Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 142 : Pulang


__ADS_3

"Wah hari ini rasanya seru banget yah," ucap Ruben.


"Iya, gak nyangka kalau kita bakalan ke pantai juga. Oh iya ngomong-ngomong jam segini masih ada bis gak yah? Kalau gak ada gimana dong?" tanya Devi agak khawatir.


"Hahahaha kamu jarang bepergian yah? Atau kamu selalu bepergian naik mobil ayah mu? Tenang saja, jam segini masih ada banyak kok," ucap Ruben dengan percaya diri.


Aku lalu melihat ke lengan kiri ku dan memperhatikan jam tangan yang sedang aku gunakan itu. Jarum jam pendek sekarang sudah menunjukkan sekitar angka 7. Kami sepertinya harus bersegera pulang agar nanti tidak sampai rumah terlalu malam. Apa lagi kami bersama anak perempuan.


"Ngomong-ngomong kalian gak papa pulang semalam ini?" tanya ku pada para anak perempuan.


"Aku sih udah izin tadi pas sebelum kita pergi ke pantai, jadi aman hehehe," Celine.


"Aku juga hehehe," jawab Devi.


Dari ketiga anak perempuan, cuma Fani yang tidak menjawab. Semakin lama, Fani menjadi terlihat semakin mirip dengan Renaldi yang pendiam itu.


***


Setelah selesai makan, kami pun langsung bergegas menuju halte untuk menunggu bis datang. Sudah sekitar 5 menit kami menunggu di sini, akan tetapi belum ada tanda-tanda sebuah bus akan datang.


"Wah tuh kan belum ada yang dateng... Aduh gimana nih..." ucap Devi dengan raut wajah yang penuh dengan kekhawatiran.


"Hihihihi tenang Dev... Pasti nanti ada kok. Lagi pula kita kan baru 5 menit di sini..." ucap Celine berusaha menenangkan.


"Hahaha iya tenang saja. Pasti sebentar lagi datang kok," ucap Ruben.


"Iya kak tunggu aja kak, pasti ada bis yang dateng kok," kini giliran Hana yang berbicara.


10 menit kembali telah berlalu. Hingga saat ini, belum juga ada tanda-tanda sebuah bus akan datang.


"Udah 15 menit nih... Tuh kan..." ucap Devi yang kembali terlihat mulai gelisah.

__ADS_1


"Hihihihi ternyata kamu bisa khawatir juga ya Dev," ucap Celine yang terlihat begitu tenang.


"Siapa yang gak khawatir kalau kita gak bisa pulang? Terus juga kita kan besok masuk sekolah," ucap Devi yang masih terlihat begitu khawatir.


"Oi lihat," Ahsan tiba-tiba menunjuk pada sebuah sorot lampu yang amat terang yang muncul di ujung jalan sana.


Saat pertama kali melihat sorot lampu itu, kami semua sudah tahu bahwa itu adalah sebuah bus. Akhirnya busnya datang juga.


"Tuh kann... Apa aku bilang... Pasti datang kok hehehehe," ucap Ruben dengan sangat percaya diri.


"Hihihi maaf deh... Aku kan baru pertama kali kayak gini," jawab Devi.


"Widihhhh horang kayaaa," timpal Ruben.


Saat bus sudah berhenti di depan halte, kami semua pun langsung naik menaiki bus yang terlihat sangat sepi ini. Saat ini, hanya ada kami dan beberapa orang saja yang sedang naik bus ini. Kami pun bisa bebas memilih tempat duduk mana yang mau kami pilih.


Pada akhirnya aku memilih untuk duduk di kursi paling belakang. Hana duduk di sebelah kanan ku, dan entah kenapa Celine, Devi, dan Fani berturut-turut duduk di sebelah kiri ku. Dimana Celine yang langsung duduk di sebelah kiri ku persis.


Kadang kala, saat bus sedang mengerem atau menikung agak tajam, aku dan Celine saling bersentuhan. Rasanya agak aneh, begitu tegang namun entah kenapa membuat ku merasa nyaman dan begitu hangat. Rasa dingin malam pun seakan tidak terasa karena ada rasa hangat dari dalam hati ini saat kami berdekatan seperti ini. Aku pun tidak tahu kenapa bisa seperti itu.


Setelah cukup lama, kini Hana terlihat sudah tertidur dengan cukup pulas di samping ku. Begitu pun dengan Celine. Saat aku melirik ke arahnya sebentar tadi, ternyata Celine sudah tertidur. Aku pun takut untuk membuat gerakan yang bisa membangunkan mereka berdua. Pada akhirnya aku harus berdiam diri saja sambil menunggu mereka berdua bangun atau sampai bus ini sampai di halte dekat dengan titik awal kami berangkat tadi.


***


"Lang... Bangun Lang... Sudah sampai," suara lembut dan menenangkan itu membangunkan ku dari tidur ku. Saat aku membuka mata ku, aku sudah berada di halte dekat sekolah tempat dimana kami berencana untuk turun. Dan suara yang membangunkan ku barusan itu adalah suara milik Celine. Aku sebenarnya tidak menyangkan kalau aku pada akhirnya tertidur dan malah dibangunkan Celine tadi. Aku harap aku tidak menggangu Celine yang ada di samping ku tadi saat aku tertidur.


Kami lalu langsung turun dan segera berpamitan satu sama lain untuk langsung menuju ke rumah kami masing-masing. Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam lebih sedikit. Ternyata, sudah lebih dari 10 jam kami bersama-sama pada hari ini.


***


"Langitnya sepi ya kak," ucap Hana yang saat ini sedang memandang ke arah langit.

__ADS_1


Aku lalu ikut memandang ke arah langit, "Oh iya, hari ini langitnya gak ada bintangnya yah."


Kami saat ini sedang dalam perjalan pulang. Tentu saja dengan berjalan kaki.


"Ngomong-ngomong kamu capek gak?" tanya ku.


"Mmm emang kenapa kak?" tanya Hana yang kini mengalihkan pandangannya dari langit dan lalu menatap ke arah ku.


"Kalau kamu capek, biar kakak gendong," jawab ku.


"Wah beneran kak? Iya nih Hana udah capek banget," ucap Hana dengan antusias dan sangat bersemangat.


"Hahahah kamu ini cuma pingin kakak gendong aja kan? Ya sudah sini," aku lalu berhenti dan merendahkan tubuh ku agar Hana bisa mulai merangkul ku dari arah belakang.


"Udah kak, ayo heheheeh," ucap Hana sambil tertawa.


"Iya, iya tuan putri..." ucap ku yang lalu kembali berdiri dan mulai melangkah kembali.


"Kakak bau keringat," ucap Hana saat berada di gendongan ku di belakang.


"Hahaha kan kita habis seharian di luar ruangan. Terus juga kakak kan belum mandi. Jadi wajarlah kalau bau keringat," ucap ku.


"Hmmmm... Oiya, ngomong-ngomong ibu ngasih makan Alex gak ya?" Hana tiba-tiba teringat pada Alex, anak kucing yang waktu itu aku bawa pulang.


"Tenang saja, ibu pasti ngasih makan Alex," ucap ku.


"Benar juga yah. Ibu pasti ngasih makan Alex," timpal Hana.


"Sekarang, teman kakak udah lebih banyak lagi yah... Hana jadi ikut seneng..." ucap Hana yang entah kenapa tiba-tiba terasa menjadi serius.


"Iya yah... Tak terasa teman kakak semakin bertambah saja... Tapi..." kalimat ku terhenti saat akan mengatakan kalau hubungan ku dengan Cindy saat ini sedang tidak baik. Aku tidak mungkin mengatakan pada Hana kalau Cindy sudah tidak mau berbicara pada ku lagi. Kami pun sudah satu minggu ini tidak saling bicara. Lebih tepatnya, Cindy yang tidak mau bicara pada ku.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2