
"Jadi... Tujuan ku mengundang kalian untuk berkumpul tadi adalah sebenarnya besok adalah hari ulang tahun Ahsan. Jadi, aku ingin kita membuat sebuah kejutan kecil untuknya, gimana?" ujar Ruben mengungkapkan maksud dan tujuannya.
"Wah ide bagus tuh Ben," balas Ayu.
"Jadi, besok kita mau bikin kejutan apa untuknya?" tanya Aji.
"Pantes Ahsan gak dateng, ternyata emang mau bikin kejutan ulang tahun untuknya yah hahaha," ucap Calvin.
"Mungkin bikin kue aja kali yah? Lagi pula waktunya juga sudah mepet. Kamu juga baru bilangnya sekarang, kalau dari kemaren-kemaren kan kita bisa mempersiapkan yang lebih mateng lagi," ucap Ayu lagi.
"Bikin atau beli saja?" tanya Calvin.
"Sepertinya mending beli aja deh ya, biar gak ribet hehehehe," ujar Erni.
"Iya, mending beli aja sekalian," tambah Agatha.
"Oke berarti fiks yah kita beli kuenya," timpal Ayu.
Kami pun lalu mulai berdiskusi tentang kejutan apa lagi yang akan kita berikan pada Ahsan. Banyak sekali ide-ide yang dikemukakan, akan tetapi masih belum ada ide yang benar-benar pas. Kami pun sangat menikmati saat-saat seperti ini. Dimana kita saling berbincang dan menjadi semakin akrab. Suasana yang hangat pun begitu terasa di ruangan ini. Suasana yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Aku iseng-iseng melihat ke arah Cindy. Ia duduk di sudut yang bersebrangan dengan ku. Jadi, sangat mudah untuk melihatnya dari sini. Cindy terlihat begitu menikmati suasana sekarang ini. Ia berulang kali tersenyum, bahkan tertawa mendengar ide-ide "gila" teman-teman yang lain. Rasanya, baru pertama kali ini aku melihatnya tertawa lepas seperti itu. Hanya dengan melihat raut wajahnya yang bergembira seperti itu, entah kenapa aku merasa jauh lebih bahagia lagi dari sebelumnya.
Detik demi detik, menit demi menit, tak terasa sudah hampir satu jam kami berada di rumah Ruben dan masih belum memutuskan kejutan apa yang akan kita berikan. Ide-ide yang diutarakan terasa begitu sulit untuk disiapkan dalam waktu kurang dari satu hari ini. Kami pun masih mencari-cari ide yang pas dan bisa dipersiapkan dengan cepat.
Di saat kami sedang berdiskusi, tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu, tanda seseorang datang. Ruben yang mendengar hal itu pun langsung pergi menuju ke depan untuk memeriksa siapa orang yang datang itu. Rasanya, baru pertama kali ini ada orang yang datang ke rumah Ruben.
Saat ini, ide yang sudah di terima dan sementara di pakai adalah ide yang sederhana. Yaitu kita hanya akan memberikan Ahsan kue ulang tahun dan lalu memberinya sebuah kado masing-masing dari kami. Jika ide itu yang nantinya akan dipakai, kira-kira kado apa yang akan disukai Ahsan ya? Aku benar-benar belum memiliki ide apa pun tentang itu.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya kami ketika Ruben kembali ke ruang tengah dengan seseorang yang tadi baru saja datang ke rumah ini. Ternyata orang yang tadi mengetuk pintu itu adalah Ahsan. Rasanya sungguh amat canggung sekarang ini. Kira-kira Ahsan sudah tahu atau belum yah?
"Ada acara apaan nich? Kok rame sekali," ucap Ahsan yang baru saja datang itu.
"Gak ada acara apa-apa kok, gak lagi bahas acara ulang tahun juga, kita cuma kebetulan aja mampir ke sini hehehehe," jawab Wita dengan muka sangat panik.
"Haaa? apa-apaan tuch?" timpal Ahsan dengan logat khasnya.
"Oiii Wita, kenapa kamu malah bilang ulang tahun..." bisik Ayu yang kini juga menjadi panik.
"Ehhh sori keceplosan," Wita tersenyum dengan tanpa dosa.
"Wah acara ulang tahun yah? Kenapa kalian enggak mengajak ku juga? Kalau begini, hati ku bisa tersinggung loh... Gini-gini hati ku itu sensitif..." Ahsan kini ikut duduk bersama kami. Ia duduk tepat di sebelah Aji sekarang.
"Jadi... Siapa yang mau ulang tahun?" ucap Ahsan dengan santainya.
"Tentu saja ulang tahun mu lah, siapa lagi," Ruben menepuk punggung Ahsan sambil tersenyum lebar.
"Haa? Ulang tahun ku? Kapan?" Ahsan terlihat heran.
"Tentu saja besok," Ruben masih memasang senyum lebarnya. Kami benar-benar tidak tahu apa yang sedang Ruben rencanakan, dan kenapa ia memberitahukan rencana pesta ulang tahun kejutan pada Ahsan.
"Haa? Aku ? Ulang tahun ? Besok? Aku benar-benar tidak mengerti. Kau sedang membodohi ku atau apa ha?" tanya Ahsan yang masih memasang wajah keheranan itu.
"Bukannya ulang tahun mu itu besok San? Sejujurnya kami ini sedang mempersiapkan pesta kejutan untuk mu San, tapi malah kau sudah datang hahahaha," Ruben kini tertawa lepas dan semakin membuat kami tidak mengerti, bahkan sekarang ia benar-benar mengatakannya dengan jelas.
"Jadi, ini semua ulah mu Ben? Mengumpulkan semua teman kelas untuk membahas tentang pesta kejutan ulang tahun ku?" tanya Ahsan lagi.
__ADS_1
"Ya tentu saja. Kau pasti bangga dan terharu kan, punya teman yang sangat peduli seperti ku ini? Hehehehe," Ruben bicara dengan nada sombong dan percaya diri sambil menoel-noel ujung hidung dengan jempol tangannya sendiri.
Ahsan lalu menepuk mukanya lalu mengusapnya ke bawah kemudian berkata, "Sebaiknya kau minta maaf ke semua orang deh sekarang."
"Haaa? Kenapa harus minta maaf? Bukannya kamu senang dengan akan adanya pesta dadakan tersebut?" ujar Ruben.
"Iya aku akan senang, tapi..." Ahsan menghentikan kalimatnya.
"Tapi apa? Tapi tidak bisa membalas kebaikan kami?" ujar Ruben lagi.
"Bukan, bukan itu," Ahsan menggeleng-geleng kan kepalanya.
"Lalu apa? Katakan yang jelas dong," desak Ruben.
"Jika aku katakan, justru aku akan sangat khawatir dengan kondisi mu Ben," ujar Ahsan sambil menatap ke arah Ruben.
"Haa? Kenapa jadi aku? Sudah lah katakan saja. Ga usah malu-malu seperti itu. Seperti bukan diri mu saja," ucap Ruben lagi.
Kami semua yang mendengar percakapan mereka berdua pun ikut menjadi bingung. Sebenarnya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kenapa Ahsan bersikap biasa-biasa aja?
"Teman-teman, sebelumnya aku minta maaf pada kalian atas kebodohan teman ku, Ruben. Entah dia dapat informasi dari mana tentang ulang tahun ku, tapi yang jelas... Yang jelas besok bukan lah hari ulang tahun ku. Ulang tahun ku masih di bulan Januari nanti," jelas Ahsan yang membuat suasana ruangan menjadi ternganga dan sedikit shock. Seisi ruangan pun kini menjadi hening dan senyap. Ruben kini terlihat sangat shock sampai-sampai mulutnya menganga seperti itu. Dia tahu, dia telah berbuat kesalahan yang cukup fatal kali ini. Mungkin Wita sebentar lagi akan marah padanya.
Sekarang, di dalam keheningan ini, semua siswa perlahan menatap ke arah Ruben dengan pandangan yang cukup "mengerikan". Sepertinya mereka akan memberikan sedikit "hadiah" padanya sekarang.
***
Bersambung
__ADS_1