Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 203 : PR Kimia


__ADS_3

Hari ini Selasa 16 Oktober, setelah sepulang sekolah, seperti yang sudah aku janjikan sebelumnya, aku membelikan bakso untuk Hana. Selain untuk Hana, aku juga sekalian membeli bakso untuk ibu dan para karyawan di toko bunga milik ibu. Jadi, total bakso yang aku beli sekarang ini ada 5 bungkus.


Saat ini, tangan kanan dan kiri ku ini sedang membawa tas kresek yang berisi bakso-bakso tersebut. Sebelumnya aku tidak berekspektasi kalau membeli 5 bungkus bakso bisa sedikit merepotkan seperti ini. Karena sudah terlanjur aku pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain membawanya dengan selamat sampai ke toko bunga nanti.


***


Sesampainya di toko bunga, aku lalu langsung memberikan bakso-bakso yang aku bawa ini pada ibu, Hana, dan para karyawan. Setelah itu, aku langsung pergi kembali menuju ke rumah.


***


Malam sekitar pukul 20.00, ponsel ku tiba-tiba saja bergetar tanda ada panggilan masuk. Aku yang sedang membaca buku novel pun lalu langsung menutup buku novel yang sedang aku baca dan langsung mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari Ruben.


"Hallo?" ucap ku saat baru pertama kali mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo Lang? Kau lagi apa?" sahut Ruben.


"Iya aku cuma lagi baca-baca novel, kenapa Ben tumben telepon jam-jam segini," jawab ku.


"Iya Lang soalnya ada hal yang mendesak nih," timpal Ruben.


"Hal mendesak apa?" tanya ku.


"Itu soal PR Kimia buat besok hehehe. Kau sudah ngerjain kan? Hehehe," ucap Ruben dengan sedikit tertawa kecil.


"Iya sudah," jawab ku.


"Aku boleh liat yah? Hehehehe. Kalau boleh aku langsung otw rumah mu nih," ucap Ruben agak malu-malu.


"Hmm aku kira apaan tadi. Ya sudah ke sini saja. Oiya aku sekalian titip minuman teh soda dingin satu ya," pinta ku.


"Okeeee siappp tuann," jawab Ruben dengan bersemangat dan lalu langsung menutup teleponnya.


***

__ADS_1


Sekitar 20 menit berselang, Ruben akhirnya sudah sampai di rumah ku. Saat ini, ia pun sudah berada di kamar ku untuk langsung memulai menyalin jawaban PR Kimia milik ku.


"Wah makasih banget ya Lang... Kalau bukan kepada mu, aku tidak tahu lagi harus minta tolong pada siapa. Oiya ini pesanan mu tadi," ucap Ruben sambil memberikan minuman pesanan ku tadi.


"Oh iya makasih. Berapa nih?" tanya ku.


"Oh ga usah Lang, ga usah... Itu sebagai ucapan terima kasih ku hehehe. Lagi pula aku tadi siang juga habis dapet uang lagi dari si Alex hehehe," ucap Ruben yang kini terlihat mulai mengeluarkan buku kimianya.


"Dari Alex? Kau masih melakukan menjadi pesuruhnya?" tanya ku langsung to the point.


"Pesuruh? Wah kenapa kata itu terdengar begitu menyedihkan yah hehehe," timpal Ruben.


"Lalu aku harus menyebutnya dengan sebutan apa?" tanya ku lagi.


"Apa yah? Mmm ya sudah deh terserah kau sajalah hahaha," ucap Ruben yang saat ini sudah mulai menyalin jawaban PR Kimia milik ku.


"Oiya ngomong-ngomong si Alex itu orangnya agak menyendiri yah?" tanya ku.


"Haa? Iya kah? Bukannya ia itu orangnya suka membuat onar yah? Tadi saja ia hampir ribut sama Ayu gara-gara ga mau dimasukan ke dalam daftar piket," timpal Ruben yang masih terlihat terus mencatat.


"Tentu saja pada akhirnya Ayu yang memenangkan perdebatan itu dan pada akhirnya juga si Alex itu mau untuk masuk ke dalam daftar piket. Kalau tidak salah ia dapat jatah piket di hari Senin," jawab Ruben.


"Begitu ya..." jawab ku.


"Iya, tadi itu sebenarnya si Alex juga udah ngeluarin uang agar supaya ia terbebas dari kewajiban piket mingguan, tapi dengan tegas Ayu menolaknya dan mengatakan pada Alex bahwa masih ada beberapa hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. lalu setelah Ayu mengatakan hal tersebut, si Alex langsung diam dan menerima kewajiban piket mingguan tersebut," ucap Ruben lagi.


tok tok tok. Tiba-tiba saja pintu kamar ku ada yang mengetuk padahal kan pintu kamar ku sedang dalam keadaan terbuka.


"Ini Tante bawakan cemilan sama minuman," ucap ibu ku yang membawakan kami kue kering dan sirup jeruk dingin di atas baki yang sedang ibu ku bawa itu.


"Oh iya makasih tante hehe," timpal Ruben.


***

__ADS_1


Setelah sekitar 20 menit menyalin jawaban, akhirnya Ruben selesai juga. Raut wajahnya kali ini terlihat lebih lega dari pada saat pertama kali ia datang kemari tadi.


"Wahhhh akhirnya selesai juga. Ibu kimia itu kalau mengasih PR kadang gak kira-kira. Emangnya dia pikir PR kita itu cuma kimia doang apa? Sial, sial," gerutu Ruben.


"Tapi kan kau itu cuma menyalin jawaban orang lain kan?" timpal ku.


"Oi, perkataan mu itu terkadang menyakiti perasaan ku yang sangat sensitif ini loh..." timpal Ruben yang saat ini sedang duduk sambil menyandarkan tubuhnya itu ke tembok yang ada di belakangnya itu.


"Oiya ngomong-ngomong si Ahsan udah ngerjain? Tumben ia tidak datang bersama mu," tanya ku.


"Ahsan? Tadi aku udah menghubunginya tapi tidak ada balasan. Lagi pula sepertinya ia sudah tidur. Nanti kan ada pertandingan Liga Champion, ia pasti sedang menyimpan tidurnya sekarang agar nanti ia bisa bangun dan kuat untuk menonton pertandingan bola itu," jawab Ruben.


"Wah semangat juga yah Ahsan," timpal ku.


"Semangat apanya???" timpal Ruben.


***


"Aku pulang dulu ya Lang, makasih udah ngasih aku contekan hahaha. Besok kapan-kapan lagi aku pasti datang ke sini. Sampai jumpa besok yah," ucap Ruben yang lalu langsung pergi menuju ke sepedanya yang terparkir di depan teras rumah ku.


"Oh iya... Hati-hati," jawab ku.


Setelah Ruben pergi, aku lalu langsung kembali ke kamar ku untuk melanjutkan membaca novel yang sebelumnya sedang aku baca itu. Sambil membaca novel, sambil aku meminum minuman teh bersoda yang tadi aku titip dari Ruben. Rasanya pasti akan berlipat ganda nikmatnya.


Sesampainya di kamar, aku lalu langsung memutar lagu dari Green Day yang berjudul Last Night On Earth. Lagu ini sungguh nikmat jika didengarkan malam-malam begini. Apalagi sambil membaca buku dan menikmati sekaleng minuman teh bersoda. Hanya dengan membayangkannya saja, bisa membuat ku merasakan kenikmatannya.


Malam ini angin terlihat berhembus dengan cukup tenang. Seperti waktu yang terus menerus mengalir, tanpa pernah lelah sekalipun apa lagi berhenti. Suara-suara nyanyian katak dan serangga khas musim penghujan pun saat ini samar-samar terdengar karena saat ini aku sudah mulai memainkan lagu Last Night On Earth itu.


***


Tanpa terasa, malam sudah semakin larut. Sudah tak terhitung jumlahnya berapa kali aku memutar lagu Last Night On Earth itu malam ini. Aku pun lalu langsung mematikan lampu kamar ku dan bersiap-siap untuk tidur.


***

__ADS_1


Bersambung


***


__ADS_2