
Setelah selesai makan, kami bertiga pun memutuskan untuk kembali ke rumah kami masing-masing. Kali ini kami tidaklah bertemu dengan Sofia di warung. Sepertinya dia sudah berada di rumahnya atau di suatu tempat lainnya.
Saat ini, langit sudah semakin gelap. Lampu-lampu sudah mulai dinyalakan. Para penjual yang tadi sore masih cukup ramai berjajar di sekitar sini, kini sudah mulai sepi.
Aku dan Ruben kini masih berjalan di arah yang sama. Setidaknya, sampai dia belok ke gang rumahnya. Sementara itu Ahsan sudah duluan, karena ia menggunakan sepeda.
"Sampai besok Lang," Ruben berbelok ke gang sambil melambaikan tangannya pada ku.
"Yaa," jawab ku.
Aku memandangi dalam-dalam setiap jalan yang ada di depan ku. Saat aku memandanginya dalam-dalam, entah kenapa jalan yang berada di depan ku seakan-akan bergerak tak karuan. Aku tidak tahu apakah mereka benar-benar bergerak seperti itu, atau hanya imajinasi ku saja? Entahlah.
Aku kini mempercepat langkah kaki ku. Tiba-tiba saja aku ingin segera cepat sampai di rumah dan segera beristirahat.
Di saat aku sedang berjalan agak cepat itu, di persimpangan jalan depan sana, aku melihat segerombolan orang yang tengah berkerumun. Aku tidak tahu mereka berkerumun untuk apa.
Saat aku mulai mendekati persimpangan jalan tempat orang-orang berkerumun, ternyata di situ telah terjadi sebuah kecelakaan lalu lintas. Aku melihat seorang laki-laki yang mungkin beberapa tahun lebih tua dari ku sedang duduk lemas di pinggir jalan sambil masih mengenakan helm di kepalanya. Jaketnya robek dan lecet sana sini. Lututnya terlihat terluka cukup parah.
Di tempat kejadian, hanya ada satu sepeda motor yang tergeletak dengan kondisi yang cukup parah. Sepertinya itu adalah sebuah kecelakaan tunggal.
Aku melihat lagi ke arah pemuda itu. Ia kini terlihat bangkit dari duduknya dan berpindah tempat duduk. Salah satu orang-orang yang sedang berkerumun tersebut terlihat memberikan pemuda itu segelas teh. Dari raut wajahnya, sepertinya pemuda itu masih shock atau semacamnya.
Aku sendiri masih belum tahu apa penyebab kecelakaan yang menimpa pemuda itu. Mungkinkah ia kehilangan fokus saat langit sudah semakin gelap tadi? Entahlah. Aku terus melanjutkan perjalanan ku menuju rumah tanpa berhenti.
***
Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan setelah itu langsung beristirahat sejenak di kamar ku sebelum makan malam dimulai. Hari ini, Hana dan Ibu pulang lebih dahulu dari pada aku.
Aku membaringkan badan ku di kasur sambil memejamkan mata. Aku masih terbayang tentang pemuda yang terjatuh tadi. Aku belum pernah sekalipun merasakan kecelakaan seperti itu. Maksud ku terjatuh dari motor atau semacamnya. Jangan untuk terjatuh dari motor, mengendarainya saja aku belum pernah.
Sejujurnya, ibu melarang ku untuk mengendari sepeda motor sampai usia ku memenuhi syarat untuk membuat SIM. Namun, mungkin aku tidak akan pernah mengendari motor. Entah kenapa, aku sedikit trauma dengan kendaraan yang satu itu. Bahkan, hanya dengan mendengar namanya saja terkadang membuat ku merinding dan semacamnya.
Selain sepeda motor, aku juga takut sekali di ruangan yang berada di dasar sebuah bangunan yang besar, misalnya di basemen sebuah hotel, mall, atau bangunan besar lainnya. Entah kenapa, setiap kali aku berada di ruangan yang seperti itu, rasanya bangunan tersebut akan benar-benar runtuh dan menimpa ku. Tak hanya itu, berada di under pass sebuah jalan juga membuat ku merasa takut dan semacamnya.
"Kakkk makan malam sudah siappp," teriak Hana dari balik pintu kamar ku.
__ADS_1
"Iya... Kakak akan segera turun... Sebentar lagi," ucap ku yang masih merasa ingin berbaring di kasur.
"Jangan lama-lama lohhhh," teriak Hana lagi.
"Iyaa..." jawab ku.
Aku memejamkan mata ku kembali untuk beberapa saat. Entah kenapa, saat ini rasanya sangat nyaman sekali. Rasanya, aku seperti akan tertidur. Semakin lama aku memejamkan mata, semakin sulit juga untuk membukanya. Apakah aku sedang mengantuk kali ini? Aku juga tidak terlalu yakin dengan apa yang sedang aku rasakan kali ini. Apakah aku benar-benar mengantuk, ataukah aku hanya sedang lelah saja? Entahlah.
***
Tok tok tok. Aku mendengar suara pintu kamar ku sedang diketuk sebelum aku benar-benar tersadar. Pada akhirnya, aku ketiduran dan tidak tahu pukul berapa sekarang. Sorot lampu kamar, terlihat begitu menyilaukan saat aku baru saja membuka kembali mata ku.
"Galang... Lang...?" panggil ibu ku dari balik pintu itu diselingi suara ketukan pintu.
"Oh iya bu..." jawab ku dengan suara khas bangun tidur.
Aku lalu langsung membuka pintu kamar ku itu.
"Kamu ketiduran kah?" tanya ibu.
"Ya sudah sana cepat habiskan makan malam mu," ucap ibu yang lalu langsung kembali turun ke lantai satu.
"Iya bu," aku mengikuti ibu ku turun ke lantai satu dan langsung menuju ke meja makan.
"Hana dimana bu? Sudah tidur?" tanya ku.
"Iya udah tidur. Tadi ia nunggu kamu lumayan lama," ucap ibu.
"Ngomong-ngomong sekarang jam berapa?" tanya ku yang masih belum mengetahui pukul berapa sekarang.
"Setengah sembilan Lang," ucap ibu yang lalu duduk di meja makan.
"Eh setengah sembilan? Lama juga ya aku tidurnya," aku kini ikut duduk di meja makan.
Aku lalu mulai mengambil nasi dan lauk pauk yang telah dimasak oleh ibu ku. Ada telur dadar, sayur asem, dan sayur tahu.
__ADS_1
Kali ini aku mengambil nasi dengan porsi yang cukup banyak. Entah kenapa setelah tersadar penuh, aku jadi semakin lapar dari sebelumya. Aku pun mulai menyantap makanan yang baru aku ambil ini dengan lahap dan cukup cepat.
Ibu ku menatap ku dengan tatapan yang cukup berbeda dari biasanya. Tatapannya itu adalah seperti tatapan seseorang yang sedang merasakan kerinduan.
Setelah selesai makan, aku langsung mengambil minum dan kembali duduk di kursi yang tadi aku duduki ketika makan. Ibu masih berada di hadapan ku dan duduk dengan tenang. Meskipun dari tadi ibu duduk di depan ku, akan tetapi ibu hanya diam dan menatap ku saja.
"Enak Lang?" ibu ku kini bersuara setelah dari tadi hanya diam.
"Enak bu," jawab ku setelah aku selesai minum.
"Syukurlah," ibu ku sedikit tersenyum.
"Masakan ibu kan selalu terasa enak bu," aku ikut tersenyum.
"Kamu bisa aja hahaha," ibu ku tertawa mendengar ku mengucapkan kalimat tadi.
Setelah itu, ibu ku mulai membereskan piring-piring kotor dan bersiap-siap untuk mencucinya. Kali ini, aku rasa aku akan membantu ibu ku mencuci piring. Rasanya, sudah cukup lama aku tidak membantu ibu seperti ini.
"Biar aku saja bu yang mencuci piring-piring ini," ucap ku.
"Tapi ini lumayan banyak loh Lang?" balas ibu.
"Ga papa bu, sekali-kali tidak apa-apa," ucap ku lagi.
"Tapi ibu rasa engga sekali-kali deh Lang. Kamu kan sering bantu ibu cuci piring," ucap ibu lagi.
"Itu bukan apa-apa kok," ucap ku.
"Ya sudah. Kita kerjakan berdua saja ya hihihi," ibu ku tersenyum,"
"Okee," aku ikut tersenyum.
***
Bersambung
__ADS_1