Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 183 : Aji Terlihat Semakin Murung


__ADS_3

Sejak hari dimana aku bertemu dengan mu,


Mimpi-mimpi buruk ku seakan sirna dengan sendirinya


Hingga nanti waktu kita akan bertemu lagi tiba,


Aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk mu


Sebuah lagu, yang orang-orang sebut itu dengan cinta.


Kini burung-burung kecil mulai berterbangan di langit.


Bersamaan dengan terbitnya mentari dari arah timur.


Seperti senyuman mu waktu itu, yang entah kenapa membuat ku jatuh cinta lagi dan lagi


Di dalam gelap sunyi kini aku menunggu


Menunggu sebuah cahaya harapan yang entah kapan datangnya


Meskipun hingga nanti salju putih musim dingin akan berganti dengan cerahnya warna-warni bunga-bunga di musim semi sekalipun,


Aku pasti akan tetap menunggu mu.


Bahkan, hingga waktu itu sendiri berhenti sekalipun.


Itulah sajak kedua yang aku baca dari buku. Di sajak yang kedua ini, entah kenapa aku merasakan suatu perasaan cinta yang sangat amat membara. Namun selain perasaan itu, aku juga merasakan lamanya penantian di tempat yang sepi dan sunyi yang coba disampaikan oleh sang penulis sajak tersebut. Lagi-lagi, aku sangat larut dalam alur sajak barusan.


Aku lalu menyeruput teh yang tadi masih hangat itu, akan tetapi saat aku menyeruputnya sekarang temperaturnya sudah tidak bisa dikatakan hangat lagi.


***


Tanpa terasa, matahari saat ini sudah mulai mengeluarkan sinarnya. Meskipun masih sembunyi-sembunyi, akan tetapi aku sudah bisa merasakan semangat yang disebarkan oleh sang Mentari tersebut.


Aku tidak ingat sudah berapa banyak sajak yang aku baca dari tadi. Hanya saja, satu-satunha hal yang bisa aku katakan adalah setiap sajak yang aku baca tadi, selalu berhasil membuat ku larut ke dalamnya hingga perasaan ku juga merasakan hal yang begitu emosional. Seakan-akan, seperti aku sendiri yang sedang dalam sajak tersebut.


***

__ADS_1


"Oi Ben kau mau tau salah satu ciri-ciri orang paling dikutuk di dunia ini?" ucap Ahsan pada Ruben yang juga entah kenapa membuat ku sedikit tertarik.


"Ciri-ciri orang paling di kutuk? Apaan tuch? Emang apa ciri-cirinya?" tanya Ruben penasaran yang juga sempat menirukan logat khas dari Ahsan.


"Salah satu ciri-ciri orang paling dikutuk di dunia adalah orang yang bikin orang lain penasaran, tapi pada akhirnya orang tersebut tidak mau memberitahukan kebenaran tentang hal yang membuat orang lain penasaran itu," jawab Ahsan.


"Maksudnya?" si Ruben tampak sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Ahsan barusan.


"Hadeu hadeuh. Salah orang aku rupanya. Ya udahlah. Gak usah definisinya lagi yah, tapi langsung ke contohnya aja," ucap Ahsan.


"Wah boleh tuh," timpal Ruben.


"Dengarkan baik-baik yah. Kalau sampai kau masih belom mengerti juga, aku sih gak bakalan mengulanginya lagi," ucap Ahsan.


"Oke, oke," timpal Ruben sambil sedikit mengangguk.


"Contohnya misal aku bilang begini: eh, ada berita heboh nich. Terus orang-orang kan akan jawab: wah berita apaan San? Nah terus aku jawab dengan seenak jidat bilang begini: eh gak jadi deng. Kira-kira orang-orang lain akan merasa mati penasaran gak tuh? Hahahaha. Kalau udah seperti itu, kan orang-orang yang sedang merasa begitu penasaran akan mulai mengutuk-ngutuk aku kan? Hahahaha. Paham gak kau?" ucap Ahsan.


"Oh begitu... Tentu saja paham lahhh," jawab Ruben.


"Widihhh tumben kau langsung paham. Eh iya, coba lihat Aji tuh, bukannya tambah semangat, malah sekarang terlihat semakin murung yah? Bibirnya aja sampe pecah-pecah gitu. Ya ampun Aji, kasian banget," ucap Ahsan.


"Haaa? Apa-apaan tuch," timpal Ahsan.


Mendengar percakapan mereka yang tiba-tiba kembali membahas Aji, aku pun jadi ikut memperhatikannya. Ahsan benar, Aji hari ini tampak lebih miring dari pada hari kemaren. Aku pun menjadi semakin penasaran kira-kira kenapa ia sampai terlihat seperti itu? Masalah apa yang sedang dihadapinya saat ini.


"Oi Ben, mending kau tanya Aji lagi aja sana. Siapa tau sekarang dia mau cerita," ucap Ahsan.


"Haaa? Kenapa aku? Kau saja sanaaa..." timpal Ruben.


"Percuma dong aku menyuruh mu kalau pada akhirnya aku yang melakukannya sendiri," jawab Ahsan.


"Dan kenapa juga kau menyuruh ku? Memangnya aku ini anak buah mu apa?" timpal Ruben.


***


Saat ini aku, Ahsan, Ruben, Fahmi, dan Calvin sedang berjalan menuju ke warung bakso milik ayahnya Sofia. Sebenarnya kami juga mengajak Aji, Renaldi, Tomi, dan anak laki-laki yang lainnya, akan tetapi cuma kami berlima saja yang pada akhirnya bisa pergi makan bareng bersama di warung bakso milik ayahnya Sofia.

__ADS_1


"Eh kalian pada sadar gak sih sifat Aji 2 hari ini berubah? Sekarang kayak jadi lebih pendiam gak sih?" buka Fahmi membuka percakapan.


"Tepat, 100 untuk mu Mi. Sebenarnya sudah dari kemaren kami membahas masalah ini. Namun, kami masih belum menemukan petunjuk apa pun tentang perubahan sifat Aji itu," jawab Ruben.


"Wah begitu yah? Justru aku pikir kalian yang akan lebih tahu, soalnya kan sifat Aji berubah tepat setelah pergi berlibur bersama kalian kan? Aku pikir telah terjadi sesuatu pada saat liburan tersebut yang mana mungkin melukai Aji atau semacamnya. Gimana? Kalian melihat ada hal atau peristiwa yang tidak mengenakan untuk Aji atau gak?" tanya Calvin lagi.


"Hmmm, sepertinya tidak. Bahkan sampai saat-saat setelah makan malam terakhir itu, aku lihat Aji masih seperti biasa. Namun, hanya saja memang setelah kita sampai di depan SMA, aku tidak terlalu memperhatikannya lagi," jawab Ahsan.


"Begitu yah...Hmmm," timpal Calvin.


***


Sesampainya di warung bakso, ternyata entah kenapa warung baksonya tutup. Ini adalah kali pertamanya aku melihat warung bakso ini tutup di hari biasa seperti ini.


"Ya ampun, kok bisa warungnya tutup," gumam Ruben.


"Hahaha bisa pas gini yah," timpal Calvin.


"Terus gimana nich?" tanya Ahsan.


"Gimana yah? Enaknya?" tanya Calvin.


"Kalau aku tahu, aku pasti tidak bertanya pada mu tadi. Bagaimana kau ini," timpal Ahsan.


"Hehehehe," Calvin hanya tersenyum.


***


Pada akhirnya, kami pun memutuskan untuk makan di tempat lain, yaitu di warung seblak yang terletak masih disekitar itu yang mana dulu pernah aku kunjungi waktu bersama Hana dan Sofia sewaktu habis renang . Untuk pertama kalinya, aku yang menyarankan tempatnya pada teman-teman yang lain. Saat ini, kami pun sudah berada di dalam warung seblak tersebut dan sedang menunggu makanan kami datang.


"Wah aku gak nyangka ternyata Gilang bisa tahu tempat seperti ini," ucap Calvin.


"Hahaha kadang-kadang Galang memang melebihi apa yang kita ekspektasikan padanya," timpal Fahmi.


"Soalnya, aku sebelumnya sudah pernah datang ke sini. Jadi, sejak saat itu aku mengingat tempat ini. Lagi pula, rasanya juga enak dan juga tempatnya juga nyaman," jawab ku.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2