
Tak berselang lama, karyawati yang tadi mencatat pesanan kami, tiba-tiba kembali. Ia menghampiri kami dengan tergesa-gesa. Mungkin ia melupakan sesuatu atau semacamnya.
"Permisi kak... Dek... Maaf tadi saya kelupaan. Untuk level pedas seblaknya, level berapa aja ya? Pilihannya dari level satu sampai 4. Semakin tinggi levelnya semakin pedas," jelas karyawati itu yang ternyata memang melupakan sesuatu.
"Aku level 1 aja mba," ucap ku.
"Aku level 2 mba," ucap Sofia.
"Kalau aku sama kayak kak Sofia mba, level 2," ucap Hana sambil mengangkat jarinya mengisyaratkan angka dua.
"Baik, terimaksih kak, dek. Tunggu sebentar lagi ya..." karyawati itu pun kembali lagi ke bagian belakang.
"Kakak kok cuma level satu sih? Hahaha kakak takut pedes yah?" ledek Hana setelah karyawati tadi pergi.
"Kakak bukannya takut pedas, tapi memang engga suka pedes," ucap ku.
"Hahahaha apa bedanya kak? Bukannya itu sama saja? Hahahaha," Hana masih meledek ku.
"Ya ya ya, terserah kamu sajalah. Kakak memang engga suka pedes dari dulu, entah kenapa," ucap ku lagi.
"Wahh kakak marah ya?" tanya Hana.
"Mana mungkin kakak marah, hmmm," balas ku.
"Hehehehe... Kalau kak Sofi suka pedas?" kini giliran Hana yang bertanya pada Sofia.
"Kakak juga gak suka makanan yang terlalu pedas, tetapi kalau makanannya terlalu manis juga kakak engga suka, makanya tadi kakak pesen yang level dua, biar ada pedes-pedesnya sedikit hihihi," jawab Sofia sambil tersenyum.
"Oh begitu ya..." ucap Hana sambil mengangguk-angguk.
"Kalau kamu kenapa milih level dua juga?" tanya ku pada Hana.
"Gak papa, cuma pingin samaan kaya kak Sofia aja hehehe. Biar bisa ketularan manisnya juga hehehe," jawab Sofia sambil tertawa.
"Haaaa?? Memangnya bisa? Ada-ada aja kami hahahaha," aku pun ikut tertawa mendengar jawaban polos dari Hana tadi.
***
Akhirnya setelah sekitar beberapa menit menunggu, pesanan kami pun datang.
"Silahkan kak," ucap karyawati yang sudah selesai menyajikan pesanan di meja kami.
"Makasih mba..." ucap Sofia.
__ADS_1
"Selamat makaaaannnn..." ucap Hana dengan sangat bersemangat.
"Pelan-pelan Hana, masih panas," ucap pada Hana yang terlihat sangat bersemangat meniup-niup seblak yang masih mengeluarkan asap panas itu.
"Iya Hana, pelan-pelan," kini giliran Sofia yang memberi saran.
"Iya-iya, ini juga sudah pelan-pelan kok," ucap Hana yang mana kata yang diucapkan dan kelakuannya berbeda. Ia masih nampak makan dengan terburu-buru. Aku dan Sofia pun hanya bisa tertawa dengan hal itu.
"Oiya Lang, gimana sekolah mu?" tanya Sofia sambil sesekali meniup-niup sendok yang sudah berada di depan mulutnya.
"Sejauh ini baik-baik saja, kalau kamu?" tanya ku balik.
"Ya... Lancar-lancar juga," jawab Sofia.
"Kalau ekstrakulikuler mu juga lancar?" tanya Sofia lagi.
"Ya begitulah,lagi pula kak Jo sangat baik dan sangat membantu kami para anggota baru. Kami pun jadi sangat cepat beradaptasi dengan yang lainnya," jawab ku.
"Syukurlah kalau begitu hihihi. Oiya kak Jo kayaknya pernah ngomongin kamu deh, tapi kak Jo masih belum hafal nama mu," ucap Sofia lagi.
"Eh beneran? Kapan? Ngomongin tentang apa emang?" tanya ku penasaran.
"Kalau ditanya kapan, kayaknya waktu sehabis latih tanding yang pertama itu loh," jawab Sofia.
"Oh begitu, terus apa yang kak Jo bilang tentang ku?" tanya ku lagi yang masih dipenuhi rasa penasaran.
"Wah kak Jo keren yah, di samping ia bermain, ia juga bisa mengamati perkembangan anak-anak yang lain," ucap ku yang merasa kagum kepada kak Jo.
"Ya begitulah, kak Jo memang sudah sangat maniak kepada Sepak Bola. Mungkin sudah sejak ia SD," ucap Sofia lagi.
"Begitu ya, ngomong-ngomong kamu sudah kenal kak Jo sejak lama Sof?" tanya ku lagi.
"Mmm ya begitulah, memangnya kenapa Lang?" ucap Sofia.
"Gak papa, hanya saja kalian terlihat begitu dekat, jadi aku pikir mungkin kalian memang sudah kenal sejak lama," ucap ku dengan nada suara yang lumayan lirih.
"Ya tentu saja kami terlihat sangat dekat, kami kan memang saudara sepupu hehehe," Sofia tersenyum dengan cukup lebar.
"Eh saudara sepupu?" tanya ku agak ragu.
"Iya saudara sepupu, jadi aku sudah menganggap kak Jo seperti kakak ku sendiri, begitupun sebaliknya.
"Oh begitu ya, aku kira kamu dengan kak Jo berpacaran hehehe," entah kenapa aku menjadi merasa sangat lega ketika Sofia mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Pacaran? Hihihihi. Kok bisa kamu mengira aku berpacaran dengan kak Jo?" tanya Sofia lagi.
"Aku juga tidak tahu mengapa, tapi mungkin dari kedekatan kalian itu?" jawab ku dengan agak ragu.
"Hihihihi ada-ada aja kamu ini," ucap Sofia.
"Oi kak Sofi sama kakak jangan ngobrol terus, itu makanannya dimakan juga dong... Nanti keburu dingin tuh jadi gak enak," ucap Hana yang mengingatkan kami untuk segera menamakan seblak yang memang tanpa kita sadari kita tidak memakannya.
"Eh iya-iya. Kakak jadi lupa kalau lagi makan seblak hehehehe," ucap ku.
"Cie cie..." ucap Hana menggoda.
"Apaan sih Hana? Kok cie-cie?" tanya ku pada Hana.
"Kakak kelihatannya seneng banget sampe-sampe lupa makan. Kak Sofi juga sama hehehehe," lagi-lagi Hana menggoda ku dan Sofia.
"Apaan sih Hana," ucap Sofia yang entah kenapa terlihat sedikit tersipu.
"Sudah-sudah ayo kita cepat selesaikan makan kita, nanti keburu dingin loo," aku mencoba membuat suasana menjadi sedia kala dengan menirukan suara milik Hana.
***
"Wah enaknya seblaknya..." ucap Hana yang terlihat sangat puas dengan seblaknya.
"Wih cepet banget kamu habisnya," ucap ku.
"Iya tentu saja, kan aku gak sambil ngobrol kaya kakak weeee," ucap Hana sambil menjulurkan lidahnya.
Sofia hanya tersenyum melihat tingkah Hana itu.
"Yasudah kalau sudah selesai, cepat cuci tangan lagi sama sekalian cuci mulut," ucap ku.
"Siapp kaakkk," Hana lalu langsung pergi ke wastafel untuk melakukan apa yang aku katakan tadi.
"Makasih ya Lang..." ucap Sofia sesaat setelah Hana pergi ke wastafel.
"Eh kok makasih? Harusnya aku yang bilang begitu," ucap ku.
Sofia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berkata dengan lembut, "Engga-engga. Aku yang harusnya berterima kasih."
"Untuk apa?" tanya ku.
"Untuk hari ini. Awalnya aku kira aku hanya akan merasa kesepian di tengah kolam renang yang sangat ramai itu. Beruntung, aku bertemu kamu dengan adik mu. Rasa sepi yang aku bayangkan sebelumnya, tiba-tiba saja menghilang dan berganti dengan suasana yang menyenangkan. Aku juga jadi bisa sedikit merasakan bagaimana rasanya punya adik," ucap Sofia yang diakhiri dengan sebuah senyuman yang sangat menenangkan hati itu.
__ADS_1
***
Bersambung