
Aku berjalan di antara dua sungai yang ujungnya menyatu. Aku melewati sebuah jembatan dan kemudian sampai di sebuah hutan yang sangat lebat. Pohon-pohon besar berjejer membentuk barisan.
Aku berjalan melewati jalan setapak yang tidak memiliki penerangan. Hanya cahaya bulan yang menjadi sumber cahaya. Tidak ada satu pun bintang yang terlihat di langit saat ini.
Ketika aku berjalan cukup lama, tiba-tiba aku sampai di tepi jurang. Di ujung tepi jurang tersebut, aku melihat seorang gadis seusiaku yang mengenakan gaun serba hitam tanpa alas kaki. Dia berdiri tepat di ujung tepi jurang hanya dengan menggunakan kaki kanannya. Ia terlihat seperti sedang menari mengikuti bulan, tapi entah kenapa air matanya tidak berhenti keluar.
Aku pun mendekati gadis itu hingga aku sadar bahwa gadis itu adalah Sofia. Aku tidak tahu kenapa Sofia bisa berada di tempat seperti ini. Saat aku akan berteriak memanggil namanya, tiba-tiba ia melompat ke jurang di depannya.
Aku lalu berteriak dan memanggil-manggil namanya.
"Sofiiaa... Sofiaa...," teriakku sambil melihat ke jurang yang terlihat tidak memiliki dasar. Setelah itu aku menangis tepat di tempat Sofia menari tadi.
"Galang sudah bangun?" tiba-tiba suara ibuku terdengar sambil mengetok-ngetok pintu kamarku.
Aku lalu membuka mataku dan menyadari bahwa aku baru saja mimpi buruk. Meskipun aku telah menyadari bahwa barusan hanyalah sebuah mimpi, tapi aku masih merasa ketakutan. Aku lalu mencoba menenangkan pikiranku dengan menarik nafas panjang-panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan.
"Oh iya bu ini baru bangun," ucapku yang masih merasa ketakutan.
"Yasudah kalau sudah bangun, ibu kebawah lagi."
Aku harap tidak terjadi apa-apa pada Sofia. Aku pun langsung mengirimi ia pesan lewat WA.
"Sof, apa kabar?" tulisku dalam pesan.
lima menit kemudian Sofia belum juga membalas pesanku. Aku mulai khawatir lagi. Aku pun mencoba untuk berpikir positif. "Mungkin Sofia sedang sibuk di pagi hari," begitu pikirku.
Sambil menunggu balasan dari Sofia, aku akan mandi terlebih dahulu. Ibuku bilang kalau mood kita sedang buruk, mandi akan membuat mood kita jadi lebih baik.
Setelah selesai mandi, aku kembali mengecek ponsel ku dan mendapati bahwa masih belum ada balasan dari Sofia. Aku pun menjadi semakin khawatir. Aku lalu mengirimi ia pesan lagi.
Berapa kali pun aku mengirimi ia pesan, tapi tetap saja tidak ada balasan. Aku pun mencoba untuk memanggilnya lewat WA, tapi selalu tidak ada jawaban. Aku jadi semakin khawatir pada Sofia.
***
Karena khawatir, aku putuskan untuk berangkat lebih awal hari ini. Aku ingin menemui Sofia terlebih dahulu sebelum upacara di mulai. Aku ingin tahu kenapa Sofia tidak membalas pesanku. Sejujurnya selain khawatir aku juga sedih Sofia tidak membalas pesanku.
"Aku berang dulu ya bu," ucapku sambil bergegas meninggalkan meja makan. Hari ini, aku berangkat setengah jam lebih awal dari biasanya. Aku pun berjalan cukup cepat kali ini. Setelah berjalan beberapa langkah, aku berpikir bahwa sebaiknya aku menggunakan sepeda saja kali supaya lebih cepat. Aku pun kembali ke rumah untuk mengambil sepeda.
Setelah itu, aku langsung mengayuh sepedaku cukup cepat. Ini pertama kalinya aku berangkat menggunakan sepeda. Tak sampai lima menit, aku sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah. Mulai dari sini aku harus menuntun sepedaku. Peraturan di sekolah ini mengatakan bahwa jika memasuki lingkungan sekolah, kita harus menuntun sepeda.
Aku tiba di sekolah sekitar pukul 06.30. Masih ada waktu sekitar satu jam lagi hingga upacara hari Senin dimulai. Karena masih sangat pagi, hanya beberapa murid yang terlihat memasuki sekolah. Begitu sampai di parkiran, masih sangat banyak ruang kosong. Aku pun segera memarkirkan sepedaku lalu buru-buru menuju ke kelas.
Sesampainya di kelas, belum ada satu pun orang yang datang. Setelah meletakkan tas ku di meja, aku langsung menghampiri kelas 10-6 yang terletak persis di sebelah ruang kelasku. Ternyata di kelas 10-6 terlihat baru satu siswa yang berangkat dan aku tidak mengenalnya. Sepertinya Sofia belum berangkat.
Aku pun menunggu di kursi yang terletak di depan luar kelasku sambil mengamati siswa-siswa yang baru datang. Dari sini, aku bisa melihat siswa yang baru datang di pintu gerbang. Jadi kalau Sofia sudah tiba di sekolah, seharusnya aku bisa melihatnya dari sini.
Setelah beberapa saat duduk, aku melihat Ayu si ketua kelas baru saja tiba menggunakan sepedanya. Ia pun terlihat menuntun sepedanya di lingkungan sekolah.
"Pagi Lang," tiba-tiba ada suara sapaan dari samping kiriku.
"Eh Cindy, pagi juga," jawabku. Ternyata suara itu adalah milik Cindy. Aku tidak menyadari kedatangannya. Terkadang Cindy terlihat begitu misterius.
***
Setelah sekitar 20 menit aku menunggu, akhirnya aku melihat Sofia tiba di sekolah. Akan tetapi aku sangat terkejut ketika menyadari bahwa ia tiba di sekolah bersama dengan seorang laki-laki. Sepertinya tadi mereka berangkat berboncengan. Tiba-tiba saja rasa khawatir yang tadi aku rasakan berubah menjadi rasa kecewa dan sakit. Rasanya begitu sesak di dada.
__ADS_1
Rasa sakit itu tidak hanya datang dari dia yang berboncengan dengan seorang laki-laki tapi juga karena ia tidak membalas pesan-pesanku padahal ia baik-baik saja. Dunia begitu cepat berputar, baru saja kemarin aku merasakan kebahagiaan, kini sudah berputar menjadi rasa sakit yang begitu menyesakkan dada. Aku seperti kehilangan semangat untuk hari ini.
Saat ini aku ingin sekali marah, tapi aku tidak tahu harus marah kepada siapa. Aku juga tidak tahu kenapa aku merasa sakit ketika mengetahui bahwa Sofia berboncengan dengan seorang laki-laki. Aku seharusnya senang bahwa ternyata ia baik-baik saja. Seharusnya aku tidak merasakan kecewa dan sakit seperti ini. Aku tidak tahu kenapa aku malah merasakan hal tersebut. Bahkan, saat ini aku ingin sekali segera pulang dan tidak melakukan apa-apa.
Setelah itu, aku pun langsung masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di kursiku. Sekarang sudah sekitar setengah jumlah siswa yang sudah berangkat.
***
Beberapa saat lagi hingga bel masuk berbunyi. Semua siswa terlihat sudah berangkat termasuk Ruben. Ruben datang cukup awal hari ini, sekitar pukul 07.20. Bagi Ruben itu sudah termasuk berangkat awal. Sementara itu Ahsan terlihat sangat mengantuk. Sejak ia datang, ia hanya tiduran di mejanya. Sepertinya ia habis begadang nonton bola.
Akhirnya bel pun berbunyi. Kami segera bergegas menuju lapangan upacara.
"Oi San bangun," ucap Ruben yang sudah mengenakan topi sambil mengguncang-guncang tubuh Ahsan.
"Heh ada apa?" ucap Ahsan. Raut mukanya menunjukkan bahwa ia masih butuh tidur paling tidak empat jam lagi.
"Kamu mau dihukum? Ayo cepat segera ke lapangan," ucap Ruben lagi.
"Oh iya tunggu lima menit lagi ya," ucap Ruben sambil kembali meletakkan kepalanya di meja.
"Bapakkau lima menit lagi, ayo cepat bangun oi," ucap Ruben lagi dengan penuh emosi.
Akhirnya Ruben langsung menarik Ahsan dan Ahsan pun berjalan dengan mata tertutup menuju lapangan upacara. Aku berjalan mengikuti mereka dari belakang.
***
Setelah upacara selesai, kami langsung bersiap-siap ganti baju untuk jam olahraga. Ahsan yang tadi terlihat sangat mengantuk, entah kenapa kini terlihat begitu semangat. Bahkan ia adalah orang pertama yang berada di lapangan olahraga dari pada yang lainnya. Dia terlihat seperti sudah menantikan jam olahraga dari sejak lama.
"Oi apa-apaan kau ini?" ucap Ruben pada Ahsan.
"Tadi kau terlihat sangat mengantuk, tapi kok sekarang kau terlihat begitu semangat," ucap Ruben.
"Ha? Memangnya kapan aku mengantuk? Bukannya aku selalu seperti ini sejak dari tadi?"
"Cih, terserah kau sajalah," ucap Ruben agak kesal.
Beberapa saat kemudian pak Budi datang. Setelah itu, Aji diminta pak Budi untuk memimpin pemanasan. Sepertinya Aji adalah orang sangat berbakat di bidang olahraga. Minggu lalu saja, catatan larinya adalah yang terbaik.
Materi olahraga kali ini adalah lompat jauh. Seperti dugaanku pada latihan pertama hari ini, Aji mencatatkan lompatan yang paling jauh di ikuti oleh Ahsan di peringkat kedua. Sepertinya Ahsan juga memiliki bakat di bidang olahraga.
***
Bel istirahat akhirnya berbunyi. Bu Joice yang sedang mengajar Matematika pun menghentikan sementara pembelajarannya.
"Oke anak-anak, kita teruskan nanti setelah istirahat yah," ucap Bu Joice.
"Baik bu," ucap para siswa. Setelah itu, bu Joice meninggalkan kelas.
"Oi Lang kenapa kau hari ini terlihat lemas begitu? Apa kau mengantuk juga sama seperti Ahsan," ucap Ruben sambil menunjuk Ahsan yang sudah mulai tertidur. Setelah jam olahraga berakhir, Ahsan kembali terlihat mengantuk. Aku tidak tahu kenapa cuma pas jam Olahraga saja ia terlihat bersemangat.
"Tidak, tidak apa-apa. Mungkin aku hanya kurang banyak makan saat sarapan tadi," ucapku sambil berusaha menyembunyikan rasa sakit di hatiku. Aku sepertinya belum bisa menceritakan masalah ini pada siapa pun.
"Oh begitu, yasudah ayo kita ke kantin saja kalau begitu. Kali ini kau harus siapkan mentalmu benar-benar yah sebelum terjun ke 'medan perang'," ucap Ruben penuh semangat. Sepertinya ia percaya pada alasanku tadi. Aku sebenarnya tidak bermaksud membohonginya, tapi aku juga tidak ingin membuatnya memikirkan masalah ku.
"Yasudah ayo kita ke 'medan perang'. Aku yakin kalau hari ini aku pasti bisa," ucapku dengan mencoba terlihat penuh semangat.
__ADS_1
"Okeee let's gooo," ucap Ruben.
Setelah itu aku dan Ruben pun langsung menuju ke kantin.
"Oiya Lang ngomong-ngomong kau sudah punya sepatu bola buat extrakulikuler besok?" tanya Ruben saat dalam perjalanan menuju kantin.
"Oiya aku hampir lupa, belum punya nih. Kau sendiri sudah punya?" tanyaku balik.
"Belum juga hahaha, aku juga baru ingat tadi pas kita olahraga. Ayo nanti sore setelah pulang sekolah kita beli bareng," ucap Ruben lagi.
"Boleh, tapi tunggu aku selesai piket yah. Aku piket hari ini soalnya."
"Oke lah gampang."
Setelah sampai di kantin aku langsung membeli roti isi cokelat dan jus jeruk. Seperti biasa suasana kantin sangatlah ramai. Kita bahkan sampai harus berdesakan untuk memesan makanan. Akhirnya untuk pertama kalinya aku bisa memesan makanannya. Setelah kami mendapatkan makanan, kami langsung bergegas menuju kelas.
"Kau pesan apa tadi Lang?" tanya Ruben.
"Aku pesan roti isi cokelat sama jus jeruk, kalau kau?" tanyaku balik.
"Kalau aku beli bakpao isi daging sama es teh," jawabnya.
"Eh kau beli bakpao sama es tehnya dua? Kau sedang kelaparan?" tanyaku keheranan saat menyadari bahwa Ruben membeli dua bakpao dan dua es teh.
"Hahaha tentu saja engga. Yang satu buat si ***** Ahsan haha," ucapnya sambil tertawa.
"Oh begitu ya."
Aku tak menyangka Ruben akan membelikan makanan untuk Ahsan yang sedang tertidur. Bahkan aku rasa tadi Ahsan tidak menitip pesanan apa-apa pada Ruben.
"Kau baik sekali yah Ben," ucapku pada Ruben.
"Ha?? Kau ngomong sih?" ucap Ruben sedikit heran.
"Iya kau baik mau membelikan Ahsan makanan tanpa ia minta sekalipun."
"Hehehe nanti kau akan melihat sesuatu yang menarik," ucap Ruben sambil memperlihatkan senyum liciknya. Sepertinya aku merasakan sesuatu yang aneh dari senyumannya itu.
Setelah sampai di kelas, Ruben langsung membangunkan Ahsan yang tengah tertidur pulas itu.
"WOI BANGUN," teriak Ruben sambil memukul meja milik Ahsan. Ahsan terlihat sangat kaget dan langsung bangun.
"Woi apa-apaan nich," ucap Ahsan dengan logat khasnya.
"Bangun kawan, ini ada makanan untukmu," ucap Ruben sambil memberikan roti dan es teh.
"Wah tumben kau baik hari ini," ucap Ahsan dengan sedikit tersenyum tapi ke dua matanya masih menginginkan untuk tidur.
"Yasudah cepat makan, sebentar lagi masuk nich," ucap Ruben menirukan logat Ahsan.
"Oke lach, selamat makan... Aaaap," ucap Ahsan yang langsung melahap roti pemberian Ruben tadi.
Setelah Ahsan mengunyah roti itu, tiba-tiba Ahsan berlari keluar dan segera memuntahkan makanannya.
***
__ADS_1
Bersambung