Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 34 : Malam Bulan Purnama


__ADS_3

Taman yang tadinya cukup ramai oleh anak-anak, kini perlahan-lahan mulai sepi. Langit yang tadinya masih terang, kini pun sudah redup dan menggelap. Lampu-lampu taman mulai bernyalaan. Angin yang tadinya terasa sejuk, kini perlahan menjadi lebih dingin. Suara kicauan burung pun menjadi pelengkap turunnya senja di sore ini.


Meskipun langit sudah menggelap, akan tetapi belum ada tanda-tanda Cindy akan beranjak dari situ. Dia kini pun melihat ke langit memperhatikan bintang-bintang yang sudah mulai bermunculan. Ia lalu mengangkat tangannya seperti sedang menggambar di langit.


Aku sebenarnya ingin menyapanya sekarang, akan tetapi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan setelah menyapanya. Aku pun berpikir sejenak. Akhirnya aku punya ide untuk mengundangnya saja ke acara seni di sekolahnya Hana. Lagi pula dia juga kan memang kenal dengan Hana.


Aku lalu berjalan perlahan menuju ke arahnya. Ke arah pohon besar itu.


"Selamat malam Cin," ucapku saat sudah berada di sampingnya. Ia saat itu sedang memandangi langit dengan dalam.


"Eh Galang? Selamat malam juga. Kamu di taman juga dari tadi?" jawabnya dengan raut muka terkejut.


"Eng-engga kok, aku kebetulan lewat sekitar sini terus aku lihat kamu di sini. Oiya besok hari Minggu kamu ada acara gak?" Aku bicara dengan gugup.


"Engga ada, emang kenapa?"


"Besok hari Minggu pukul 08.00 Hana ada acara kesenian di sekolahnya. Aku diminta untuk mengundang teman-temanku untuk sekalian menontonnya juga. Tapi, Ahsan sama Ruben sudah ada acara hari Minggu besok. Jadi, aku berniat mengundangmu untuk datang. Lagi pula kamu juga sudah berteman dengan Hana. Gimana kamu bisa ga?"


Cindy tersenyum lalu berkata, "bisa kok, aku pasti datang."


"Wah Hana pasti akan senang hehe," aku ikut tersenyum.


Setelah itu, aku dan Cindy mengobrol ringan. Hingga aku pun kembali penasaran kenapa waktu itu ia menangis sendirian. Aku pun mencoba untuk memberanikan diri untuk bertanya padanya.


"Cin?" tanyaku lirih.


"Ada apa Lang?" jawab Cindy sambil memandangku.


"Aku boleh tanya sesuatu?"


"Tanya apa?"


"Waktu itu kamu menangis sendirian di tempat ini. Kalau boleh tau kenapa waktu itu kamu menangis? Waktu itu saat aku menghampirimu kamu tidak berkata apa-apa. Bahkan sampai kamu pulang pun kamu tidak berkata apa-apa. Keesokan harinya pun demikian. Kamu bersikap seperti biasa, seolah-olah tidak terjadi apapun. Aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kalau kamu mau, kamu bisa cerita padaku."

__ADS_1


Cindy yang tadi memandang ke arahku, kini langsung memalingkan wajahnya lalu sedikit menunduk. Dari sorot matanya kini memancarkan kesedihan.


"Tapi kalau kamu tidak mau certia tidak apa-apa kok Cin. Tidak usah memaksakan dirimu jika memang tidak bisa. Aku minta maaf kalau malah membuatmu sedih lagi," ucapku lagi setelah melihat raut mukanya yang kini berubah menjadi sedih lagi.


"Engga kok Lang, ga perlu minta maaf. Aku saja yang memang cengeng. Yasudah aku mau pulang dulu sudah gelap juga. Sampai bertemu hari Minggu nanti ya Lang," Cindy lalu pergi dan masih menyimpan kesedihannya seorang diri. Aku merasa sedikit bersalah karena mungkin membuatnya merasa sedih lagi. Tapi sejujurnya aku hanya ingin membantunya.


***


Bulan purnama sedang menampakkan dirinya di Angkasa. Aku memandanginya dengan penuh ketakjuban. Aku terpesona dengan sinarnya yang indah dan tidak menyilaukan mata. Keindahan malam seakan menjadi sangat nyata bila bulan purnama sedang menampakkan dirinya.


Apalagi, sambil menikmati secangkir cokelat panas. Dinginnya malam pun akan terasa hangat.


"Wah bulannya indah banget ya kak?" ucap Hana sambil menunjuk bulan penuh yang sedang bersinar itu.


"Ya tentu saja hehe," ucapku sambil tersenyum.


Malam ini, aku dan Hana sedang menikmati pemandangan langit malam dari balkon samping kamarku.


"Eh benarkah? Di sebelah mana? Kakak tidak melihatnya hehe," jawabku sambil mencari bintang yang jatuh itu.


"Yah sayang banget kakak gak liat. Tadi tuh cepet banget jatuhnya," ucap Hana sedikit kecewa.


"Iya yah kakak kurang beruntung haha," balasku sambil tertawa.


"Ngomong-ngomong kamu sudah siap belum buat penampilanmu besok Minggu?" lanjutku bertanya.


"Tentu saja aku siap. 1000 persen aku siap," jawabnya dengan percaya diri.


"Haa 1000 persen? Apa-apaan itu? hahahaha," aku mulai meledeknya.


"Artinya Hana sudah lebih dari siap, kakak gimasih gitu saja ga paham," Hana balas meledek.


"Oh begitu ya, eh ada bintang jatuh lagi tuh," Aku mencoba untuk menjahilinya dengan mengatakan ada bintang jatuh lagi.

__ADS_1


"Eh beneran? Dimana kak? Dimana?" Hana mencari dengan serius bintang jatuh itu yang sebenarnya tidak ada.


"Wah kamu telat Hana," ucapku sambil menahan tawa.


"Kakak bohong ya?" Hana menatapku.


"Hahahahaha maaf maaf," aku tidak kuat lagi menahan tawa saat melihat raut wajah Hana yang sedang cemberut begitu.


"Dasaaaar kakak tukang boongg," Hana lalu memukul-mukulku pelan.


"Iya-iya sudah-sudah jangan memukul kakak lagi hahaha. Oiya besok Minggu kak Cindy akan datang lohh," ucapku sambil berusaha menghindari pukulan yang tidak terasa sakit itu.


"Eh beneran? Kak Ahsan sama kak Ruben Dateng juga gak?" Hana berhenti memukul.


"Iya beneran. Tadi kakak ketemu kak Cindy di taman. Kalau kak Ahsan sama kaka Ruben sudah ada acara duluan, jadi mereka gak bisa datang," jawabku.


"Oh begitu ya, yasudah gak papa. Makasih ya kak udah mau mengundang teman-teman kakak," Hana tersenyum senang.


"Sebenarnya Hana mau ngundang kak Cindy dari kemaren-kemaren saat bertemu kak Cindy di taman, tapi kak Cindy terlihat sedang bersedih jadi Hana tidak enak untuk mengajak kak Cindy datang ke acara pentas seni," lanjut Hana.


"Begitu ya, kamu tahu kak Cindy sedih kenapa?" tanyaku.


Hana menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.


"Hanya saja sudah satu mingguan ini setiap kali Hana liat kak Cindy di taman, kak Cindy pasti terlihat sedang bersedih. Setiap kali Hana menghampiri kak Cindy. Kak Cindy langsung tersenyum dan bilang kalau tidak apa-apa," lanjut Hana.


"Begitu ya, kakak juga sebenarnya ingin membantunya, tapi kak Cindy belum mau bercerita juga pada kakak," tambahku.


Kami berdua pun langsung kembali menatap ke langit. Bintang-bintang yang berjejer tidak beraturan itu, seakan sedang menari untuk menghibur penduduk kota yang sedang bersedih atau sekedar sebagai penghilang penat. Aku penasaran, kira-kira berapa banyak penduduk kota yang sedang menyaksikan 'pertunjukkan' bintang yah? Apakah Cindy juga sedang melihatnya? Apakah Sofia juga? Ruben dan Ahsan? Aku penasaran apa yang akan mereka lakukan pada saat malam bulan purnama seperti ini.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2