
Ketika aku hendak membayar kalkulator itu di meja kasir, tiba-tiba saja aku merasa sangat terkejut. Hal itu dikarenakan bahwa ternyata yang menjadi kasir di toko ini adalah Risal, teman sekelasku yang selalu terlihat sendiri dan murung. Saat ini aku tidak tahu harus berkata apa padanya, apakah aku harus menyapanya atau harus bersikap seperti biasanya.
Aku lalu meletakkan kalkulator yang tadi aku ambil ke atas meja kasir tanpa mengatakan apa pun. Aku yakin, Risal pasti menyadari kalau aku ini adalah teman sekelasnya, akan tetapi Risal bersikap seolah-olah bahwa kita tidak saling kenal.
"Totalnya jadi 45 ribu," ucap Risal dengan nada seperti Kasir pada umumnya.
Aku lalu mengambil satu lembar uang pecahan 50 ribuan dari dompet ku untuk membayar tagihannya. Risal mengambil uang yang aku julurkan tadi dan langsung memberikan uang kembalian senilai 5 ribu. Di saat semuanya akan berakhir seperti kita tidak saling kenal, tiba-tiba saja Risal berkata, "Jangan dikasih tau siapa-siapa ya."
"Oh... Oke," jawab ku yang sedikit terkejut. Aku tidak menyangka pada akhirnya Risal akan berkata beberapa kata pada ku. Paling tidak itu tadi satu kalimat. Setelah itu aku dan Hana pun langsung keluar dari toko tersebut. Hawa panas langsung terasa masuk ke dalam tubuh setelah tadi beberapa menit berada di ruangan ber-Ac.
"Wah jadi kerasa panas banget ya kak," ucap Hana sedikit mengeluh.
"Iya nih, jadi kerasa banget," balas ku.
Di saat aku sudah akan menggowes sepeda ku, tiba-tiba aku ingat bahwa kalkulator tadi seharusnya sekalian di kasih bungkus layaknya kado pada umumnya. Karena saking fokusnya pada Risal, aku pun sampai-sampai lupa untuk menanyakan hal tersebut.
Aku kembali masuk ke dalam toko untuk menanyakan apakah di sini menyediakan layanan bungkus kado.
"Maaf Sal balik lagi, di sini apa bisa sekalian bungkus kalkulator ini dengan kertas kado?" tanya ku yang langsung menuju ke meja kasir.
"Bisa," jawab Risal singkat.
Aku pun lalu langsung memberikan kalkulator yang baru saja aku beli itu untuk kemudian di bungkus kotak kado. Risal dengan cekatan langsung mengambil kotak kado di bawah meja kasir dan segera membungkus kalkulator itu dengan sangat cepat dan hasilnya bagus. Aku pun tidak menyangka ternyata Risal sangat rapih sekali melakukan hal itu. Setelah selesai, Risal lalu kembali memberikan kalkulator itu yang kini sudah terbungkus rapih layaknya sebuah kado, pada ku.
"Berapa Sal jadinya?" tanya ku.
"Gak usah Lang, buat kamu gratis," ucap Risal.
"Eh beneran? Nanti tokonya rugi dong?" tanya ku memastikan.
"Aku yang bayar tenang," balasnya lagi.
__ADS_1
"Wah makasih banyak Sal, ya udah aku duluan yah. Adik ku sudah nunggu di luar soalnya," ucap ku.
"Oke Lang," balas Risal.
Ternyata Risal baik juga karena telah memberikan ku bungkus kado ini secara cuma-cuma. Aku baru tahu sisi lain dari Risal yang selalu terlihat sendirian itu.
"Kakak lama banget si?" ucap Hana yang sudah dari tadi menungguku di luar.
"Maaf maaf, ya sudah ayo kita pulang sekarang," balas ku.
Aku dan Hana kemudian menaiki sepeda dan langsung meluncur pulang.
"Mudah-mudahan ibu suka ya kak," ucap Hana.
"Iya, mudah-mudahan ibu suka," balas ku.
***
Dari sini, tampak beberapa pelanggan sedang melihat-lihat bunga untuk mereka beli. Mereka menciumi aroma bunga layaknya seperti sedang mencari parfum yang tepat.
"Hallo buuuu," ucap Hana ketika kami baru saja sampai di depan toko. Aku bahkan masih belum sempat untuk turun dan memarkirkan sepedanya.
"Eh Hana sama Galang sudah pulang, lama juga ya jam segini baru pulang," balas ibu yang terlihat sedang menulis sesuatu di buku tulisnya.
Hana kemudian langsung berlari menuju ibu dan langsung memeluk ibu erat-erat. Pelanggan-pelanggan yang tadi sedang sibuk memilih-milih bunga pun kini terlihat memperhatikan Hana dan ibu dengan cukup serius selama beberapa detik sebelum mereka kembali lagi memperhatikan bunganya.
"Kalian habis dari mana aja jam segini baru pulang?" tanya ibu dengan lembut.
"Tadi kami ketemu kak Sofia Bu di kolam renang. Terus setelah itu kami sekalian makan siang deh, jadinya agak lama hehehe," ucap Hana.
"Kak Sofia yang senyumannya manis itu yah?" tanya ibu memastikan.
__ADS_1
"Iya buuuuu, betull..." jawab Hana bersemangat.
"Wah kenapa engga kalian ajak sekalian aja ke rumah? Ibu entah kenapa jadi pingin bertemu dengannya hehehe," kini Ibu berbicara sambil sedikit tersenyum
"Wah tadi kak Sofi langsung pulang Bu setelah makan siang. Mungkin lain kali kita ajak kak Sofi makan malam aja hehehe," ucap Hana ikut tersenyum.
Seorang pelanggan kemudian terlihat mengambil bunga yang bewarna kuning cerah, dan meminta salah satu karyawati untuk memasukkannya kedalam buket. Aku tidak tahu nama dari bunga itu apa, tapi yang jelas warnanya sungguh indah dan sangatlah cerah.
"Ya sudah kalian istirahat dulu sambil lihat-lihat bunga, mau ibu buatkan teh sekalian?" tanya Ibu.
"Ga usah bu, biar aku sendiri saja yang membuatnya. Hana kamu mau sekalian tehnya?" ucap ku.
"Mau kakkk," teriak Hana.
"Okee. Oiya Bu ini ada hadiah dari ku untuk ibu. Aku tidak tahu ibu menyukai hadiahnya atau tidak, tapi mudah-mudahan saja ibu suka," aku mengambil bungkus kado yang tadi aku masukan ke dalam tas kemudian aku memberikannya pada ibu, entah kenapa tangan ku agak sedikit bergetar.
"Eh hadiah? Ada acara apa ini? Wah kalau kamu yang memberikannya, apa pun pasti ibu suka. Makasih banyak ya Lang," ucap ibu disertai wajah bahagia.
"Bukan acara apa-apa kok bu. Tadi sewaktu pulang, tiba-tiba aku dan Hana kepikiran untuk memberikan ibu sebuah hadiah," balas ku.
"Wahh makasih ya Lang. Hana juga makasihhh," ibu lalu memeluk Hana dengan erat.
"Syukurlah kalau ibu senang. Ya udah aku mau bikin teh dulu bu," aku lalu langsung menuju ke dapur toko untuk membuat teh.
Ternyata perasaan saat memberikan sesuatu pada orang lain sangatlah luar biasa. Meskipun barang yang diberikan itu biasa dan sederhana, akan tetapi jika diberikan dengan hati yang tulus maka barang tersebut menjadi memiliki nilai yang lebih dari pada aslinya. Nilai yang lebih berharga dadi mata uang mana pun.
Sekarang aku jadi teringat lagi tentang Risal. Jadi, yang dimaksud oleh Ruben dan Ahsan bahwa mereka bertemu Risal saat sedang menjadi kasir, ternyata berada di toko itu.
Meskipun aku belum mengetahui alasannya selalu menyendiri dan terlihat murung, akan tetapi aku tadi berhasil melihat sisi lain dari Risal yang ternyata memiliki empati yang bagus. Aku jadi semakin penasaran tentang masalah yang membuatnya selalu terlihat murung danenyendiri itu.
***
__ADS_1
Bersambung