
Setelah selesai bermain game, kami bertiga berencana untuk mencari makan siang.
"Awas ya kalian, pertempuran selanjutnya aku tidak akan kalah," ucap Ruben dengan sedikit kesal.
"Apa-apaan tuch, palingan kau bakal kalah lagi," balas Ahsan.
"Kalian udan lapar belum?" tanyaku memecah perdebatan mereka.
"Ah sudah hampir jam 1 ya. Pantas perutku sudah kerongkongan," balas Ruben.
"KERONCONGAN woiiii bukan KERONGKONGAN," ucap Ahsan dengan nada tinggi.
Melihat mereka bertingkah seperti itu membuatku sangat terhibur. Mereka seperti sedang melakukan pertunjukkan saja.
"Enaknya makan apa nich?" tanya Ahsan.
"Cari yang dekat sini saja," balas Ruben.
"Bagaimana kalau makan bakso? Tempatnya ada di komplek ruko sebelah selatan Sekolah. Di situ juga ada mie ayam juga," usul ku.
"Boleh," ucap Ahsan dan Ruben bersamaan.
"Oi ngapain kau ikut-ikutan haaa?" ucap Ruben pada Ahsan.
"Siapa yang ikut-ikutan? Kau sedang mengejek dirimu sendiri ya?" balas Ahsan.
"Ahahhaahha," aku sudah tidak bisa menahan tawaku lagi.
"Haaa? Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?" Ruben melirik ke arahku.
"Tidak, tidak. Maaf. Yasudah ayo kita segera ke sana," balasku.
Setelah itu kami bertiga langsung berjalan menuju warung bakso itu.
"Ngomong-ngomong gimana perkembangan mu dengan Sofia San?" tiba-tiba pertanyaan yang keluar dari mulut Ruben yang ditujukan pada Ahsan juga entah kenapa ikut membuatku terkejut.
"Ha? Apa maksudmu?" jawab Ahsan.
"Sudahlah gak perlu ditutup-tutupi lagi. Kau suka Sofia dari kelas 10-6 kan?"
"Cih, bukan urusanmu," jawab Ahsan terlihat agak kesal.
Ternyata yang dimaksud oleh Ruben waktu tebak-tebakan orang yang disukai Ahsan itu adalah Sofia. Aku sangat terkejut mengetahui hal tersebut. Entah kenapa hal itu membuatku sedikit merasa tidak nyaman.
"Kau kenapa Lang? Kenapa mukamu terlihat tidak nyaman begitu?" ucap Ruben sambil menunjuk mukaku.
__ADS_1
"Tidak, tidak apa-apa," jawabku gugup.
"Ah jangan-jangan....kau.....sudah sangat lapar ya? Hadeuh...bilang dong, yasudah ayo kita berlari saja sampai kesana. Aku hitung sampe tiga baru kita lari yah...satu...," ucap Ruben yang langsung berlari pada hitungan kesatu.
"Apa-apaan tuch, katanya sampe ketiga. Dasar pecundang...," ucap Ahsan yang kemudian ikut berlari di belakangnya.
Aku tidak berlari mengikuti mereka, aku hanya berjalan. aku masih terkejut dengan hal yang ku ketahui barusan. Aku penasaran sudah seberapa dekatkah Ahsan dan Sofia? Apakah Sofia juga menyukai Ahsan? Sebagian kecil dari hatiku entah kenapa berharap bahwa hal itu tidak pernah terjadi.
"Oi Lang... Cepat lah, aku sudah lapar nih," teriak Ruben yang sudah berada di depan warung bakso.
Aku pun sedikit mempercepat langkahku.
"Ah maaf, membuat kalian menunggu," ucapku yang baru saja sampai.
"Yasudah ayo kita pesan," ucap Ruben.
"Aku pesan mie ayam pak, sama es jeruk," ucap Ahsan yang kemudian langsung duduk.
"Aku bakso pak sama es teh," ucapku yang langsung mengikuti Ahsan duduk.
"Kalo aku mid ayam bakso pak, minumnya es jeruk," ucap Ruben yang langsung menyusul kami duduk.
"Mohon tunggu sebentar yah," ucap bapak-bapak pemilik warung yang tidak lain adalah orang tua Sofia.
"Apa?" jawab Ahsan.
"Warung ini kan milik bapaknya Sofia," ucap Ruben.
"Jadi, bapak-bapak tadi itu bapaknya Sofia?" tanya Ahsan lagi.
"Nah ini kesempatanmu untuk menaklukkan hati Sofia kan? Kau bisa taklukkan dulu bapaknya," ucap Ruben lagi.
"Apa-apaan tuch? Saranmu sama sekali tidak membantu," balas Ahsan.
"Oi oi kau lebih baik menundukkan kepalamu padaku ketika sedang membahas tentang percintaan. Aku ini tangan kanannya Eros sang dewa cinta itu loh," ucap Ruben dengan nada sombong.
"Mana mungkin aku percaya pada orang yang bahkan belum pernah mengungkapkan perasaanya?" timpal Ahsan.
"Nah masalahnya dimulai dari sini. Karena kendala bahasa, aku jadi tidak bisa memahami kata-kata Eros, jadi aku masih jomblo begini. Eros kan bicara pake bahasa Yunani, mana mungkin aku bisa paham," ucap Ruben lagi.
Tiba-tiba seorang pelayan membawakan pesanan kami dan menghentikan percakapan antara Ruben dan Ahsan untuk sementara.
"Silahkan ini pesanannya, bakso, mie ayam, dan mie bakso masing-masing satu serta minumannya itu es teh satu dan es jeruk dua, terima kasih," ucap pelayan laki-laki itu sambil meletakkan pesanan kami satu per satu.
Kami pun lalu mulai menyantap pesanan kami masing-masing.
__ADS_1
"Kiraw-kiraw Sofiaw hariw iniw datang kesiniw enggwak yah?" lagi-lagi Ruben membuka pertanyaan dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Oi kalo mau bicaraw, telan duluw makanan muw," ucap Ahsan yang bicara juga dengan makanan yang masih menumpuk di mulutnya.
"Sebelum kau menasehati orang lain tolong kau nasehati dulu dirimu yang penuh dosa itu ya... Wahai orang yang sedang makan mie ayam," balas Ruben yang kali ini sudah menelan habis makanan di mulutnya.
"Wah wah apa-apaan tuch, sekarang kau menyerang ku dengan combo yang licik yah?" balas Ahsan.
Seperti biasa, mereka selalu terlihat berdebat. Aku dari tadi hanya mendengarkan perdebatan mereka yang sebenarnya sedang tidak memperdebatkan apa-apa.
"Oi Lang kau gak ikut bicara? Apa pulsa suaramu sudah habis jadi kau gak bisa bicara?" tiba-tiba Ruben langsung menunjukku.
"Dasar bedebah kau Ruben, kau tega menyerang orang tak berdosa seperti itu," lagi-lagi Ahsan menimpali perkataan Ruben.
Di tengah-tengah perdebatan Ruben dan Ahsan, tiba-tiba orang yang ditunggu-tunggu pun datang. Ya, Sofia datang bersama dengan sepedanya yang waktu itu sempat mengantarkanku ke rumah.
"Eh kalian di sini? Wah sudah lama gak bertemu kalian yah?" ucap Sofia yang baru saja turun dari sepedanya.
"Eh Sofia, iya yah rasanya sudah lama haha," jawab Ruben.
Sepertinya Ruben dan Ahsan sudah mengenal Sofia sejak lama. Mereka terlihat seperti teman dekat yang sudah lama tidak berjumpa.
Lalu Sofia pun duduk bersama kami.
"Sofia kenalin nih Galang teman sekelas kami. Lang perkenalkan ini Sofia teman kami dari SMP dulu," ucap Ruben sambil menunjuk diriku.Ternyata mereka memang sudah kenal sejak la yah.
"Oh aku sudah tahu Ben," jawab Sofia.
"Ehhh kalian sudah saling kenal?" Ruben nampak kaget.
"Iya begitulah, kemaren aku juga mampir di rumahnya Galang. Ibunya Galang baik banget loh," ucap Sofia lagi.
"Ehhhhhhhhhhh," kini Ruben dan Ahsan terlihat sangat terkejut.
"Kalian kenapa?" tanya Sofia melihat Ruben dan Ahsan yang bereaksi seperti itu.
"Tidak, tidak apa-apa hehe," jawab Ruben berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Begitu pun dengan Ahsan, ia juga nampak berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Wah kamu udah berubah ya Lang?" tiba-tiba Sofia bertanya padaku.
"Berubah? Berubah apanya?" tanyaku kembali. Aku sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud 'berubah' oleh Sofia.
***
Bersambung
__ADS_1