
Rabu, 3 Agustus. Hari ini, tepatnya sore nanti, aku akan mengikuti ekstrakulikuler pertamaku di SMA. Menurut jadwal, ekstrakulikuler Sepak Bola akan dilaksanakan setiap hari Rabu pukul 16.00. Maka dari itu, pagi ini aku sudah sekalian membawa baju ganti di tasku. Tak ketinggalan aku juga membawa sepatu Sepak Bola yang baru aku beli dua hari yang lalu bersama Ahsan dan Ruben.
Alasan aku membawanya sekarang adalah tentu saja agar aku nanti tidak perlu lagi kerumah untuk mengambil perlengkapan tersebut, akan tetapi aku bisa langsung menuju ke lapangan tempat ekstrakulikuler dilaksanakan. Walaupun tas ku jadi sangat penuh, akan tetapi itu lebih baik dari pada harus bolak balik untuk mengambilnya.
"Aku berangkat," ucapku sambil melambaikan tangan. Hari ini, akhirnya aku bisa kembali berangkat bersama Hana. Kebetulan juga, Hana hari ini tidak berangkat bersama teman-temannya.
Berbeda dengan kemarin, langit di pagi ini sangatlah cerah. Hujan yang turun beberapa jam kemarin, terlihat mengubah warna rerumputan di samping kanan-kiri jalan. Rumput yang tadinya tampak kering, pagi ini terlihat lebih hijau dan hidup.
"Kakak akhir-akhir ini sering pulang malam yah," ucap Hana sambil terus menatap ke depan.
"Oh iya hehe, entah kenapa kakak akhir-akhir ini ada urusan mendadak," balasku dengan sedikit tersenyum.
"Hana senang akhirnya kakak punya banyak teman," ucapnya lagi yang kini mulai tersenyum.
"Kakak juga tidak menyangka bisa mendapatkan banyak teman, yang pasti mereka adalah orang-orang yang baik."
"Syukurlah, Hana bahagia kalau kakak bahagia hehe," Hana tersenyum, kali ini ia benar-benar menunjukkan raut muka yang bahagia.
***
__ADS_1
Sore pukul 15.40, aku sudah berada di samping lapangan tempat ekstrakulikuler Sepak Bola akan dilaksanakan. Masih ada sekitar 20 menit lagi hingga ekstrakulikuler dimulai. Karena semalam hujan, kondisi lapangan saat ini masih ada beberapa titik yang masih becek.
Aku dengar, klub Sepak Bola SMA ini adalah salah satu yang terbaik di tingkat kota. Bahkan tahun lalu mereka hampir saja lolos ke turnamen tingkat provinsi, hanya saja mereka kalah di final tingkat kabupaten/kota.
Lapangan sepak bola ini, terletak persis di sebelah barat gedung sekolah kami. Fasilitas sekolah kami cukup lengkap untuk bidang olahraga. Tennis, Basket, Futsal, Voli, Bulutangkis, semuanya tersedia di SMA ini. Hari ini, jadwal ekstrakulikuler Sepak Bola berbarengan dengan ekstrakulikuler Voli dan Basket. Jadi, nanti aku juga akan bisa melihat mereka latihan.
Aku mulai memakai sepatu sepak bolaku yang baru aku beli dua hari yang lalu bersama Ahsan dan Ruben. Ngomong-ngomong soal mereka, aku penasaran mereka sedang berada dimana saat ini. Tadi setelah pulang sekolah, mereka bilang ingin pergi membeli minum, dan menyuruhku untuk langsung pergi ke lapangan saja. Akan tetapi, hingga saat ini mereka belum juga datang.
Seharian tadi, Ruben mendapatkan hukuman berupa menjadi pembantu Ahsan. Ini terjadi karena kemarin Ruben kalah taruhan dari Ahsan soal akan turun hujan atau tidak. Ruben disuruh Ahsan untuk membeli ini, dan itu. Seperti biasa, mereka juga terlihat beberapa kali berdebat selama seharian tadi.
Dari kelas kami, aku dengar ada lima anak yang ikut ekstrakulikuler Sepak Bola yaitu aku, Ruben, Ahsan, Aji, dan Renaldi. Dan hingga saat ini, aku masih belum melihat kehadiran mereka di sini.
Setelah aku selesai memakai kedua sepatuku, akhirnya Ahsan dan Ruben datang. Mereka terlihat sudah kecapean saat tiba di sini. Mungkin mereka habis melakukan lomba lari atau semacamnya.
"Sebentar lagi jam empat loh, lebih baik kalian segera memakai sepatu kalian," ucapku sambil berbalik menghadap mereka yang tampak masih kelelahan.
"Sial, gara-gara Ruben aku jadi sudah kelelahan begini," gumam Ahsan sambil mulai mengambil sepatunya yang berada di dalam tasnya.
"Haa? Kenapa gara-gara aku? Bukannya kau duluan yang memulainya?" protes Ruben. Baru saja sampai, mereka sudah terlihat akan berdebat lagi.
__ADS_1
Sementara mereka sudah mulai berdebat, siswa-siswa lain mulai berdatangan. Mulai dari kelas 10 hingga kelas 12. Aku mengamati anak-anak yang baru datang itu. Aku penasaran apakah Tora ikut ekstrakulikuler Sepak Bola juga atau tidak ya. Tapi sepertinya ia tidak menyukai Sepak Bola. Jadi, mungkin kemungkinannya kecil.
Tepat jam empat, suara peluit yang nyaring pun terdengar begitu jelas, "Priiiiiitttt". Setelah mendengar bunyi peluit tadi, kami semua segera berkumpul agak melingkar di sekitar sumber bunyi tersebut.
"Selamat sore semuanya, saya ucapkan selamat bergabung kepada para anggota baru kelas 10. Perkenalkan nama saya adalah Bimo Pamungkas, biasa dipanggil pak Bimo. Saya yang akan menjadi pembimbing kalian di ekstrakulikuler Sepak Bola ini," ucap pria yang bertubuh cukup besar dan tinggi. Dari raut wajahnya, sepertinya agak familiar. Aku seperti pernah melihatnya tapi aku tidak yakin.
"Mungkin untuk pertemuan pertama tidak akan terlalu banyak menu latihannya. Hari ini kita akan berfokus pada pembagian posisi untuk anggota baru dan juga pemulihan stamina setelah kita libur cukup panjang," lanjutnya.
"Sekedar informasi tambahan, saya selain menjadi pembimbing dari ekstrakulikuler Sepak Bola, saya juga adalah guru Olahraga di sekolah ini. Tepatnya saya mengajar kelas 11. Saya juga mempunyai kakak yang sama-sama jadi guru di sekolah ini, yaitu pak Budi. Mungkin cukup perkenalan tambahan dari saya, selanjutnya silahkan membuat barisan sesuai kelas kalian yah, kelas 10, 11, dan 12. Priiiiit," perkenalannya diakhiri dengan tiupan peluit yang melengking. Pantas saja raut wajah pak Bimo agak familiar, ternyata memang dia adik dari pak Budi. Sekarang aku jadi yakin bahwa kenapa aku merasa familiar, karena memang ternyata wajah mereka cenderung mirip.
Lalu kami pun melakukan seperti apa yang pak Bimo perintahkan. Kami mulai membuat barisan sesuai tingkatan kelas kami masing-masing. Setelah kami selesai membuat barisan, kami pun disuruh untuk berlari mengelilingi lapangan sebanyak satu kali.
"Priiiiit," suara peluit menandakan kami sudah mulai berlari mengelilingi lapangan. Kami berlari dengan kecepatan yang pelan. Pak Bimo pun terlihat ikut berlari bersama kita.
Disaat sedang berlari pelan, aku melihat ke arah lapangan Basket dan Voli yang juga terlihat sedang melakukan aktivitas ekstrakulikuler. Aku melihat pak Budi yang sedang membimbing ekstrakulikuler Voli. Sementara untuk pembimbing ekstrakulikuler Basket, aku belum mengetahui namanya. Mungkin beliau adalah guru Olahraga untuk kelas 12. Entahlah.
Setelah selesai melakukan lari keliling lapangan, kami pun diberi waktu sekitar sepuluh menit untuk istirahat sejenak sebelum pembagian posisi untuk anggota baru dimulai.
***
__ADS_1
Bersambung