Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 178 : Sampai Jumpa dan Selamat Malam


__ADS_3

"Wuh anginnya kenceng banget yah," ucap Sofia.


"Iya," jawab ku.


"Kalau sedang berada di tempat seperti ini, dimana kita bisa melihat langit dengan jelas, aku jadi teringat bukit bintang," Sofia mengangkat wajahnya agak condong ke atas. Saat ini ia menatap ke arah langit.


"Iya yah. Benar juga. Sepertinya sudah cukup lama sejak terakhir kali aku ke sana. Terkahir kali aku datang ke sana, waktu itu kita datang ke sana berdua yah. Padahal waktu itu, kita juga baru beberapa hari saja kenal," jawab ku.


"Sama, aku juga terakhir kali datang ke sana adalah saat bersama mu itu. Sepertinya, begitu banyak hal yang telah berubah sejak saat itu yah hihihi," ucap Sofia dengan sedikit tertawa kecil. Namun, entah kenapa di balik tawa kecilnya itu, Sofia seperti seakan sedang merasakan kesedihan.


"Ya begitu lah. Seiring dengan berjalan waktu, manusia pasti berubah. Aku juga merasa, aku telah banyak berubah sejak saat terkahir kali kita pergi ke bukit bintang. Aku rasa, ini semua juga berkat kamu yang waktu itu menegur ku. Aku sepertinya berhutang banyak pada mu. Saat ini, mungkin aku hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih pada mu. Sejak saat pertama kali kita berjumpa, kau sudah sangat merubah hidup ku," ucap ku.


"Sepertinya kamu agak berlebihan yah, hihihihi. Menurut ku, aku tidak lah sebesar itu berimbas pada mu. Tentu saja yang paling berperan penting itu Ahsan sama Ruben," ucap Sofia kembali dengan senyum tipisnya.


"Aku senang sekarang aku memiliki banyak teman seperti Ahsan, Ruben, Aji, Renaldi, Ayu, Cindy, Celine, Fani, Devi, kamu, dan masih banyak lagi. Sekarang aku bahkan sudah bisa menghapal dan mengenal setiap teman kelas ku yang mana tidak pernah aku lakukan semenjak SMP. Kamu benar-benar memotivasi ku waktu itu," ucap ku.


"Oi kalian, bis nya sudah mau berangkat loh," teriak Aji dari kejauhan.


"Oh iya sampe lupa hihihi. Ya udah ayo kita kembali ke bus," Sofia lalu langsung berjalan menuju ke arah bus. Begitu pun dengan ku. Aku langsung membuntutinya dari belakang.


Di saat kami berdua sedang menaiki tangga menuju ke atas taman, tiba-tiba saja Sofia terpeleset dan tubuh terlihat akan jatuh ke belakang. Aku yang persis berada dibelakangnya dengan sigap langsung menangkapnya.


"Kamu gak papa Sof?" tanya ku saat menangkap punggungnya dari belakang.


Sofia yang masih tampak terkejut itu langsung kembali berdiri. Entah kenapa untuk sesaat, mukanya berubah menjadi kemerahan.


"Eh maaf ya Lang, aku kepleset. Aduh cerobohnya aku. Untung ada kamu di belakang ku, kalau engga mungkin aku sudah terjatuh berguling-guling ke bawah deh. Makasih ya Lang," ucap Sofia.

__ADS_1


"Oh iya gak papa kok. Lagi pula juga kebetulan aku berada tepat dibelakang mu sehingga bisa langsung menangkap mu," jawab ku. Setelah itu, kami berdua pun langsung bergegas menuju bus yang mana sudah akan segera berangkat.


***


Sekitar jam 9 kurang, kami akhirnya sampai di titik awal tadi, yaitu di depan SMA kami. Anak-anak yang tadinya banyak yang tertidur, kini pun sedang dibangunkan. Entah kenapa semenjak kejadian tadi saat aku menangkap Sofia dari jatuhnya, aku masih terus memikirkannya.


"Oi Ben, bangun," ucap Ayu yang berusaha membangunkan Ruben. Seperti biasa, cukup sulit untuk membangunkannya.


Ahsan yang kini sudah terbangun, lalu langsung mengalir hidup Ruben sehingga ia tidak bisa bernapas. Dengan segera, Ruben pun langsung bangun dengan mulut yang terbuka dengan lebar itu.


"Oi apa-apaan kau?" gumam Ruben yang masih setengah mengantuk itu.


"Tentu saja membangunkan mu," jawab Ahsan yang saat ini sudah melepaskan capitan di hidung Ruben.


"Iya aku tahu, tapi apa gak ada cara lain yang lebih manusiawi apa?" protes Ruben lagi.


Setelah itu, kami semua pun turun dari bus. Sembari turun, kami juga mengecek apakah barang bawaan kami sudah semuanya diturunkan atau belum.


"Semuanya sudah dicek? Barang-barang yang kalian bawa, apakah sudah diturunkan semuanya? Ayo coba di cek lagi," ucap sopir busnya yang mana saat ini juga sedang mengecek di dalam bus.


Setelah dicek lagi, ternyata sudah tidak ada lagi barang bawaan kami yang masih tertinggal di dalam bus. Sopir bus pun lalu langsung pamit untuk langsung pulang.


"Makasih yah semuanya. Berkat kalian semua, acara liburan ini bisa lebih seru dan yang paling penting bisa terlaksana. Hati-hati saat pulang, dan sampai ketemu lagi besok, dahh," ucap Aji yang lalu diikuti oleh rombongan yang mulai membubarkan diri dan langsung menuju ke rumah mereka masing-masing.


"Mau pulang bareng Cin?" tanya ku yang memang arah pulang kami satu arah.


"Boleh," jawab nya.

__ADS_1


Kami berdua pun lalu berjalan dengan perlahan.


"Tadi bagaiman Cin liburannya? Kamu senang?" tanya ku membuka percakapan.


"Ya sangat menyenangkan. Apalagi banyak yang ikut juga, jadi semakin seru," jawab Cindy.


"Hihihi syukurlah kalau kamu juga menikmatinya. Ngomong-ngomong, dari ketiga tempat wisata yang kita kunjungi tadi, mana yang menjadi favorit mu?" tanya ku lagi.


"Kalau aku, candi Borobudur sih," jawab Cindy.


"Wah candi Borobudur yah? Keren yah orang-orang yang membangun candi itu di masa lalu. Mereka bisa membangun bangunan yang sangat megah seperti itu. Apalagi, candi Borobudur juga terletak di atas bukit. Aku jadi semakin kagum kepada orang-orang itu," jawab ku.


"Hihihi sama. Aku juga berpikiran begitu. Aku masih tak habis pikir tentang alat apa yang mereka gunakan untuk membangun candi sebesar itu. Atau jangan-jangan, mereka itu membangun candi Borobudur dengan tangan kosong?" ucap Cindy.


"Entahlah. Aku sendiri masih belum yakin tentang hal itu. Ditambah lagi, aku juga belum membaca sesuatu yang membahas tentang pembangunan candi Borobudur ini.


Tanpa terasa, kami saat ini sudah berada di depan toko buku milik nenek Maria (nenek Cindy). Cindy pun langsung berpamitan pada ku dan mengucapkan selamat malam dan sampai jumpa lagi sebelum kami berpisah.


***


Sesampainya di rumah, aku langsung merebahkan tubuh ku di atas sofa ruang tamu. Rasanya begitu nyaman, bahu ku yang sebenarnya sudah merasa amat lelah, saat ini terasa begitu nyaman. Kalau begini terus, bisa-bisa aku akan sampai ketiduran.


Tak lama berselang, ibu terlihat dalang menghampiri ku dari arah kamarnya. Sepetinya tadi ibu sudah tertidur dan kemudian bangun lagi karena suara ku membuka dan menutup pintu tadi.


****


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2