Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 194 : Rumah Hantu


__ADS_3

"Kretekk," bunyi lutut Ruben saat hendak bangkit dari jongkoknya.


"Hahahaha, adiiihhh bunyi apaan tuh," ledek Ahsan yang terlihat begitu senang.


Ruben lalu mencoba untuk berdiri tegak, akan tetapi terlihat jelas sekali kalau lutut milik Ruben mungkin sedikit mati rasa karena terlalu lama jongkok. Setelah berhasil berdiri, Ruben kini terlihat berjalan ke arah sofa.


"Hahaha kau terlihat seperti orang tua Ben," ledek Ahsan lagi.


"Diam kau, sial," gumam Ruben.


"Hahaha entah mau main apa aja, hasilnya akan tetap sama yaitu kau itu pasti kalah," ledek Ahsan lagi.


"Ada apa sih? kelihatannya lagi pada seneng-seneng," ucap ibunda Ahsan yang tiba-tiba keluar dari arah dapur. Kali ini beliau terlihat membawakan kami cemilan, yaitu brownis cokelat yang sudah dipotong-potong. Ditambah minuman bersoda yang bewarna hitam.


"Haha iya Bu, kami lagi seneng-seneng ini. Lihat Ruben, saking senangnya ia sampai kelihatan pucat begitu," timpal Ahsan.


"Wah syukurlah kalau kalian lagi bersenang-senang. Ya udah ibu tinggal ke dapur lagi yah," ucap ibunda Ahsan yang lalu langsung kembali menuju ke dapur.


***


"Eh kalian perhatiin gak?" tanya Ruben tiba-tiba.


"Perhatiin apa?" tanya Ahsan.


"SIM kan singkatan dari Surat Izin Mengemudi kan?" tanya Ruben.


"Iya, lalu?" timpal Ahsan.


"Kenapa namanya Surat tapi bentuknya kartu? Terus malahKartu Keluarga yang namanya kartu tapi bentuknya seperti surat? Aneh yah? Hahaha," ucap Ruben sambil tertawa.


"Eh oh iya ya. Bener juga... Wah tumben kau bisa berpikir mendalam begitu," ucap Ahsan.


"Bukan aku kok, aku cuma baca di internet semalam hahaha," ucap Ruben.


"Ohhh pantes... Oiya yah, mana mungkin Ruben bisa berpikir cerdas seperti itu. Kenapa dengan ku ini tiba-tiba memuji Ruben seperti tadi. Hmmm... Manusia memang tempatnya berbuat salah yah," timpal Ahsan.


"Sialan... Eh udah sore nih, keluar yuk?" ajak Ruben.


"Mau kemana emangnya?" tanya Ahsan.


"Kemana kek terserah. Yang penting kita keluar aja dulu sambil sepedaan. Nanti kalau ketemu atau kepikiran tempat yang menarik, baru kita menuju ke sana," ucap Ruben.


"Kaya biasanya berarti yah?" timpal Ahsan.


"Iyalah," timpal Ruben.

__ADS_1


"Kalau kau gimana Lang?" tanya Ahsan.


"Aku ngikut aja si," jawab ku.


"Perfekto, kalau begitu ayo kita langsung let's gooo," ucap Ruben dengan agak bersemangat.


***


Sore sekitar pukul 5, kami bertiga aku, Ahsan, dan Ruben saat ini sedang berkeliling kota sambil bersepeda tanpa tujuan yang jelas. Sudah sekitar 15 menit ini kami hanya bersepeda mengikuti arus jalan saja.


"Eh lihat, di sana ada rame-rame apa tuh?" teriak Ruben dari arah depan sambil menunjuk ke salah satu arah.


"Wah iya tuh," timpal Ahsan.


"Kita ke sana yuk, siapa tau ada hal yang menarik," ucap Ruben.


"Okeee," jawab Ahsan.


***


Setibanya di keramaian tadi, ternyata sedang ada pasar malam.


"Wihh pasar malem... Pantes ramai-ramai begini," ucap Ruben.


"Hahaha sudahlah tak usah memikirkan hal berat sepeti itu, mendingan sekarang kita cari tempat parkir terlebih dahulu," ucap Ruben yang lalu langsung mencari tempat untuk parkir sepeda kami bertiga.


***


Setelah memarkirkan sepeda, kami pun lalu langsung mulai melihat-lihat sekeliling area pasar malam ini. Banyak sekali wahana-wahana khas pasar malam yang sudah siap. Dari dulu, hal yang paling mencuri perhatian ku jika aku datang ke pasar malam yang mana terakhir kali aku datangi saat masih SD itu adalah Tong Setan.


Aku masih heran kok bisa ada orang yang berani beratraksi dengan melaju begitu kencang dan memutari tong yang berukuran besar. Aku sampai sekarang masih terkagum dan terheran-heran dengan atraksi tersebut.


"Kira-kira sudah ada yang bisa dinaiki gak ya?" tanya Ruben.


"Kayaknya belum deh. Lagian ini kan juga masih belum malam. Mereka juga kayaknya masih pada siap-siap," jawab Ahsan.


"Wah kalau gitu kita harus nunggu sampai malam dong?" tanya Ruben.


"Kita?" timpal Ahsan.


"Iya deh iya... Aku maksudnya," timpal balik Ruben.


"Hahaha memangnya kau mau naik apa?" tanya Ahsan.


"Tong Setan," jawab Ruben.

__ADS_1


"Bapakk kau tuh... Mana bisa lah kau naik Tong Setan. Lagian dimana-mana yah Tong Setan itu ditonton, bukan dinaikin. Kalo mau yang dinaikin tuh kaya Biang Lala, Ombak Asmara, Komedi Putar, tuh baru bisa dinaikin," timpal Ahsan dengan sedikit agak emosi.


"Hahaha ya maap," timpal Ruben.


"Tapi kalau sampe malam kayaknya aku gak bisa deh," ucap Ahsan.


"Eh gak bisa? Kenapa? Tumben amat?" tanya Ruben.


"Tapi boonggggg yaaaaa, hahahaha," timpal Ahsan.


"Sialll," gumam Ruben.


Sambil menunggu langit gelap, kami bertiga lalu duduk di sebuah warung angkringan.


"Menurut kalian dari semua wahana di pasar malam, mana yang paling tidak masuk akal?" tanya ku pada Ahsan dan Ruben.


"Wah ada apa Lang? Kau lagi sakit? Gak biasanya kau membuka percakapan seperti itu hahaha," timpal Ruben.


"Oi bukannya menjawab pertanyaan malah jawab dengan topik yang lain. Pantas kau dapat nilai 0 sampai 2 kali," timpal Ahsan.


"Haa? Kenapa kau tidak bercermin dulu sebelum berkata? Bukannya kau yah yang dapat peringkat terakhir?" timpal Ruben balik.


"Sudah-sudah, lalu bagaiman dengan pertanyaan ku tadi?" tanya mengingatkan.


"Oh iya sampai lupa. Gara-gara si peringkat terkahir sih... Wahana yang tidak masuk akal yah? Hmmm menurut ku ga ada Lang," jawab Ruben sambil sedikit meledek Ahsan.


"Yang gak masuk akal itu kau Ben hahaha... Menurut ku juga tidak ada Lang. Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?" jawab Ahsan yang juga menyindir balik Ruben.


"Kalau menurut ku wahana yang paling tidak masuk akal adalah Rumah Hantu," ucap ku.


"Haa rumah hantu? Kenapa emangnya?" tanya Ahsan dan Ruben bersamaan.


"Oi kenapa kau mengikuti ku seperti itu?" protes Ruben.


"Haa? Siapa juga yang mengikuti mu? Jelas-jelas kau yang mengikuti ku," timpal Ahsan.


"Yang membuat ku berpikir Rumah Hantu itu tak masuk akal adalah karena dari awal pengunjung sudah tahu kalau hantu atau benda apapun itu yang ada di rumah hantu itu kan cuma bohongan, tapi kenapa kebanyakan dari pengunjung masih merasakan takut seolah-olah hantu yang mereka temui di Rumah Hantu itu adalah nyata? Aku sama sekali tidak bisa menerimanya," jelas ku.


"Wah bener juga ya Lang... Kenapa mereka bisa takut padahal sudah tahu kalau yang ada di dalam rumah hantu itu cuma palsu dan hanya main-mainan saja. Terutama para anak perempuan yang biasanya berteriak ketakutan. Seolah-olah seperti sedang melihat hantu beneran saja," timpal Ahsan.


"Kalian harus ingat kemaren... Kan sudah dibilang kalau wanita itu lebih banyak menggunakan perasaannya dari pada logikanya, jadi sudah sangat wajar kalau mereka itu masih merasa ketakutan di dalam rumah hantu," timpal Ruben


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2