Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 82 : Makan Besar Bersama


__ADS_3

Akhirnya setelah proses yang cukup lama, mie kuah ala Ruben pun selesai dibuat. Kini kami telah berjejer rapih di ruang tengah yang cukup luas. Kami duduk rapih menanti Ruben menuangkan makanan dari panci besar itu ke dalam masing-masing mangkok yang sudah ada di hadapan kami ini.


"Oi membaginya yang adil Ben," celetuk Ahsan.


"Haaaa? Diam saja kau, tentu saja aku akan adil membaginya. Ini kan hasil kerja keras kita semua," Ruben mulai menuangkan mie kuah itu ke dalam mangkok satu per satu.


Setiap mangkok yang baru diisi mie kuah, akan terlihat mengeluarkan asap yang masih cukup banyak dan panas. Mencium aromanya saja sudah bisa membayangkan kelezatannya, apa lagi kalau nanti sudah benar-benar memakannya.


"Fahmi jangan colek-colek dulu, tunggu semuanya rata baru makan bersama-sama. Wita juga ayo, jangan dimakan duluuu," ucap Ayu yang kemudian diikuti gelak tawa yang lain.


"Loh kok punyaku cuma setengah?" protes Ahsan.


"Hahahaha kebetulan mangkuk mu mangkuk yang terakhir, kebetulan juga sisanya cuma tinggal segitu hahahaha. Sudah gak papa. Yang penting kan rasanya sama saja," Ruben tertawa sangat lepas.


"Kau pasti sengaja ya menyisakan sedikit porsi untuk ku?" gumam Ahsan lagi.


"Mana mungkin aku berbuat begitu. Aku beneran gak sengaja," balas Ruben lagi.


"Hahaha sudah-sudah, yang penting kan kita makan bersama," celetuk Aji.


Karena mangkok Ahsan tadi adalah mangkok terakhir, kini kami pun sudah lengkap dan sudah mendapatkan makanan kami masing-masing. Kami pun bersiap-siap untuk segera menyantapnya. Perut kami pun sudah mulai "menangis" melihat makanan yang kelihatan begitu lezat ini. Mereka seakan mengatakan "cepat makan".


"Selamat makannnnnnn," Ruben memberi aba-aba.


"Selamat makannnnn," balas semua orang yang ada di sini.


Setelah itu kami semua pun mulai mencicipi mie kuah ini. Pada sendok pertama, rasa kuahnya begitu kental dan juga sayurnya begitu lembut dan bumbunya begitu meresap. Ayamnya pun terasa empuk dan sangat gurih. kini giliran aku mulai mencicipi mienya. Mienya pun ternyata tak kalah enak. Teksturnya sangat kenyal dan rasa bumbunya sangat meresap. Rasanya tak kalah dengan makanan yang dijual di restoran. Sungguh, aku tidak bohong.


"Ohok ohok," tiba-tiba Fahmi terbatuk-batuk.

__ADS_1


"Hahaha pelan-pelan Fahmi," ucap Ayu yang lagi-lagi diikuti gelak tawa yang lainnya.


Fahmi memang terlihat begitu lahap memakan mie kuah tersebut. Kini yang tersisa hanya tinggal seperempatnya saja di mangkoknya. Mungkin dia memang sudah sangat lapar. Itu bisa dimaklumi karena sekarang sudah agak lewat jam makan siang dan kita baru makan siang.


Sebenarnya ada yang lebih penting dari pada rasa mienya yang enak, yaitu rasa kebersamaan dan kehangatan ini. Rasanya jauh lebih menyenangkan dari pada makanannya itu sendiri. Aku merasa beruntung bahwa kita semua hari ini bisa berkumpul di sini, walaupun masih ada satu orang lagi yang seharusnya berada di sini, yaitu Risal.


"Oi Lang kau gak habis yah? Kenapa melamun begitu? Lebih baik mienya buat aku aja," tiba-tiba Ahsan memecah lamunan ku.


"Hahahahaha jangan mau Lang," Ruben tertawa lebar.


***


Setelah selesai menyantap mie kuah tadi, kami pun bersantai sejenak sambil bersenda gurau bersama yang lainnya. Semua orang di sini terlihat begitu gembira. Mereka tertawa dengan begitu lepasnya, seakan telah melupakan kesalahan Ruben tadi. Kini yang ada hanyalah canda dan tawa, tak ada lagi yang namanya marah atau pun kesal.


Begitu pun dengan Cindy. Ia kini terlihat begitu bergembira mengobrol bercanda dengan teman-teman perempuan. Raut wajahnya itu, entah mengapa begitu meluluhkan hati ku. Begitu bisa membuat ku merasa begitu nyaman hanya dengan memandanginya saja. Lagi-lagi, aku memperhatikannya terlalu lama dan dalam. Aku seperti tidak bisa memalingkan pandangan ku dari padanya.


Tak terasa, kini waktu telah menunjukkan pukul 16.00. Kami pun satu persatu mulai pamit untuk pulang ke rumah masing-masing. Seperti yang tadi Cindy bilang, ia ingin bertemu dengan Hana dan ia pun kini mengikuti untuk pulang ke rumah.


"Oh okee... Santai saja hehehe," jawab ku sambil tersenyum.


***


Langit sore ini entah kenapa terlihat begitu tenang. Awan-awan terlihat bergerak dengan damai mengikuti arah angin. Mungkinkah awan-awan yang saling berdekatan itu saling kenal? Entahlah.


Burung-burung terlibat terbang dengan bergandengan. Aku tidak tahu dimana arah tujuan burung-burung itu. Mungkin, sesuatu seperti masa depan kah? Aku juga tidak tahu. Manusia hanya bisa menerka-nerkanya saja. Kadang salah, kadang benar.


Angin yang sesekali berhembus, entah kenapa seperti sedikit membawa tangisan yang entah dari mana datangnya. Bisa jadi itu adalah tangisan dari penduduk kota ini, atau mungkin itu adalah tangisan dari penduduk di kota lain. Entahlah.


***

__ADS_1


"Sebentar ya Lang, aku mampir ke toko dulu," ucap Cindy saat kita sedang berada di dekat toko buku milik neneknya.


"Oh iya Cin," jawab ku.


Tak lama berselang, Cindi kembali lagi.


"Ayo," ucapnya.


"Ayo," aku dan Cindy lalu kembali melanjutkan perjalanan.


"Wah Langitnya indah banget ya..." Cindy memandang ke arah langit lepas.


"Iya. Mereka selalu saja membuat kita manusia merasa kagum padanya. Setiap hari mereka selalu saja memberikan keajaiban yang manusia belum pernah bayangkan sekalipun," timpal ku yang juga ikut memandangi langit.


"Hihihihi kamu puitis juga ya Lang. Pasti kemaren kamu buat puisinya bagus yah?" Cindy tersenyum ke arah ku.


"Ehh... Engga-engga kok. Kemaren aku juga kesulitan waktu buat puisinya. Bahkan saat Bu Esti kembali ke kelas, aku belum menuliskan apa-apa loh," aku menggelengkan kepala ku.


"Eh benarkah? Tapi entah kenapa aku merasa kamu adalah tipe orang yang pandai bikin puisi," ujar Cindy lagi.


"Hehehe mungkin cuma perasaan mu saja," aku kembali memalingkan wajah ku ke arah depan.


Kini kami sudah sampai di sekitar taman tempat dimana aku pertama kali bertemu dengan Cindy setelah di sekolah. Saat itu, ia sedang duduk di bawah pohon besar itu dan duduk langsung di atas rumput yang hijau itu. Ia membaca buku dengan amat serius. Daun-daun yang jatuh tertiup angin, terkadang menyangkut di atas rambutnya yang bewarna hitam pekat itu. Rasanya, baru kemaren aku melihatnya berada di situ.


Suasana taman sore ini cukup ramai. Masih ada beberapa anak-anak yang sedang bermain menghabiskan hari libur mereka. Beberapa juga masih bersama dengan orang tua mereka sambil menggelar karpet menikmati sore hari yang cerah ini.


Tiba-tiba saja ada bola yang menggelinding ke arah ku. Rupanya ini adalah bola milik anak-anak yang sedang bermain sepak bola di taman.


"Kak, tolong bolanya lempar ke sini," teriak anak yang sedang bermain sepak bola sambil melambaikan tangannya. Aku pun lalu langsung mengambil dan melemparkan bola itu ke arah mereka.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2