Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 28 : Alasan


__ADS_3

Akhirnya jam istirahat pun berakhir. Para siswa yang tadi masih berlalu lalang, kini berangsur-angsur masuk ke dalam kelas mereka masing-masing.


Jadwal selanjutnya sehabis istirahat pertama adalah Sejarah. Nama guru yang mengampu mata pelajaran tersebut adalah bu Eva. Bu Eva pernah bercerita bahwa dulu ia juga adalah murid di sekolah ini, sama seperti kita. Jadi, secara teknis bisa di bilang Bu Eva adalah kakak kelas kita yang sekarang menjadi guru kita sendiri. Menurutku itu cukup menarik.


Sambil menunggu bu Eva datang, aku terus memikirkan tentang alasan Sofia ingin bertemu denganku, dan kenapa juga ia hingga saat ini tidak membalas pesanku atau menghubungiku jika memang ingin bertemu. Aku masih mencari jawaban yang masuk akal tentang itu.


Setelah lima menit berlalu, bu Eva pun datang dan aku masih belum menumkan jawaban dari pertanyaanku tadi.


"Selamat siang anak-anak" sapa bu Eva seperti biasa.


"Siang buu," balas kami kompak.


"Hari ini ada yang tidak masuk?" tanya bu Eva lagi.


"Nihil buu," balas kami lagi. Setelah itu, kami pun langsung masuk ke dalam materi.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 12.13. Dua menit lagi hingga istirahat kedua dimulai.


"Ya materinya cukup sampai sini dulu ya," ucap bu Eva sambil mulai merapikan mejanya bersiap-siap untuk pergi.


"Iya bu," jawab kami kompak.


"Oiya untuk minggu depan kita akan ulangan," ucapnya lagi yang kini membuat suasana kelas menjadi heboh.


"Ehhhhhhhh?" ucap sebagian siswa dengan keras.


"Persiapkan dengan baik yah. Soalnya mudah kok," ucap bu Eva sambil sedikit tersenyum.


"Yasudah, ibu akhiri pertemuan kita kali ini. Selamat siang," bu Eva pergi meninggalkan kelas berbarengan dengan bunyi bel.


"Sianggg," jawab kami dengan kompak.


"Ayo Lang kita ketemu Sofia," ajak Ruben sambil berjalan menuju mejaku.


"Eh kenapa?" tanyaku. Aku cukup terkejut dengan ajakan dari Ruben.


"Kenapa malah tanya kenapa? Kan tadi sudah ku bilang kalau Sofia sedang mencarimu," Ruben kini sudah berada di samping mejaku.

__ADS_1


"Kalau memang begitu, tapi apa aku harus menemuinya sekarang?"


"Yaampun kau kan laki-laki Lang, kau harus segera menemui perempuan yang sedang mencarimu kan? Kalau kau memang laki-laki sejati sih. Lelaki sejati tidak akan membiarkan seorang perempuan menunggu. Begitu kata pujangga yang pernah ku baca," ucap Ruben.


"Apa-apaan tuch, kenapa kau bisa hapal kata-kata dari pujangga?" tanya Ahsan heran.


"Haa? Memangnya ada yang salah dengan itu?" Ruben melotot sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.


"Aku tidak bilang itu salah atau benar. Aku hanya heran kenapa kau bisa hapal kata-kata dari orang lain sementara kau bahkan sepertinya tidak pernah mengingat satupun materi Sejarah yang kita pelajari kan? Hahahahah," Ahsan tertawa mengejek Ruben. Sepertinya mereka akan memulai perdebatan lagi.


"Haa? Apa kau sedang mengejekku?"


"Tidak, tidak. Aku tidak sedang mengejekmu. Aku hanya bicara tentang fakta kan? Hahahah," lagi-lagi Ahsan tertawa.


Di tengah-tengah perdebatan mereka berdua, tiba-tiba ada suara perempuan yang memanggilku, "Lang, Galang."


Aku pun menengok ke sumber suara itu, aku sebenarnya sudah tau milik siapa suara itu. Suara itu aku yakin adalah milik Sofia, tapi untuk memastikannya aku pun menengok.


Benar saja ketika aku menengok, aku melihat Sofia sedang melambaikan tangannya dari pintu samping depan kelasku.


"Eh Sofia? Ke sini aja langsung," teriak Ruben dari arah belakang yang tadi sedang sibuk berdebat dengan Ahsan.


"Hai Lang, Ben, San," ucapnya yang kini sudah ada di sampingku.


"Hai juga," jawab mereka bersamaan.


"Kamu sudah baikan Lang?" tanya Sofia.


"Eh baikan kenapa?" aku sedikit bingung apa yang dimaksud Sofia.


"Kemaren Ruben dan Ahsan bilang kamu lagi agak kurang enak badan."


"Oh iya iya. Aku sudah baikan kok," aku baru ingat kalau aku memang beralasan kurang enak badan sewaktu meninggalkan Ruben dan Ahsan sehabis membeli sepatu kemaren.


"Syukurlah kalau begitu, oiya ada yang ingin aku tanyakan nih Lang," ucap Sofia.


"Eh? Silahkan, mau tanya apa?"


"Kamu masih ingat gak bus yang waktu itu kita tumpangi sehabis pulang dari bukit Bintang?"

__ADS_1


"Ehhhhh kalian habis dari bukit Bintang?" Ruben terlihat sangat terkejut.


"Wah kau bergerak dengan cepat yah Lang. Aku sampai dibuat mu kaget seperti ini hahahaha," lalu Ruben tertawa.


Aku sebenarnya memang sengaja tidak memberitahukan hal ini pada mereka. Aku agak tidak enak hati pada Ahsan yang pernah memiliki perasaan pada Sofia. Aku tidak tahu apakah sekarang ia masih mencintainya atau tidak. Tapi, aku tetap tidak enak jika bercerita bahwa aku habis pergi berdua dengannya ke bukit Bintang.


"Sepertinya aku ingat nama busnya, memangnya kenapa?" tanyaku pada Sofia.


"Soalnya sepertinya ponselku terjatuh di bus itu waktu aku tertidur."


"Ehhhhh kamu bahkan tertidur Sof? Wahhh kau tidak berbuat macam-macam pada Sofia kan Lang? Haaaah?" Ruben lagi-lagi nampak sangat terkejut.


"Apa? Ponselmu jatuh di bus itu?" tanyaku lagi pada Sofia.


"Iya sepertinya begitu, setelah aku turun dari bus itu aku tidak mengecek lagi ponselku. Dan ketika aku sudah sampai rumah aku langsung tidur. Ketika aku mau membuka ponselku di pagi hari, tapi ternyata ponselku tidak ada. Jadi, aku pikir itu terjatuh di bus," jelas Sofia.


"Eh begitu ya, yasudah nanti sehabis pulang sekolah kita langsung cari ke kantor bus itu. Barangkali mereka menemukan ponselmu dan menyimpannya sementara. Aku masih ingat nama busnya. Nama busnya adalah Sumber Kencana."


"Sumber kencana yah? Sepertinya aku tahu letak kantornya," ujar Ahsan yang dari tadi diam.


"Eh benarkah San? Yasudah nanti kamu ikut kami yah untuk pergi ke sana? Kamu bisa kan?" ucap Sofia.


"Ya tentu saja aku bisa hehe," ucap Ahsan dengan tertawa lebar.


"Ehhh aku engga diajak nih?" tanya Ruben.


"Tentu saja tidak, kau pasti hanya akan menyusahkan saja," ledek Ahsan.


"Ehhhhhh beneran aku ga diajak nih? Sofia? kamu mau kan ajak aku untuk ikut?" ucap Ruben dengan wajah memelas pada Sofia.


"Hahahaha lagi-lagi kamu dan Ahsan terlihat sangat akrab yah. Ya tentu saja kamu ikut," ucap Sofia dengan sedikit tertawa.


"Kami tidak akrabbb," teriak Ahsan dan Ruben bersamaan.


"Hahahaha tuh kan kalian akrab banget," ucap Sofia lagi. "Yasudah, sampai bertemu nanti lagi yah, dahhh," Sofia lalu pergi dari kelas kami.


Aku merasa kasihan pada Sofia karena ponselnya tertinggal di bus itu, akan tetapi di saat yang bersamaan aku juga merasa lega karena alasan ia tidak membalas pesanku kemaren adalah karena ponselnya tertinggal. Kini hanya tinggal satu pertanyaan yang masih mengganjal di pikiranku. Yaitu siapa gerangan laki-laki yang berangkat bersama Sofia pagi itu.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2