
"Wah rasanya benar-benar enak nih tante," puji Ayu.
"Sebenarnya tante ga terlalu jago masak loh. Ini yang bikin masakannya rasanya enak itu gara-gara si Ruben yang bantu Tante hehehe," jawab ibu.
"Aduh tante jangan muji gitu, aku jadi gak enak hehe," ucap Ruben.
"Alahh dalam hati pasti kau sekarang girang banget kan? Ngaku aja lohh," timpal Ahsan.
"Sirik aja kau ini," ucap Ruben.
***
Selepas selesai makan, teman-teman ku pun berpamitan untuk yang kedua kalinya. Saat berpamitan yang pertama tadi mereka gagal karena harus makan malam terlebih dahulu di tempat ku. Kali ini, pamit mereka berhasil.
"Makasih tante atas makanannya. Maaf juga udah merepotkan. Untuk Galang, semoga cepat sembuh yah..." ucap Ayu.
"Engga ngrepotin kok. Tante malah seneng. Makasih juga udah mau jenguk Galang. Rasanya, ini baru pertama kali deh ada yang jenguk Galang hehehe," ucap ibu.
"Iya makasih Yu... Semuanya... Sekali lagi makasih," ucap ku.
Setelah itu, mereka semua langsung meninggalkan rumah. Tak berselang lama, mereka akhirnya menghilang seperti ditelan oleh gelapnya malam.
***
Pagi hari, keesokan harinya, Jumat 28 September, saat aku baru terbangun dari tidur ku, aku sudah merasa lebih baik dan sepertinya sudah bisa kembali bersekolah. Hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah sebelum UTS dimulai, jadi mungkin nanti siang akan ada semacam pembagian kartu dan jadwal UTS bagi para siswa.
"Kamu yakin Lang udah sembuh betul?" tanya ibu meyakinkan.
"Iya betul bu. Memangnya ibu tidak bisa membedakan aura ku hari ini dengan hari kemaren?" tanya ku.
"Ya sudah hati-hati yah. Jangan makan sembarang dulu di sekolah," ucap ibu.
"Oke bu... Kalau begitu aku pamit dulu yah... Aku berangkat," ucap ku sambil pergi meniggalkan rumah.
Walaupun baru satu hari aku tidak berangkat, akan tetapi entah kenapa rasanya seperti sudah lama saja. Aku pun sempat berpikir bahwa jangan-jangan ketika aku masuk kelas nanti, orang-orang sudah melupakan ku. Aku sungguh sangat khawatir tentang hal itu.
Langit pagi ini cukup membingungkan. Jika aku melihat ke arah sebelah barat, maka langit tampak begitu gelap. Namun ketika aku melihat ke arah selatan, tampak langit biru dan awan putih. Jadi, hanya dengan melihat langit di pagi ini saja rasanya sudah membuat ku bingung. Terlepas dari semua itu, ramalan cuaca mengatakan bahwa kemungkinan hari ini turun hujan adalah sebesar 20%.
***
__ADS_1
Sesampainya di depan kelas, aku tidak langsung masuk ke dalam. Melainkan aku berhenti sejenak sambil berdoa bahwa mereka tidak melupakan ku seperti apa yang aku pikirkan sebelum-sebelumnya. Sejujurnya, saat ini aku masih saja terus berpikiran tentang hal yang apabila itu terjadi pasti akan menjadi sangat buruk bagi kehidupan ku. Entahlah, lagi-lagi aku berpikiran tentang hal-hal yang gila lagi.
"Oiii Laaang. Wah kau sudah sehat yah," teriak Ruben sesaat setelah aku masuk ke dalam kelas.
Aku tidak langsung menjawabnya, aku lebih memilih untuk menghampirinya saja sambil meletakkan tas di meja ku dari pada harus berteriak dari depan sini.
"Ya, aku sudah merasa baikan sekarang," jawab ku saat aku telah meletakkan tas di meja ku.
"Pasti karena kemaren kami semua menjenguk mu jadi kau cepat sembuh. Hahaha," ucap Ruben.
"Mana ada seperti itu," timpal Ahsan.
***
Seperti yang aku duga sebelumnya, hari ini adalah hari dimana kita akan mendapatkan kartu UTS. Saat ini, Ayu selaku ketua kelas tengah mengambilkannya untuk kami. Di kartu UTS itu, nantinya juga akan tertulis jadwal UTSnya.
"Ke kantin yuk Lang," ajak Ruben.
"Ayo," jawab ku.
"Kau mau ikut gak San?" tanya Ruben lagi.
"Iya tunggu sebentar, tanggung ini," jawab Ahsan yang tengah memperhatikan layar ponselnya itu.
Ahsan tidak menjawabnya sehingga membuat Ruben menjadi semakin penasaran. Lalu, Ruben pun menghampirinya dan melihatnya sendiri apa yang tengah dilakukan oleh Ahsan tersebut.
"Kau lagi baca apa itu?" tanya Ruben.
"Kau tidak bisa lihat apa? Aku lagi baca berita bola nih," jawab Ahsan.
"Ohh berita bola yah, aku kira apaan hahaha. Sudahlah ayo kita ke kantin dulu saja. Baca beritanya kan bisa nanti saja," ucap Ruben.
"Diam kau, tadi itu cuma tinggal sedikit saja aku bacanya, makanya tanggung. Sekarang udah selesai nih. Ayo langsung kek kantin," ucap Ahsan.
Kami bertiga lalu langsung pergi menuju ke kantin.
"Oi Lang, aku mau tanya nih," ucap Ruben.
"Tanya apa Ben? Tanya aja," jawab ku.
__ADS_1
"Oi Ben, kau serius mau menanyakan hal itu kepada Galang sekarang?" tanya Ahsan.
"Tanya hal itu? Maksudnya hal itu?" tanya ku kebingungan.
"Bukan apa-apa kok Lang gak jadi hehe," ucap Ruben.
"Oi kenapa kau malah bilang begitu sih, aku kan jadi ragu," gumam Ruben pada Ahsan.
"Kan aku cuma tanya apakah kau sudah yakin mau menanyakannya?" gumam Ahsan.
"Ya karena kau bilang begitu aku jadi merasa ragu lagi," ucap Ruben.
"Dasar payah," timpal Ahsan.
"Haa apa kata mu?" ucap Ruben.
"Sebenarnya kalian sedang membicarakan hal apa sih? Sepertinya kalian seperti mengetahui suatu hal yang dirahasiakan dari ku," tanya ku lagi yang merasa semakin penasaran dengan hal yang tengah dibicarakan Ahsan dan Ruben tersebut.
"Heee benarkah kau merasa seperti itu? Mungkin hanya perasaan mu saja sih. Mana mungkin kami merahasiakan sesuatu dari mu. Ya kan San?" ucap Ruben dengan ekspresi yang sangat kelihatan sedang berbohong. Bahkan Ahsan pun sampai menepuk mukanya sendiri lantaran melihat raut wajah Ruben yang tidak bisa berbohong tersebut.
"Iy-ya hehehehe," ucap Ahsan yang pada akhirnya masih berusaha untuk menutup-nutupinya.
"Oh begitu yah," jawab ku yang berpura-pura percaya.
***
Di kelas, selesai dari kantin. "Oi kalian tadi lihat kak Dea gak?" ucap Ruben.
"Eh emang tadi ada kak Dea yah?" jawab Ahsan yang sepertinya tidak melihat orang yang tengah dibicarakan.
"Wahahahaha sayang sekali kau tidak melihat ya yah? Kalau kau Lang?" tanya Ruben lagi.
"Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, jadi aku tidak tahu yang mana orangnya," jawab ku.
"Wahhhhhhh kau gak tahu? Astaga Lang... Lang... Aku penasaran kau selama di sekolah ngapain aja sih?" ucap Ruben.
"Oi Ben, kenapa kau mengatakan seolah-olah kalau yang dilakukan oleh Galang itu salah? Bukannya memang di sekolah itu kewajibannya cuma belajar. Justru kalau dilihat dari substansi utamanya, Galang lah yang cocok mengatakan hal yang kau katakan tadi itu pada mu," ucap Ahsan.
"Eh gitu ya? Hahahaha. Pokoknya ya Lang, aku kasih tau. Kak Dea itu salah satu anak perempuan yang paling cantik disekolah ini," ucap Ruben dengan penuh antusias.
__ADS_1
***
Bersambung