Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 208 : Jika Sedang Makan Janganlah Banyak Bicara


__ADS_3

"Tapi apa woi?? Kalau ngomong jangan setengah-setengah gitu oi... Bikin penasaran aja..." ucap Ruben protes pada Alex.


"Lupakan saja, lagi pula bukan hal penting kok," timpal Alex dengan nada suara yang agak bergetar.


"Cih dasar aneh. Kau yang ngomong, tapi kau juga yang menyangkalnya, otak orang kaya memang sulit dipahami yah?" timpal Ruben.


Setelah itu, suasana kelas kembali hening. Saat ini, suara yang benar-benar terdengar dengan jelas hanyalah bunyi hujan yang mana terdengar semakin keras. Setelah mendengar percakapan antara Ruben dan Alex tadi, rasanya seperti ada yang sedang disembunyikan oleh Alex. Atau mungkin lebih tepatnya ada yang ingin dialihkan oleh Alex.


Aku tidak tahu jika hujan turun dengan deras hingga gelap, apakah aku harus memanggil ibu atau aku terobos saja hujannya. Rasanya, tidak enak kalau meminta ibu ku untuk datang menjemput ku. Namun, rasanya pasti akan begitu dingin jika aku nekat menerobos hujan di waktu yang sudah gelap nanti. Saat ini, aku benar-benar bimbang.


***


Akhirnya sekitar pukul setengah enam sore, hujan terlihat sudah mulai mereda. Kami yang masih terjebak di sekolah pun langsung bersiap-siap untuk pulang sebelum hujan kembali turun karena saat ini suara gemuruh masihlah sering terdengar dari atas sana.


"Oi orang kaya, ngomong-ngomong rumah mu dimana? Kenapa tadi bisa lewat jalan utama depan gang rumah ku?" tanya Ruben pada Alex.


"Bukan urusan mu aku mau lewat mana. Yang jelas aku memilih jalan sesuai apa yang aku mau," jawab Alex yang mana langsung berjalan keluar dari dalam kelas.


"Dasar anak orang kaya," gumam Ruben selepas Alex pergi.


"Aku duluan yah San, Ben," ucap ku yang kemudian ikut berjalan di luar yang mana sebenarnya masih agak gerimis kecil.


"Oh kau gak mau nunggu sampai benar-benar reda dulu?" tanya Ruben.


"Engga usah, begini saja sudah cukup, sampai jumpa besok," jawab ku yang mana saat ini sudah mulai berjalan di bawah rintik gerimis kecil. Karena masih gerimis, aku pun memakaikan penutup kepala hoodie ku ke kepala ku agar tidak terkena air hujan secara langsung.


Hoodie yang sedang aku pakai, adalah Hoodie yang aku beli sejak SMP kelas 3 dulu. Hoodie yang bewarna hitam gelap ini adalah Hoodie favorit ku. Selain masih cukup longgar, bahannya pun terasa begitu lembut dan juga sejuk saat dipakai. Di Hoodie yang sedang aku kenakan ini, tidak ada tulisan apa pun alias polos. Menurut ku Hoodie bewarna hitam dan polos adalah Hoodie yang sangat keren. Oleh karena itu, waktu itu aku lebih memilih Hoodie ini.


Di saat aku sedang melewati toko buku milik nenek Maria, tiba-tiba saja ada suara seorang gadis memanggil nama ku. Saat itu, aku sudah langsung tau siapa gadis yang memanggil ku tersebut. Tidak lain dan tidak bukan adalah Cindy yang memanggil ku dari balkon lantai dua toko

__ADS_1


Aku lalu langsung menoleh ke arah suara itu, "Eh Cindy, ada apa?" jawab ku agak berteriak agar supaya bisa di dengar oleh Cindy.


"Cepat ke sini dulu. Tunggu aku turun dulu," ucap Cindy yang mana langsung berlari.


Mendengar permintaan Cindy barusan, aku pun lalu langsung berjalan menuju ke toko buku tersebut. Aku lalu menunggu Cindy persis di depan samping pintu toko buku tersebut.


Kling. Bunyi lonceng pintu yang mana setelah itu Cindy keluar dari dalam toko untuk menemui ku.


"Ada apa Cin?" tanya ku yang masih belum tau alasan Cindy memanggil ku barusan. Entah ini cuma perasaan ku saja atau memang benar kalau Cindy tadi terlihat seperti sedang menunggu ku lewat.


"Ini, bawa dulu," ucap Cindy sambil memberikan sebuah payung hitam polos kepada ku.


"Eh payung?" ucap ku.


"Iya payung, saat ini kan masih gerimis. Ya walaupun cuma kecil, tapi kalau tiba-tiba hujan deras kan kamu jadi basah juga. Jadi, sebaiknya kau bawa dulu payung ku ini buat jaga-jaga. Lagi pula kata nenek ku hujan gerimis itu bisa membuat kepala mu itu pusing," ucap Cindy.


"Eh iya... Makasih..." jawab ku yang mana sebenarnya tidak tahu harus mengucapkan apa lagi padanya kecuali kata makasih tadi.


"Eh gak papa kok... Ini sudah lebih dari cukup. Lagi pula kamu tadi terlihat seperti sedang menunggu ku ya? Atau cuma perasaan ku saja?" tanya ku mencoba memastikan apa yang aku rasakan tadi.


"Eh... Mm... Bukan... Eh... Apa aku terlihat seperti itu?" tanya Cindy dengan muka yang sudah memerah.


"Bukan yah? Berarti cuma perasaan ku saja. Ya sudah aku pulang dulu yah. Sekali lagi makasih udah minjemin payung buat ku. Besok pasti akan langsung aku kembalikan. Dah... Sampai besok..." ucap ku yang lalu langsung pergi dari toko buku itu dan langsung menuju ke rumah.


***


Sampai di rumah, aku lalu langsung mandi dan ganti baju. Saat ini, ibu dan Hana masih belum pulang. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai rumah.


***

__ADS_1


Menu makan malam hari ini adalah telur ceplok balado yang mana baru saja matang ini. Telur ceplok balado adalah salah satu menu kesukaan ku. Dengan catatan rasanya harus tidak terlalu pedas.


"Wah kakak udah tambah aja nih," ucap Hana yang melihat ku kembali mengambil telur balado untuk yang kedua kalinya.


"Hehehe," aku hanya tersenyum menanggapi Hana.


"Wah kalau mau tambah, sekalian sama nasi dong... Jangan cuma telurnya aja... Huuu," ucap Hana lagi.


"Hana... Hayoo... Ingat kan kalau lagi makan ga boleh banyak apa?" tegur ibu.


"Bicaraaa heheeh... Iya maaf bu, Hana lupa hehehe," ucap Hana.


***


Pada akhirnya, aku menghabiskan tiga telur ceplok balado seorang diri. Namun, nasinya tetap satu piring.


Setelah selesai makan, aku lalu membantu ibu untuk mencuci piring bekas makan malam barusan. Rasanya, sudah cukup lama aku tidak membantu ibu mencuci piring seperti ini.


***


Malam ini, angin terasa begitu dingin. Hujan yang tadi sempat reda, kini kembali menjadi deras. Suara hujan yang jatuh ke genteng itu, terdengar begitu keras. Bahkan, untuk mendengarkan lagu pun aku sampai harus menggunakan earphone tadi.


Hujan yang sedang turun ini, terlihat seperti akan susah sekali reda. Mungkin hujan akan turun sepanjang malam, entahlah.


Di saat hujan tengah menjadi-jadi, tiba-tiba saja listrik padam. Terlihat, kota yang tadi masih begitu terang berisikan nyala lampu rumah, kini seketika langsung menjadi gelap gulita.


Aku yang tadinya masih belajar, kini pun terpaksa harus menutup buku ku dan kemudian langsung bersiap-siap untuk tidur. Sejujurnya jika sedang mati listrik seperti ini, hal yang paling enak dilakukan adalah tidur.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2