
Setelah selesai makan malam, aku langsung kembali ke kamar. Aku berencana untuk melanjutkan membaca novel "Hujan Di Bulan". Akan tetapi, kejadian tadi sore masih sangat mengganjal di pikiranku. Aku masih penasaran kenapa Cindy menangis. Cindy memang anak yang pendiam di kelas dan terkesan misterius. Dia juga terlihat lebih banyak berdiam di tempat duduknya sambil membaca buku atau novel. Dia juga jarang tertawa.
Bahkan kejadian itu bisa mengalihkan pikiranku dari kejadian tadi pagi saat melihat Sofia berangkat bersama laki-laki lain.
Aku mulai membuka lembar baru di bab 16 dari novel "Hujan Di Bulan". Kini latar ceritanya sudah mulai masuk ke dalam puncak konflik. Sang tokoh utama kini di hadapkan untuk mengorbankan salah satu hal yang paling berharga di hidupnya untuk menyelamatkan hal yang berharga lainnya.
Malam ini aku membaca sekitar dua bab saja, dan kemudian membuka buku pelajaranku. Mata pelajaran yang paling aku sukai adalah Matematika dan Bahasa Inggris. Jika harus memilih di antara itu, aku akan memilih Bahasa Inggris. Karena besok ada Bahasa Inggris, maka aku membuka kembali catatan minggu kemaren.
***
Setelah selesai belajar, aku langsung duduk di balkon dekat kamarku. Aku melihat langsung ke arah langit malam yang nampak begitu luas. Aku penasaran berapa banyak bintang yang ada di atas sana ya?
Tiba-tiba aku jadi teringat kenangan kemaren malam saat aku dan Sofia melihat langit dari bukit Bintang. Meskipun, aku lebih sering memandangi wajahnya dari pada langit atau pun pemandangan kota saat malam. Aku masih ingat betul senyum tipisnya saat memandang langit berbintang. Senyum yang pasti akan tetap bersinar meskipun telah menempuh jarak jutaan tahun cahaya.
Meskipun senyumannya sangat manis, entah kenapa aku seperti melihat diri yang terperangkap di hatinya. Aku merasa seperti ia sedang bersedih atau semacamnya. Meskipun begitu aku tidak tahu apakah aku bisa mencabut duri tersebut atau tidak.
Dunia yang penuh dengan misteri ini, dunia yang terus akan membuatmu terkejut dan berdecak kagum. Dunia yang akan terus menerus membuat kejutan, entah membuatmu tertawa, menangis, kecewa, atau bahkan terhianati sekalipun, kita hanya harus tertawa dan menangis secara bergantian. Kita... Tidak bisa melawannya.
***
Pagi ini di kelas 10-7, semua siswa terlihat sudah datang. Bahkan siswa yang paling sering terlambat yaitu Ruben pun sudah datang. Beberapa menit lagi hingga bel jam pelajaran pertama dimulai.
Seperti biasa jam pertama di hari Selasa adalah Bahasa Inggris. Guru yang mengampu adalah pak Slamet Wardoyo atau yang biasa dipanggil pak Etwar. Guru yang sangat humoris itu.
Sambil menunggu bel yang beberapa menit lagi berbunyi, aku memperhatikan Cindy diam-diam. Hari ini Cindy tampak seperti biasanya, tidak ada hal aneh yang terlihat darinya. Aku juga masih bersikap seperti biasa padanya seperti seolah-olah tidak terjadi apa-apa kemaren. Kami bahkan belum saling berbicara hari ini. Sebenarnya aku ingin sekali menyapanya dan menanyakan keadaannya pagi tadi waktu pertama kali bertemu, akan tetapi rasanya sedikit tidak sopan. Alhasil, aku lebih memilih untuk diam saja.
Akhirnya bel pun berbunyi. Siswa yang tadinya masih saling mengobrol, kini langsung kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
Tak lama setelah itu, pak Etwar pun datang. Kumis tipis yang minggu kemarin tampak tidak ada, minggu ini sepertinya pak Etwar lupa untuk mencukurnya.
__ADS_1
"Good morning," sapanya saat memasuki kelas.
"Morning Sir," jawab kami kompak.
"Semuanya sudah berangkat?" Apakah ada yang belum datang?" tanya pak Etwar membuka pelajaran.
"Wah kelihatannya semuanya sudah datang, dan tumben sekali Ruben tidak terlambat" lanjut pak Etwar disusul suara tawa para siswa.
"Oke, sebelum mulai masuk ke materi, bapak akan ngasih pertanyaan buat kalian. Itung-itung buat pemanasan. Pertanyaannya adalah putih, kecil, tapi larinya kencang?" tanya pak Etwar.
Seisi kelas tampak sedang berpikir tentang jawaban dari pertanyaan pak Etwar. Tentu saja yang terlihat paling serius memikirkan jawabannya adalah Ruben.
Berbeda dengan Ruben, Sofia tampak tidak menanggapi pertanyaan dari pak Etwar. Walaupun dia berada di sini, akan tetapi pikirannya seperti sedang tidak berada di sini. Dia terlihat sedang berpikir tentang sesuatu yang benar-benar jauh dari sini.
"Ayo ada yang sudah tau?" tanya pak Etwar lagi. Belum ada satupun dari kami yang terlihat sudah tahu jawabannya. Kami pun hanya saling menatap satu sama lain sambil bertanya-tanya apa jawaban yang dimaksud oleh pak Etwar.
"Saya tau pakk," ucapnya sedikit berteriak dari tempat duduknya yang berada di meja paling belakang.
"Ya Ruben, apa jawabannya?" tagih pak Etwar.
"Nasi satu biji nempel di gerbong kereta api?" jawab Ruben dengan sedikit ragu.
"Wahhh hebat kamu Ruben, jawabannya betul. Wah ternyata kamu punya bakat juga ya," ledek pak Etwar yang lagi-lagi disambut gelak tawa para siswa. Setelah itu, pembelajaran pun dilaksanakan seperti biasa.
***
Jam istirahat di kelas 10-7.
"Kau kenapa kemaren pulang duluan Lang?" Ruben menghampiri tempat dudukku.
__ADS_1
"Iya, apa-apaan tuch pulang duluan," tambah Ahsan dari belakang tempat dudukku.
"Ah maaf, kemaren kan sudah ku bilang kalau aku lagi gak enak badan," aku mencoba mencari-cari alasan.
"Begitu ya, hmmm... Oiya kemaren kami waktu pulang dari toko sepatu itu, kami mampir di warung bakso milik ayahnya Sofia. Terus kami juga ketemu Sofia di sana. Sepertinya Sofia lagi nyari kamu deh Lang, soalnya kemaren dia tanya soal kamu gitu ke kita. Karena kamu bilangnya kemaren lagi gak enak badan yaudah kita bilang ke Sofia kalau kamu lagi gak enak badan. Sebenarnya Sofia mau datang ke rumahmu kemaren tapi karena kamu lagi sakit, jadi dia merasa gak enak kalau datang ke rumahmu. Takut ganggu kamu istirahat katanya," jelas Ruben.
"Iya katanya ada hal yang ingin di omongin sama kamu," tambah Ahsan.
Aku sedikit merasa senang mengetahui Sofia ternyata mencariku, tapi disaat yang bersamaan aku juga merasa kesal karena dia belum juga membalas pesanku, ditambah kejadian kemaren waktu berangkat.
"Oh begitu," jawabku sedikit cuek.
"Memang apa sih yang ingin kalian bicarakan? Kelihatannya penting gitu," tanya Ruben penasaran.
"Iya kasih tau lach. Kami juga penasaran nich," tambah Ahsan dengan logat khasnya.
Sejujurnya aku sendiri tidak tahu apa yang ingin dibicarakan Sofia denganku.
"Aku juga kurang tahu apa yang ingin dia bicarakan. Kalau kalian ingin tahu, kenapa kalian tidak tanya langsung padanya kemaren."
"Oiya yah, kenapa kita gak tanya padanya kemaren. Ya ampun bodohnya kita. Gimana sih gue," ucap Ruben dengan sedikit menyesal.
"Kita? kau aja kalich gua engga," Ahsan menimpali.
Aku juga jadi penasaran sebenarnya apa yang ingin Sofia bicarakan padaku. Jika memang benar ada yang ingin dia bicarakan, kenapa dia tidak mengirimi aku pesan? Atau bisa juga dia meneleponku kan? Aku sungguh penasaran saat ini.
***
Bersambung
__ADS_1