. Yang mewakili dari kelas ini adalah semua anak laki-laki kecuali Risal dan Agung.
Selanjutnya adalah cabang Voli Putri. Nama-nama yang terpilih mewakili kelas ini adalah Ayu, Risa, Wita, Agatha, Ema, Erni, Cindy, Rani, Bella, dan terakhir Niken.
Selanjutnya cabang yang terakhir dibahas untuk hari ini yaitu tarik tambang campuran. Tarik Tambang Campuran ini terdiri dari 10 anak, 5 perempuan, dan 5 laki-laki. Laki-laki yang terpilih untuk ikut adalah Aji, Renaldi, Fahmi, Ahsan, dan Tomi. Sementara yang ikut dari anak perempuan adalah Anggi, Ayu, Wita, Erni, dan Ema. Anggi yang memang bertubuh besar sudah pasti ikut jika ada lomba tarik tambang.
"Baiklah teman-teman, sepertinya sampai sini dulu kita membahasnya. Berhubung hari sudah semakin sore, mari kita akhiri rapat kali ini. Sebagai penutup, aku ucapkan banyak terima kasih," Ayu menutup rapat kali ini dan langsung kembali ke tempat duduknya. Kami pun lalu mulai meninggalkan kelas ini satu persatu. Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 17.05. Langit pun sudah mulai terlihat bewarna oranye.
***
Bersambung
__ADS_1