Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 177 : Taman Di Belakang Rumah Makan


__ADS_3

Sore sekitar pukul 17.30, kami saat ini sedang dalam perjalanan pulang dari Magelang menuju ke Yogyakarta. Langit saat ini sudah mulai gelap. Terlihat cahaya kejinggaan menyelinap sedikit dari balik matahari yang setengahnya sudah terbenam itu.


Tak terasa, perjalan kami di Magelang sudah berakhir. Aku senang doa ku dikabulkan, yaitu doa yang aku panjatkan tadi pagi agar tidak hujan.


Saat ini, anak-anak terlihat cukup lelah. Suasana di dalam bus pun saat ini hening tanpa ada yang bercakap-cakap. Beberapa dari mereka terlihat sedang terlelap tidur, termasuk Ahsan dan Ruben yang biasanya pasti sedang berdebat.


Lampu-lampu jalanan kini terlihat sudah mulai bernyalaan. Laju-laju kendaraan yang saling bersandingan terlihat menghiasi pemandangan jalan sore hari ini.


Perjalanan kali ini terbilang lancar tanpa ada gangguan macet. Aku kira, akan lebih macet dari pada yang terjadi hari ini. Ternyata, ekspektasi ku meleset. Walaupun jalanan ramai, akan tetapi tidak sampai macet dan menghambat perjalanan kami. Oleh karena itu, perjalanan kami kali ini terbilang sesuai jadwal.


Bus terus berjalan, begitu pun dengan waktu. Langit yang beberapa menit yang lalu masih terlihat bercahaya kan sedikit warna jingga, kini telah menjadi hitam pekat khas langit malam.


Pemberhentian kami yang terakhir mungkin akan berada di daerah Sleman untuk menyantap makan malam. Mungkin beberapa km lagi kami akan sampai di tempat pemberhentian itu.


Sambil menunggu, aku kembali memasang earphone dan memutar sebuah lagu. Lagu yang aku putar saat ini berjudul Good Riddance dari Green Day. Lagu Good Riddance ini durasinya tidaklah terlalu panjang, sekitar 2 menit lebih.


Salah satu faktor yang membuat ku begitu menyukai Green day adalah dari lirik di setiap lagunya yang begitu menyentuh. Contohnya saja lagu Good Riddance ini. Liriknya yang begitu menyentuh, ditambah dengan irama yang mudah didengarkan tapi enak, membuat lagu ini menjadi salah satu lagu favorit ku.


***


"Lang... Bangun Lang... Udah sampai tempat makan nih... Bangun..." ucap suara seorang gadis sambil sesekali menepuk-nepuk bahu ku.


Saat aku membuka mata ku, ternyata suara yang berusaha membangunkan ku itu adalah suara milik Ayu. Iya pun saat ini tengah berusaha membangunkan Ahsan dan Ruben yang mana duduk di sebelah kanan ku. Aku sendiri tidak menyangka aku akan ketiduran seperti ini. Mungkin, tubuh ku juga merasakan lelah lebih dari apa yang aku pikirkan.


"Bangun San, Ben," ucap ku membantu Ayu untuk membangunkan mereka.

__ADS_1


"Oh, iya ini sudah bangun," ucap Ruben yang mana matanya masih tertutup.


"Mana ada, kamu itu masih tidur. Itu mata mu aja masih merem gitu," timpal Ayu yang lalu langsung menarik Ruben berdiri. Saat ini, walaupun Ruben berhasil ditarik ke dalam keadaan berdiri, akan tetapi kedua matanya masih tertutup.


Sementara itu, Ahsan yang duduk di kursi yang paling pojok di sebelah kanan terlihat sudah membuka kedua matanya. Namun saat ini sepertinya ia masih belum bisa diajak berkomunikasi. Ia masih membutuhkan waktu untuk loading.


***


Untuk makan malam kali ini kami memilih untuk makan di tempat nasi goreng yang cukup terkenal di daerah sini. Saat ini, kami pun masih dalam proses menunggu pesanan kami datang. Terlihat muka-muka lelah dan sedikit ngantuk terpancar dari wajah teman-teman ku ini.


Saat ini, entah bagaimana caranya aku bisa duduk berada tepat di samping kanan Celine. Sementara yang duduk di samping kanan ku adalah Ruben yang mana terlihat sedang meletakan tubuh bagian atasnya di meja. Ia terlihat masih mengantuk. Kedua matanya pun saat ini masih terlihat tertutup.


"Tadi asik banget yah Lang," ucap Celine membuka percakapan.


"I-iya yah. Ini pertama kalinya bagi ku menghabiskan hari libur bersama teman-teman ku. Aku merasa sangat senang sekali. Semalam, aku bahkan sulit untuk tidur loh," jawab ku.


"Ya begitulah," jawab ku sambil juga sedikit tersenyum.


Tak berselang lama, makanan pesanan kami pun datang. Nasi yang ad di atas piring itu, terlihat masih mengeluarkan asap yang cukup banyak. Sepertinya nasi goreng itu memang habis benar-benar matang.


***


Setelah selesai makan, kamu memutuskan untuk bersantai sejenak di rumah makan ini. Kebetulan di belakang rumah makan ini terdapat taman kecil yang mana kita bisa melihat indahnya area persawahan yang terbentang luas di hadapannya. Tak ketinggalan, sungai kecil yang mengalir juga menambah kesan asri dan natural.


Suara katak, jangkrik dan serangga lain terdengar seperti sebuah orkestra nyanyian alam yang sedang dipertunjukkan menyambut datangnya bulan 10. Angin semilir yang menerpa ku, entah kenapa terasa begitu berbeda dengan apa yang aku rasakan jika di kota. Angin di sini, entah kenapa terasa lebih jujur dan bersahaja. Mereka bertiup apa adanya, dan menghilang dengan apa adanya juga.

__ADS_1


Tebaran bintang yang menghiasi angkasa raya saat ini, untuk terlihat seperti kawanan domba yang mana berbaris dengan rapih. Walaupun kawanan domba tersebut terlihat berbaris dengan begitu rapih, akan tetapi entah kenapa mereka terlihat seperti sedang tersesat. Entahlah, lagi-lagi aku mulai memikirkan hal-hal gila dan tak masuk akal.


aku lalu menghirup udara dalam-dalam dan memejamkan kedua mata ku sejenak. Aku tidak langsung menghembuskannya, melainkan menahannya untuk beberapa saat sebelum aku kembali menghembuskannya dengan perlahan.


Di saat aku sedang termenung itu, tiba-tiba saja ada langkah kaki yang mendekat, "Sendirian aja Lang?"


Dari suaranya itu, aku sudah bisa menebaknya. Suara itu, pasti milik Sofia.


"Eh iya ini hehehe," ucap ku yang langsung menengok ke arahnya.


"Hihihihi. Melihat mu yang sedang sendirian sambil melamun, mengingatkan ku kembali akan diri mu saat pertama kali aku berjumpa dengan mu dulu," Sofia lalu melangkah dan berhenti tepat di samping kiri ku. Tangannya lalu terlihat menggenggam pagar besi setinggi pinggang yang berada di hadapan kami ini.


"Benarkah?" jawab ku sambil sedikit tertawa.


"Ya begitu lah. Oiya ngomong-ngomong bagaiman UTS mu, lancar?" tanya Sofia.


"Ya begitulah hehehe. Kamu sendiri bagaimana?" tanya ku.


"Hihihi kalau aku kurang lancar pastinya. Aku ini kan memang dari dulu tidak terlalu pandai soal akademik," jawabnya dengan senyum tipis.


"Beneran? Tapi sepertinya kamu itu orang yang pintar loh," jawab ku.


"Mana ada, dari dulu ketika SMP kalau sedang UTS seperti ini, pasti setengah dari mata pelajaran yang diujikan remidi," ucap Sofia.


Tiba-tiba saja datang sebuah angin yang cukup besar dan kencang dari arah depan. Wushhhh. Angin itu sampai membuat rambut ku dan rambut Sofia terhembus ke arah belakang.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2