Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 14 : Ahsan dan Ruben


__ADS_3

Hari ini adalah hari Jumat. Hari terakhir pengumpulan angket, meskipun begitu aku masih belum menentukan pilihan. Aku masih belum tahu apa yang ingin aku lakukan, atau setidaknya apa yang bisa aku lakukan.


"Oi Lang kau udah pilih ekstrakulikuler belum?" tiba-tiba Ahsan bertanya dari arah belakang.


"Belum nih, aku masih bingung. Menurutmu aku cocok ikut ekstrakulikuler apa?"


"Kau aja gak tau apa lagi aku. Ada-ada aja kau ini."


"Bagaimana kalau kau ikut sepak bola saja Lang seperti kami?" tiba-tiba Ruben masuk dalam percakapan.


"Sepak Bola ya? Coba nanti ku pikir-pikir lagi. masih ada waktu hingga siang nanti."


"Ngomong-ngomong kau suka sepak bola kan?" tanya Ruben lagi.


"Aku pikir aku tidak membencinya," jawabku.


"Apa-apaan jawabanmu itu. Yang penting kita hanya harus pilih minimal satu ekstrakulikuler kan? Apa salahnya kau pilih sepak bola saja. Pasti akan menyenangkan jika kita bertiga masuk ekstrakulikuler yang sama," tambah Ruben.


"Kalau kau memang bilang begitu, apa boleh buat. Okelah, aku akan ikut sepak bola saja," ucapku.


Akhirnya, aku memutuskan untuk ikut ekstrakulikuler sepak bola bersama Ruben dan Ahsan. Sejauh ini, memang mereka berdua yang paling dekat denganku. Aku senang jika suatu hari nanti bisa berteman dengan mereka.


***


Akhirnya jam pelajaran telah selesai. Aku pun bersiap-siap untuk pulang.


"Oi Lang kau habis ini ada acara gak?" tiba-tiba Ruben menghampiriku.


"Tidak, sepertinya ga ada acara," jawabku sambil memasukkan buku ke dalam tas.


"Bagus lah, ayo kita main?"


"Eh? Main?"


"Iya main bareng. Sekalian sama Ahsan juga."


"Kalau kau mengajakku main berarti kita ini sudah berteman?" tanyaku sambil menunjukkan raut wajah terkejut.


"Kau ini ngomong apa sih? Tentu saja kita ini teman. Memangnya apalagi kalau kita ini bukan berteman?" jawabnya.


"Tapi sepertinya aku belum menanyakan pada kalian tentang apakah kalian bersedia menjadi temanku atau tidak kan?"

__ADS_1


"Untuk berteman tidak memerlukan sesuatu yang formal seperti itu kan? Kau ini aneh sekali. Seperti dari planet lain saja haha," Ruben sedikit tertawa.


Aku tidak menyangka bahwa mereka sudah menganggapku sebagai teman. Aku kira aku harus menanyakan kepada mereka terlebih dahulu untuk berteman.


"Hahahahahaaha," Ahsan ikut tertawa yang dari tadi mengamati percakapanku dengan Ruben.


Setelah itu aku, Ruben, dan Ahsan memutuskan untuk mampir ke rumah Ruben terlebih dahulu. Rasanya baru pertama kali ini aku mampir ke rumah temanku setelah Tora. Hanya butuh waktu sekitar 3 menit untuk sampai di rumah Ruben. Aku heran kenapa ia bisa terlambat ke sekolah?


Kami bertiga pun masuk ke dalam. Keadaan rumah Ruben sepertinya kosong. Saat kami masuk, tidak ada yang menyambut kedatangan kami. Rumah Ruben mengingatkanku pada rumahku sendiri yang sering kosong.


"Kalian tunggu di sini dulu ya... Aku mau ganti baju dulu," ucap Ruben yang meninggalkan kami di ruang tamu.


Setelah selesai ganti baju, Ruben langsung kembali ke ruang tamu tempat dimana aku dan Ahsan berada.


"Enaknya mau kemana nih?" tanya Ruben yang baru saja bergabung dengan kami.


"Kau sendiri yang mengajak kami, kenapa malah tanya kami?" jawab Ahsan.


"Wahahahaha benar juga ya, tapi sejujurnya aku juga gak tau mau kemana nih. Ada yang punya ide gak?"


"Apa-apaan tuch," jawab Ahsan lagi sambil mengerutkan dahinya.


"Hahahaha kalian mau minum apa nih? Sambil mikir sambil minum kayaknya enak nih" tanya Ruben pada kami.


"Kalau kau Lang mau apa?" tanya Ruben lagi.


"Aku sama seperti Ahsan saja."


"Okedeh, tunggu ya sebentar," ucap Ruben sambil meninggalkan kami lagi.


"Maaf ya Lang, Ruben memang orangnya tidak pernah jelas," kali ini Ahsan yang membuka percakapan.


"Tidak apa-apa, aku senang kalian mengajakku main bareng. Ngomong-ngomong kalian udah kenal lama ya? Kalian terlihat yang paling akrab di kelas," tanyaku sambil sedikit penasaran.


"Ya kami memang udah kenal cukup lama. Dulu kami satu SMP dan kami pernah sekelas waktu kelas 7 dan 9, jadi kami udah cukup akrab deh."


"Oh begitu," jawabku sedikit lega.


"Kau sendiri kenapa terlihat selalu sendiri saat di kelas?"


"Tidak apa-apa, aku memang selalu begitu dari SMP."

__ADS_1


"Apa kau tidak kesepian?"


"Mungkin tidak, mungkin juga iya. Sejujurnya, aku tidak terlalu mengerti aku kesepian atau tidak."


"Begitu yach, kau memang anak yang aneh ya. Boleh aku minta nomer WhatsAppmu?"


"Ya tentu."


Lalu aku dan Ahsan pun bertukar nomer WhatsApp. Ini pertama kalinya aku bertukar nomer WhatsApp dengan temanku. Bahkan, aku belum punya nomer WhatsApp dari Tora.


Tak lama setelah itu Ruben datang dengan membawa minuman.


"Silahkan diminum sirup jeruk yang dingin ini," ucap Ruben dengan nada suara yang unik sambil meletakkan minuman.


"Apa-apaan tuch," jawab Ahsan yang nada suaranya tak kalah unik.


"Hahaha lagi-lagi kau bicara aneh San," ucap Ruben pada Ahsan.


"Siapa yang aneh tuan aneh?" balasnya.


Kami pun akhirnya hanya menghabiskan waktu di rumah Ruben saja hingga waktu hampir gelap. Ternyata, orang tua Ruben tinggal terpisah dengan Ruben. Orang tuanya tinggal bersama adik perempuan Ruben di kota sebelah.


Ruben pun harus menyiapkan kebutuhannya setiap hari secara mandiri, mulai dari memasak makanan, belanja bulanan, membuang sampah, menyapu, dll. Mungkin karena hal itu dia sering terlambat. Tapi, tentu saja hal itu tidak bisa menjadi alasannya untuk terus datang terlambat.


Akhirnya aku dan Ahsan pun pulang. Rumah Ahsan dan Rumahku berlawanan arah, jadi kami bertiga mulai berpisah dari sini.


Saat makan malam tiba, aku menceritakan kejadian hari ini pada ibuku. Ibuku sangat terlihat senang mendengar bahwa aku akhirnya bisa mendapatkan teman. Hana yang ikut mendengarkan juga tampak senang.


Setelah selesai makan malam, aku membantu ibuku untuk membereskan piring kotor sekalian membantu mencucinya.


Setelah itu, aku membuka dan membaca materi-materi pelajaran yang telah aku pelajari dalam satu Minggu ini. Lalu aku membuat rangkumannya.


***


Hari ini adalah hari yang sangat tak terduga. Aku berhasil berteman bahkan dengan dua orang sekaligus. Kini aku juga sudah berhasil menghapal semua nama teman sekelasku. Ternyata jika aku niat, aku bisa melakukannya. Aku akan lebih berjuang keras lagi minggu depan.


Setelah tadi bertukar kontak dengan Ahsan, aku juga bertukar kontak dengan Ruben. Ruben adalah orang yang sangat menarik dan humoris. Sementara Ahsan adalah orang yang lebih pendiam tapi juga menarik. Terkadang ia menggunakan kata-kata 'aneh' seperti "nich", "lach", dan masih banyak lagi.


Akan tetapi, aku juga merasa sedikit kecewa karena minggu ini aku belum bertemu dengan Sofia lagi. Aku merindukannya.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2