
"Oiya itu Cindy, ayo kita kesana saja," ucap Ahsan.
"Kalian kenal Cindy?" tanyaku pada mereka.
"Tentu sajalah, kita kan sekelas. Gimana sih gue? Eh elu maksudnya," balas Ruben.
"Maksudnya kalian udah akrab?" tanyaku lagi.
"Kita dulu satu SMP Lang. Bahkan saat kelas 7, aku, Ahsan, Cindy satu kelas. Jadi, kita udah lumayan akrab lah," ucap Ruben lagi.
"Yaudah ayo kita samperin dia," ucap Ahsan.
Kami pun segera bergegas untuk menghampirinya. Cindy sepertinya belum menyadari kehadiran kita saat kita berjalan menujunya. Cindy sangat fokus membaca buku yang sedang dipegangnya. Bahkan beberapa daun yang jatuh, hinggap di atas rambutnya yang panjang itu. Untuk beberapa saat, aku seperti melihat diriku sendiri pada dirinya.
Sampul buku yang sedang ia baca bewarna agak gelap bertuliskan "Wanita Terakhir dari Venus". Dari judulnya, sepertinya isinya menarik.
Di kelas, Cindy duduk tepat di sebelah kananku dan tepat di depan Ruben. Dia tidak terlalu aktif di kelas. Seringkali, ia hanya duduk di tempat duduknya sambil membaca buku atau novel yang ia bawa. Ia juga selalu membawa bekal dari rumah. Ia juga sering terlihat sendirian jika di kelas.
"Oi, kau sendirian aja Cin?" ucap Ruben seperti biasanya yang selalu blak-blakkan.
"Eh kalian, iya aku sendirian aja," balas Cindy sambil menutup bukunya. Ia pun segera menjatuhkan daun yang dari tadi berada di atas rambutnya. Suara terdengar lembut dan pelan.
"Boleh kami bergabung?" kali ini Ahsan yang bertanya.
"Boleh, silahkan," balas Cindy yang sekarang meletakkan bukunya di atas rumput.
Kami pun ikut duduk di bawah pohon yang cukup besar ini. Rasanya sangat sejuk duduk di bawah pohon pada waktu-waktu saat ini. Mungkin sekarang sekitar pukul 15.00. Waktu tengah-tengah antara siang dan sore.
"Kalian habis dari mana, tiba-tiba ada di taman seperti ini?" tanya Cindy.
"Kami habis dari... Vee... Venus," ucap Ruben sambil membaca judul yang ada di cover buku milik Cindy.
"Apa-apaan tuch? Emangnya kau tau Venus dimana?" ucap Ahsan.
"Haa? Kau meremehkan ku yah? Tentu saja aku tau. Sebenarnya kau menganggapku sebodoh apa sih?" balas Ruben. Sepertinya mereka akan memulai sebuah perdebatan lagi.
"Yakin kau tau? Coba dimana Venus itu?" balas Ahsan lagi.
"Pokoknya Venus itu planet luar angkasa sana," jawab Ruben.
"Tepatnya di sebelah planet apa?" tanya Ahsan lagi.
__ADS_1
"Apakah itu sesuatu yang penting? Aku sudah menjawabnya bahwa Venus itu berada di luar angkasa sana. Itu saja sudah cukup. Tak usah menambah hal-hal yang tak penting seperti itu," balas Ruben.
"Dari jawabanmu itu, kebodohanmu sangat jelas terlihat," ucap Ahsan.
Disaat mereka sedang berdebat, Cindy terlihat tertawa kecil. Mungkin bukan tertawa, tapi tersenyum tipis. Kawat gigi yang terpasang di giginya pun sekilas terlihat, apalagi lesung pipinya yang nampak begitu jelas.
"Kalian belum berubah yah," ucap Cindy sambil masih tersenyum sedikit.
"Haaa? Apa maksudmu? Tentu saja kami berubah, terutama aku," ucap Ruben dengan percaya diri.
"Tak usah hiraukan si bodoh itu Cin, nanti kau hanya akan membuang-buang waktumu," balas Ahsan.
Cindy lagi-lagi hanya terlihat tersenyum mendengar jawaban mereka.
"Kamu sering ke sini Cin?" tanya Ahsan.
"Ya cukup sering, jika sedang senggang aku sering menghabiskan waktu luang ku di sini sambil baca buku atau novel," jawab Cindy yang mana lesung pipinya sesekali terlihat.
"Berarti rumahmu dekat sini dong?" tanya Ahsan lagi.
"Ya dekat sekali malahan. Kalian lihat rumah bewarna oranye di seberang jalan sana? Itu rumahku," jelas Cindy.
"Wah berarti rumahmu dekat dengan Galang dong. Galang bilang rumahnya juga dekat sini," ucap Ahsan.
"Kamu tahu toko bunga 'Lily' ?" tanyaku.
"Oh iya tahu, rumahmu dekat situ?" tanya Cindy lagi.
"Rumahku tepat di samping toko itu," jawabku.
"Wah berarti kamu kakaknya Hana? Hana pernah cerita padaku kalau rumahnya di samping toko bunga 'Lily' itu," tanya Cindy lagi.
"I-iya aku kakaknya, kamu kenal Hana?" tanyaku lagi dengan sedikit terkejut.
"Iya, aku mulai mengenalnya sekitar satu tahun yang lalu. Waktu itu aku sedang duduk sambil membaca novel di bawah pohon ini, kemudian Hana dan teman-temannya datang. Setelah mereka bermain cukup lama, Hana menghampiriku lalu bilang bahwa aku terlihat mirip kakaknya yang suka sendirian dan membaca buku. Setelah pertemuan itu, aku dan Hana sering ngobrol atau bermain bersama jika kebetulan kita ketemu lagi di taman," jelas Cindy
"Oh begitu ya," balasku singkat. Aku sedikit terkejut bahwa Cindy bisa kenal dengan Hana.
"Wah tak kusangka kau punya adik perempuan Lang, ku kira kau anak tunggal," ucap Ruben.
"Ah iya, maaf aku belum cerita soal adikku pada kalian," jawabku.
__ADS_1
"Nanti malam kami mau makan malam di tempatnya Gilang, kamu mau ikut sekalian gak Cin?" tanya Ahsan.
"Maaf, sepertinya ga bisa. Nanti malam ada yang harus aku kerjakan. Mungkin lain kali aku bisa ikut."
"Wah sayang sekali ya, yasudah mungkin lain kali saja," balas Ahsan.
Setelah itu kami tidak mengobrol lagi untuk beberapa saat. Kami menikmati angin sepoy-sepoy yang menyejukkan.
Cindy kembali mengambil buku yang tadi ia letakkan, kemudian mulai membacanya lagi.
***
Langit sudah mulai gelap. Lampu taman sudai mulai menyala. Taman yang tadinya lumayan ramai, perlahan-lahan mulai sepi. Hanya tinggal beberapa orang saja.
Cindy yang dari tadi membaca, kini kembali menutup bukunya. Sepertinya sudah agak susah membaca dengan cahaya yang mulai meredup seperti sekarang ini. Tak lama setelah itu Cindy pun pamit.
"Teman-teman, aku duluan yah. Maaf tidak bisa ikut. Mungkin lain waktu, sampai jumpa," ucap Cindy sambil meninggalkan kami.
"Oh iya, gak papa. Hati-hati Cin...," ucap Ruben sambil melambaikan tangannya.
"Karena sudah tidak ada apa-apa lagi di taman, ayo kita ke rumahmu sekarang saja Lang? Biar tidak terlalu gelap sampai rumahmu," ucap Ahsan.
"Boleh, ayo," jawabku.
Lalu kami pun berdiri dan langsung bergegas menuju Rumahku.
***
Beberapa meter lagi, kita sampai di rumahku. Sepertinya sedang tidak orang di rumah, karena tidak ada lampu yang terlihat menyala dari sini.
Benar saja, ketika kami masuk rumah, belum ada satupun lampu yang menyala padahal langit sudah gelap. Mungkin Ibu dan Hana masih berada di toko.
Hal pertama yang aku lakukan di rumah adalah menyalakan lampu.
"Kalian tunggu di sini dulu ya. Aku mau menyalakan lampu rumah dulu," ucapku pada mereka di ruang tamu
"Oh iya, anggap saja rumah sendiri," ucap Ruben sambil mulai duduk di sofa.
"Oi kebalik Ben, seharusnya Galang yang bilang begitu," timpal Ahsan yang juga sudah terlihat duduk di sofa.
***
__ADS_1
Bersambung