Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 212 : Rasa Penasaran Celine


__ADS_3

Sesampainya di halte, aku pun langsung duduk sambil menunggu bus yang berjalan ke arah rumah. Saat ini, terlihat hanya ada aku seorang yang sedang menunggu di halte ini.


Setelah sekitar 15 menit menunggu, bus yang aku tunggu-tunggu pun datang. Aku pun lalu langsung masuk ke dalam bus. Saat aku masuk ke dalam bus, suasananya begitu sepi. Terlihat hanya ada beberapa kursi yang sudah terisi. Aku pun bisa dengan leluasa memilih kuris yang ingin aku duduki. Aku lalu memilih sebuah kursi di sebelah kiri yang dekat dengan jendela dan juga dengan pintu. Setelah itu, bus pun langsung kembali tancap gas dan kembali melanjutkan perjalanannya.


***


Sesampainya di rumah, aku lalu langsung mandi. Seperti biasa, rumah saat ini masih dalam keadaan kosong karena Hana dan Ibu tentu masih berada di toko bunga.


Setelah selesai mandi, aku pun langsung naik ke lantai atas menuju kamar ku untuk sekalian ganti baju. Setelah itu, sambil menunggu kedatangan ibu dan Hana, aku hanya duduk-duduk santai saja di sofa ruang tamu.


Saat ini, pikiran ku dengan penuh dengan tanda tanya perihal pertemuan ku dengan Alex barusan. Aku betul-betul penasaran sebenarnya dia itu habis mengunjungi makam siapa? Dan juga, raut wajahnya tadi itu sangat mencerminkan kesedihan dan luka yang mendalam yang mana luka tersebut masih lah belum sepenuhnya sembuh.


***


Malam hari, sekitar pukul 21.00 aku saat ini berada di balkon lantai dua kamar ku. Aku saat ini sedang duduk sambil menatap langsung ke arah langit yang meskipun bewarna gelap, akan tetapi masih saja begitu menakjubkan untuk ditonton. Mungkin karena bulan dan bintang terlihat di sana.


Tak ketinggalan secangkir cokelat panas untuk menemani malam ku saat ini. Di saat memandangi bintang dan bulan seperti ini, entah kenapa aku juga jadi kepikiran tentang orang-orang yang saat ini begitu dekat dengan ku. Seperti Ahsan, Ruben, Cindy, Sofia, Aji, Celine, dan teman-teman lainnya.


Selain itu, aku juga kembali teringat tentang topik obrolan ku dengan kakek petugas kebersihan tadi. Aku sejujurnya tidak begitu menyangka kalau kakek itu ternyata adalah seorang lulusan Sarjana Psikologi. Sebelum itu, ia juga pernah bekerja di salah satu perusahan.


***


Sabtu pagi sekitar pukul 06.00, aku sudah berada di jalanan untuk melakukan lari pagi. Kali ini, aku lari pagi hanya seorang diri dikarenakan Hana tadi pagi terlihat agak kurang sehat. Sepertinya ia sedikit terkena demam dan batuk. Apa lagi di musim hujan seperti ini yang mana terkadang cuaca begitu tidak menentu.


Cuaca pagi ini pun tampak tidak terlalu cerah. Awan kelabu terlihat sudah membumbung tinggi di atas sana. Meskipun saat ini sudah pukul 6pagi, akan tetapi rasanya seperti masih pukul setengah 6 saja.

__ADS_1


Karena cuaca yang tidak begitu cerah tersebut, suasana jalanan saat ini lun tidak lah seramai seperti biasanya. Hanya beberapa orang saja yang terlihat sedang berada di jalanan sama seperti ku ini.


***


Setelah sekitar 30 menit berlari, aku pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah mini market. Sebelum itu, aku pun akan membeli minuman mineral terlebih dahulu.


Betapa terkejutnya aku saat aku masuk ke mini market tersebut, aku melihat Celine tengah mengantri membayar belanjaannya di kasir. Kami berdua pun sempat saling bertatapan dan saling diam untuk beberapa detik.


"Eh Galang? Dari pakaian mu, sepertinya kamu habis lari pagi yah?" sapa Celine pertama kali. Saat ini, Celine juga berpakaian seperti seorang yang tengah melakukan olahraga juga. Sepetinya ia juga habis berlari pagi.


"I-iya ini. Baru mau istirahat. Kamu juga sepertinya habis lari pagi yah?" tanya ku pada Celine yang mana di wajahnya masih terlihat ada keringat yang masih keluar.


"Hehe iya, ya sudah aku tunggu di luar yah. Kamu juga mau istirahat juga kan tadi? Ya udah sekalian bareng aja, aku juga berencana mau istirahat," ucap Celine yang lalu langsung membayar karena memang sudah gilirannya untuk membayar.


***


"Aku gak nyangka bakalan ketemu kamu sekarang ini hihihihi," ucap Celine sesaat setelah aku mulai duduk.


"Iya, aku juga begitu. Jarang-jarang loh ada orang yang berolahraga di pagi yang cuacanya tampak begitu mendung itu," jawab ku.


"Berarti kamu juga termasuk dong? Kamu kan juga saat ini habis berolahraga juga," timpal Celine.


"Oh iya yah hehehehe. Oiya ngomong-ngomong kamu habis lari pagi juga?" tanya ku.


"Oh engga kok. Aku engga habis lari pagi. Aku tadi cuma sepedaan aja. Lagi pula daerah ini kan lumayan jauh dari tempat tinggal ku. Kalau lari, aku pasti sudah sangat cape," jawab Celine.

__ADS_1


"Oh iya yah aku lupa heheh," jawab ku sambil sedikit tersenyum.


"Oiya ngomong-ngomong kamu sendirian aja? Gak sama Hana?" tanya Celine.


"Sebenarnya sih seharusnya begitu, tapi tadi pagi Hana agak gak enak badan. Sepertinya ia sedikit terkena flu. Ini sebentar lagi juga aku harus pulang buat jagain Hana. Soalnya kan ibu ku akan seharian berada di toko," jawab ku.


"Eh Hana sedang sakit? Keadaannya gimana? Gak terlalu parah kan?" tanya Celine dengan raut muka yang berubah menjadi khawatir.


"Kelihatannya sih gak terlalu parah. Cuma flu biasa kayaknya. Nanti sore kalau keadaannya masih belum membaik, rencana mau dibawa ke dokter juga," jawab ku.


"Oh begitu ya, syukurlah kalau gak terlalu parah. Oiya aku dengar hari Senin kemaren ada anak baru yah di kelas mu?" tanya Celine.


"Iya ada anak baru. Namanya Alex, aku dengar dia itu adalah anak orang kaya. Tapi memang sepertinya memang benar. Di hari pertama saja ia membeli kursi milik Ruben seharga 300 ribu," ucap ku.


"Ha membeli kursi? Maksudnya?" tanya Celine.


"Iya maksudnya itu si Alex membeli tempat duduk milik Ruben seharga 300 ribu yang mana membuat Ruben harus menyerahkan tempat duduknya yang lama kemudian ia harus pindah ke tempat duduk yang masih tersedia," jawab ku.


"Ehhh? Hihihihi bisa seperti itu yah? Hihihihi," Celine terlihat begitu tergelitik mendengar berita seperti itu.


"Iya aku juga baru melihatnya waktu itu. Sebelum kesepakatan tercapai, mereka berdua sempat terlihat berdebat dengan cukup hebat loh. Ruben pada awalnya mengatakan kalau tidak akan pernah menjual tempat duduk itu berapapun harganya. Pada saat itu memang pada tawaran pertama si Alex itu hanya menawar tempat duduk milik Ruben seharga 20 ribu. Ruben pun lalu langsung menolaknya dengan cepat," ucap ku.


"Hihihihi terus-terus?" ucap Celine yang terlihat tambah penasaran.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2