Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 146 : Bimbang


__ADS_3

Mendengar perkataan karyawan itu, aku pun langsung kembali teringat. Aku pernah bertemu dengan karyawan itu pada saat pergi berenang bersama Hana waktu itu. Di saat itu juga, aku bertemu dengan Sofia.


"Oh iya, sekarang aku juga mengingatnya," ucap ku.


"Hahaha dunia memang sempit yah. Benar kata orang-orang bahwa dunia itu selebar daun kelor," timpalnya.


"Mas sekarang bekerja di sini?" tanya ku.


"Iya hehehe. Kerja di sini lebih ringan dari pada kerja di kolam renang. Sekarang juga aku termasuknya kerja paruh waktu. Jadi, aku cuma beberapa jam saja dalam sehari," jawabnya.


"Oh begitu yah. Memang sih terasa lebih ringan jika bekerja di toko buku seperti ini," jawab ku.


"Oh iya, tadi kau ngomong-ngomong sedang mencari Cindy yah?" tanya karyawan itu.


"Iya mas. Mas tahu?" tanya ku.


"Oh iya aku sampai lupa, perkenalkan nama ku Reza. Oh iya ngomong-ngomong soal Cindy, sepertinya dia belum pulang. Beberapa hari belakangan ini, Cindy tampak berbeda dari sebelum-sebelumnya," jawab mas Reza.


"Berbeda dari sebelum-sebelumnya? Maksudnya gimana mas? Wah aku kira dia udah pulang," ucap ku.


"Iya berbeda. Dia jadi lebih sering menyendiri, melamun, tidak bisa tersenyum, dan juga terlihat agak murung dari pada biasanya. Apakah terjadi sesuatu padanya di sekolah?" tanya mas Reza.


"Saya juga kurang tahu mas. Sebenarnya, sikap Cindy juga berubah pada ku. Sudah sekitar 1 minggu lebih, Cindy tak mau lagi berbicara dengan ku. Aku juga tidak tahu apa salah ku sehingga ia berubah seperti itu. Dan anehnya, ia hanya tidak mau berbicara dengan ku saja, sementara dengan yang lainnya ia terlihat biasa-biasa aja. Oleh karena itu, maksud kedatangan ku hari ini adalah untuk meminta maaf padanya jika aku mempunyai salah tanpa aku sadari," ucap ku.


"Hahahaha sepertinya aku tahu kenapa Cindy akhir-akhir ini menjadi berbeda," ucap mas Reza dengan sambil tertawa.

__ADS_1


"Eh beneran mas? Kenapa memangnya?" tanya ku penasaran.


"Hahaha kamu masih belum menyadarinya juga yah? Hanya dengan mendengar cerita dari mu saja aku sudah bisa mengambil sedikit kesimpulan. Aku tidak akan mengatakan apa pun pada mu. Kamu harus menyadarinya sendiri. Satu hal yang bisa aku katakan pada mu. Tabiat mu untuk meminta maaf pada Cindy sudah benar, jadi cepat-cepat lah kau cari Cindy untuk meminta maaf" mas Reza.


"Mas tahu dimana Cindy?" tanya ku lagi.


"Hahahaha sayang sekali tidak," jawabnya.


"Wah kalau begitu aku mau pamit dulu mas," ucap ku.


"Ya, semoga berhasil yah," ucap mas Reza dengan senyum yang cukup lebar di wajahnya.


Setelah itu, aku lalu langsung mencari keberadaan Cindy untuk meminta maaf seperti apa yang kak Reza nasihatkan tadi. Jika ada tempat yang akan dituju oleh Cindy, di pikiran ku saat ini cuma ada saru tempat, yaitu adalah taman. Tempat dimana kali aku melihat Cindy sedang membaca sebuah buku di bawah sebuah pohon yang cukup besar. Pada saat itu, aku masih ingat, hembusan angin yang lembut membuat beberapa helai rambutnya tampak terurai terkena hembusan angin itu.


Sebenarnya aku cukup terkejut dan heran mengenai kak Reza yang katanya sudah mempunyai sedikit kesimpulan tentang sifat Cindy yang akhir-akhir ini berubah. Aku heran, padahal cuma sedikit yang aku ceritakan, akan tetapi kak Reza bisa langsung menyimpulkannya. Dan sepertinya, tadi kak Reza sedang tidak bermain-main dalam mengatakannya.


***


Sesampainya di tempat biasanya ia membaca itu, yang aku temui hanyalah sebuah pohon kosong yang di sekitarnya tidak ada apa-apa. Yang ada hanyalah daun-daun yang jatuh berguguran karena tertiup oleh angin.


Sejujurnya, aku sangat kecewa karena tidak bisa menemukan Cindy di tempat ini. Entah kenapa tadi aku naif sekali. Aku pikir aku akan menemukannya di tempat ini. Aku benar-benar naif sekali.


Karena kecewa, aku lalu langsung menuju pohon yang biasa Cindy gunakan untuk berteduh di bawahnya itu. Aku lalu duduk di tempat Cindy biasanya duduk itu. Aku pun lalu mengambil sebuah novel dari dalam tas dan mulai membaca di tempat ini.


***

__ADS_1


Tak terasa, langit sudah semakin bewarna oranye. Aku pun sudah mulai kesulitan untuk membaca novel yang sedang aku baca tersebut.


Rasanya, aku benar-benar masuk ke dalam cerita novel yang tadi aku baca itu. Tempat yang tenang dan hembusan angin sepoi-sepoi semakin menambah rasa khusyuk dalam membaca.


Kini, lampu taman sudah mulai bernyalaan. serangga-serangga liar terlihat mulai mengerubungi sorot lampu tersebut.


Sekarang, aku tidak tahu lagi harus pergi ke mana. Haruskah aku kembali mencari Cindy atau aku sebaiknya pulang ke rumah saja? Entahlah, yang jelas saat ini aku sedang berjalan menuju ke sebuah warung kecil di seberang jalan sana untuk membeli minum.


Glek, glek, glek. Aku menghabiskan minuman ku dengan cepat. Rasanya aku sangat haus hingga tidak butuh waktu lama untuk ku menghabiskan minuman yang baru saja aku beli itu.


Setelah menghabiskan minuman itu, aku kembali merenung. Aku berpikir, "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Disaat aku sedang merenung itu, tiba-tiba saja ponsel ku bergetar. Aku memang selalu membuat ponsel ku dalam keadaan silent. Sehingga, jika ada pesan atau telepon masuk, ponsel ku hanya bergetar saja.


Dari frekuensi getarannya, aku bisa mengetahui bahwa yang barusan itu adalah sebuah. Benar saja, saat aku mengecek ponsel ku, memang terdapat beberapa pesan masuk. Aku bahkan baru menyadarinya kalau sudah ada lumayan banyak pesan yang masuk. Mungkin pesan-pesan ini masuk tanpa aku sadari ketika aku sedang membaca novel tadi.


Aku lalu mulai membuka ponsel ku untuk mengetahui pesan-pesan dari siapa saja yang masuk. Aku tahu ini mustahil tapi aku sangat berharap bahwa salah satu pesan yang masuk ini adalah dari Cindy. Aku sungguh sangat berharap.


Setelah aku buka, ternyata tak satu pun yang berasal dari Cindy. Seharusnya aku sudah mengetahuinya sedari awal, tapi entah kenapa aku masih saja berharap. Manusia memang makhluk yang terkadang tidak rasional.


Dari 10 pesan yang sudah masuk dari 5 orang yang berbeda, ada satu pesan yang setidaknya membuat ku merasa sedikit senang, yaitu pesan dari Celine.


"Lagi ngapain Lang? Boleh tanya gak?" tulis pesan dari Celine tersebut yang ternyata sudah hampir satu jam tidak aku baca.


"Cuma lagi duduk saja Lin, mau tanya apa?" balas ku.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2