
Dengan muka yang masih terlihat tidak bersedih, Aji lalu mulai bercerita, "Jadi, alasan ku terlihat begitu tidak bersemangat selama satu minggu ini adalah karena..." Aji terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya itu.
"Karena?" timpal Fahmi.
"Oi lanjutin dong Ji. Kau harus tanggung jawab kalau udah bikin penasaran orang dong," ucap Ruben yang entah kenapa seperti sedang tidak mengenali suasana saat ini.
Plaaaakkk. Ahsan langsung terlihat menampol punggung Ruben dari belakang, "Sssstttt, lebih baik kau diam dulu untuk sekarang."
Aji lalu terlihat menarik napas yang cukup dalam sebelum menghembuskannya, "Sebenarnya, aku habis ditolak."
"Ehhhhhhhhhhh? Ditolaaaaaaak?" semua orang terlihat begitu terkejut kecuali aku dan Renaldi yang memang sudah diberi tahu oleh aji sebelumnya.
"Ciyus ditolak? Mi apah?" ucap Ahsan dengan logat khasnya.
"Di tolak sama siapa Ji?" tanya Fahmi.
"Wahhh ternyata kau itu lagi mendekati seseorang yah? Siaappa? Kenapa tidak ceritaaa?" ucap Ruben yang entah kenapa malah terlihat sedikit emosi.
"Wah ditolak sama siapa Ji?" tanya Calvin.
Hampir semua orang yang ada di sini bertanya pada Aji yang tentu saja masih tampak begitu tak bersemangat itu.
"Maaf aku tidak cerita masalah ini kepada kalian. Bahkan waktu aku masih dalam tahap pendekatan, aku tidak menceritakan apa pun pada kalian. Tentu saja alasan ku tidak menceritakan hal-hal seperti ini adalah karena memang aku tidak biasa untuk membicarakan masalah seperti ini dengan teman-teman ku. Biasa, aku hanya memendam perasaan ku saja. Namun karena aku merasa bahwa aku sudah SMA, maka aku harus belajar untuk mengungkapkan perasaan ku pada gadis yang aku suka. Jadi, dengan ke-egoisan ku aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan ku pada gadis yang sedang aku suka, yaitu Fani," ucap Aji.
"Haaa? Fani? Wanita yang terlihat judes dan cuek itu?" ucap Ruben seperti biasa yang asal ceplas-ceplos. Plakkkk. Lagi-lagi satu tampolan telapak tangan dari Ahsan mendarat dengan mulus di punggung Ruben.
"Oi sakit tau," timpal Ruben.
"Sudah aku bilang kan untuk diam dulu," timpal balik Ahsan.
__ADS_1
"Waduh, ditolak yah... Aku memang belum pernah ditolak sih tapi sepertinya aku paham apa yang kamu rasakan," timpal Calvin.
"Ha belum pernah ditolak? Wah hebat juga kau Vin, berarti pacar mu banyak dong?" ucap Ruben.
"Alasan ku tidak pernah ditolak adalah karena aku belum pernah menembak gadis tau hal semacam itu hehehe," ucap Calvin dengan sedikit tersenyum.
"Hmmmm, gitu toh..." timpal Ruben.
"Udah gak papa Ji... Aku juga pernah ditolak kok. Santai saja hehehe. Kata guru Jiraiya, penolakan akan membuat seorang lelaki menjadi lebih kuat," ucap Ahsan.
"Guru Jiraiya? Siapa dia?" tanya Aji.
"Wah kau gak tau guru Jiraiya yah? Itu loh gurunya Naruto," jawab Ahsan.
"Iya Ji santai saja. Aku gini-gini juga pernah loh ditolak," ucap Ruben yang entah kenapa malah seperti sedang membanggakan diri.
"Heee?" timpal Ruben.
"Hehehe iya Ji betul tuh kata guru Jiraiya, sudahlah jangan terlalu bersedih. Jadikanlah hal itu sebagai pelajaran. Lagi pula, kau kan masih punya kami, teman mu," ucap Calvin.
"Wanita itu adalah makhluk yang paling membingungkan. Sesaat yang lalu kau berpikir telah mengertinya dengan baik, sesaat yang akan datang kau akan merasa kalau kau sama sekali tidak mengertinya. Wanita itu seperti langit, kadang cerah, kadang jingga, kadang gelap, kadang mendung, kadang hujan. Yang perlu kita antisipasi hanyalah kita harus siap sedia membawa payung kan?" tiba-tiba Tomi bersuara. Aku tidak tahu kalau Tomi ternyata bisa berbicara panjang lebar begini. Apalagi, hal yang Tomi katakan tadi sepertinya begitu berarti baginya. Mungkin hal yang ia katakan itu adalah semacam pengalamannya.
"Wah ternyata kau juga bisa bicara tentang wanita ya tom, aku kira kau itu cuma bicara tentang hal-hal yang membosankan saja," timpal Ruben.
"Wah kalian gak tau ya? Dulu Tomi waktu di SMP itu adalah salah satu murid yang paling populer loh. Dia bahkan juga dijuluki playboy karena pacarnya begitu banyak. Sepertinya tiada hari di SMP yang ia habiskan tanpa memiliki seorang kekasih. Bahkan ada rumor yang mengatakan kalau Tomi ini pernah mempunyai 2 pacar sekaligus dalam waktu bersamaan," ucap Fahmi.
"Hahaha," Calvin hanya tertawa mendengar Fahmi membongkar semua masa lalu Tomi waktu SMP.
Tomi tidak berkata apa pun tentang hal yang barusan dikatakan oleh Fahmi itu. Hanya saja entah kenapa bukannya tampak kesal karena masa lalunya diceritakan begitu saja, wajah Tomi kini malah terlihat agak sedih.
__ADS_1
Disaat kami sedang semakin dalam membahas masalah ini, tiba-tiba saja ibu penjaga kedai datang membawakan makanan dan minuman pesanan kami. Entah kenapa kedatangan ibu penjaga ini seperti tombol restart pada android atau semacamnya. Suasana yang tadinya mulai ketat, kini seperti kembali melonggar.
"Lagi pada ngomongin apa to?" ucap ibu-ibu penjaga kedai yang bernama bu Yanti itu.
"Hehehe biasa Bu. Kalau anak muda ya obrolannya tentang cinta hahaha," ujar Ruben.
"Wah enaknya ya hehehe. Jadi ingat dulu waktu ibu masih muda. Waktu ibu masih muda dulu, ibu itu bisa dibilang jadi rebutan anak laki-laki lohh..." ucap Bu Yanti.
"Wah beneran bu?" tanya Ruben antusias.
"Yo endak lah (ya enggak lah), kalau beneran pasti sekarang ibu udah jadi istrinya konglomerat hehehe," ucap Bu Yanti sambil becanda.
"Hahahaha ibu bisa becanda juga," timpal Ruben.
***
Setelah itu, kami masih terus mengobrol. Obrolan kami masih belum berbeda, yaitu masih seputar masalah wanita dan semacamnya. Aku sendiri baru pertama kali berbincang-bincang masalah perempuan seperti ini, ya walaupun aku hanya lebih banyak mendengarkannya sih.
Yang paling membuat ku terkejut tentu saja Tomi. Tomi terlihat begitu tahu banyak sekali soal masalah-masalah seperti ini. Nasihat-nasihat yang ia berikan kepada Aji pun terdengar begitu bagus dan realistis. Tomi memang terlihat seperti seorang pro di topik obrolan ini.
"Wanita itu begitu gampang merasakan emosi dari pada apa yang kita laki-laki pikirkan. Bahkan hal sekecil apa pun bisa merubah suasana hatinya. Lebih tepatnya lagi, wanita itu adalah makhluk yang sangat tergantung dengan emosinya. Jadi, saran ku berhati-hatilah dan selalu perhatikan emosinya," ucap Tomi.
"Hmmm oiya ngomong-ngomong kau ini sudah punya pacar belum tom saat ini?" tanya Ruben lagi-lagi dengan seenak jidatnya.
"Aku? Entah kenapa semenjak SMA, aku selalu gagal mendapatkan hati seorang wanita hehehe," ucap Tomi dengan tersenyum kecut. Aku rasa, ini pertama kalinya aku melihat Tomi tersenyum seperti itu.
***
Bersambumg
__ADS_1