
Setalah cukup lama berenang, aku pun beristirahat sejenak sambil tetap berendam di pinggir kolam renang. Ahsan yang dari tadi terlihat asik bermain perosotan, kini malah menghilang entah kemana.
Aku lalu melihat ke arah utara dimana terdapat sebuah jam yang cukup besar. Aku melihat ke arah jam tersebut dan mendapati bahwa sekarang jarum pendek berada di angka 3. Kini, kondisi kolam pun nampak semakin sepi.
Setelah beberapa saat hanya berdiam berendam di pinggir kolam, aku pun kembali melanjutkan renang gaya bebas dari tepi ke tepi. Di saat aku sedang berenang, tiba-tiba saja ada orang yang melompat ke arah ku. Beruntung aku tidak terkena lompatan tersebut.
Aku pun langsung berhenti berenang dan mencari tahu siapa yang barusan melompat. Ternyata, yang barusan melompat itu adalah Ruben.
"Kau baik-baik saja Lang?" tanya Ruben ketika baru saja keluar dari air.
"Iya, untung tadi tidak kena. Kenapa kau melompat ke arah ku?" tanya ku keheranan.
"Tentu saja untuk mengagetkan mu hahahah," ucap Ruben sambil tertawa.
"Dari pada dibilang mengagetkan, itu terlihat lebih dekat ke arah menciderai ku," ucap ku.
"Haa? Apa-apaan itu? Sudah lah jangan terlalu dianggap serius," ucap Ruben.
Aku lalu kembali melanjutkan berenang ku. Sementara itu, Ruben kini juga terlihat ikut berenang.
***
Sekarang ini waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kami berdua pun memutuskan untuk berhenti berenang, dan segera membilas membersihkan diri.
Setelah selesai membilas membersihkan diri, kami pun segera pergi meninggal kan area kolam renang karena kolam renang akan segera tutup sebentar lagi. Kami pun lalu mengambil sepeda kami terlebih dahulu.
"Kau lapar gak Lang?" tanya Ruben.
"Lumayan sih," jawab ku yang memang merasa sedikit lapar.
"Bagaimana kalau kita cari makan dulu?" tanya Ruben lagi.
"Boleh. Mau cari makan dimana?" ucap ku.
"Sehabis berenang gini enaknya makan yang hangat-hangat, bagaimana kalau kita makan bakso di tempatnya ayahnya Sofia?" usul Ruben.
__ADS_1
"Boleh," jawab ku.
Kami pun lalu mulai mengayuh sepeda kamu menuju warung bakso milik ayahnya Sofia. Ngomong-ngomong sudah seminggu ini aku tidak berbicara dengannya. Kami hanya sesekali berpapasan di sekolah dan hanya saling lempar sapa dan senyum. Rasanya, sekarang aku benar-benar merasa jauh dengannya.
Kami mengayuh pedal sepeda dengan cukup cepat sekarang. Namun, suasana lalu lintas sekarang ini benar-benar padat. Kami pun cukup terhambat dalam perjalanan.
Kira-kira Sofia sedang ada di warung tidak yah? Jika ia berada di warung, kira-kira seperti apa ekspresinya jika nanti kita bertemu?
Semakin dekat dengan tujuan, jantung ku menjadi lebih berdebar-debar dan semakin cepat. Aku masih tidak mengerti kenapa jantung ku sedeg-degan ini bahkan hanya ketika aku akan menuju ke warung milik ayahnya yang belum tentu bertemu dengannya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana deg-degannya jantung ku jika nanti aku bertemu dengan Sofia.
Akhirnya kami pun sampai di warung bakso milik ayahnya Sofia. Aku baru sadar kalau nama warung bakso ini adalah warung "Bakso dan Mie ayam Cemerlang". Tulisannya sudah agak luntur, dan letaknya pun ada di tembok belakang gerobag. Jadi, agak ketutupan. Saat pertama kali sampai, jantung ku serasa seperti berhenti untuk beberapa saat.
Kami pun lalu langsung memesan dan suku di kursi yang masih kosong. Suasana warung sore kali ini lumayan ramai. Hanya ada tersisa dua meja yang kosong yang kini tinggal satu setelah kami tempati.
"Wah sepertinya Sofia sedang tidak ada di toko yah," ucap Ruben membuka percakapan.
"Sepertinya begitu," jawab ku.
"Wah kau pasti kecewa ya Lang, Sofia tidak ada di sini?" Hahahah," ledek Ruben.
"Heee kenapa kau berkesimpulan begitu? Kan kau sendiri yang mengusulkan untuk makan di sini," ucap ku.
"Aku benar-benar tidak mengerti," ucap ku.
"Bukannya kau udah kangen karena udah lama gak ketemu Sofia?" ucap Ruben lagi.
"Terserah kau sajalah," ucap ku.
"Hahahaha," Ruben tertawa lepas.
Tak lama berselang, pesanan kami pun datang. Namun, aku sangat terkejut ketika melihat orang yang membawakan pesanan kami ternyata adalah Sofia. Dia terlihat membawa tiga mangkok bakso dan tiga gelas es teh. Sepertinya Sofia juga akan makan bakso bersama kami. Jantung ku pun kini seperti berhenti untuk beberapa saat, lalu langsung berdetak dengan hebat dan cepat. Rasanya sedikit melemaskan tubuh ku hingga anggota tubuh ku terasa sedikit bergetar.
"Silahkan tuan-tuan," ucap Sofia dengan senyuman sambil meletakkan ketiga mangkok dan gelas yang dibawanya menggunakan nampan.
"Hahaha bisa saja kamu Sof," balas Ruben.
__ADS_1
"Hihihi kan sebagai penjual harus membuat puas pelanggan. Aku izin ikut makan yah tuan-tuan hihihi," ucap Sofia sambil tersenyum lalu duduk di sebelah Ruben.
"Kamu seharian bantu di warung kah Sof?" tanya Ruben sambil memasukkan sambal dan kecap.
"Ya begitulah, kebetulan aku juga tidak sedang ada tugas," jawab Sofia.
Jantung ku masih saja berdebar-debar dengan hebat hingga kini. Aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang. Apakah itu senang, sedih, kecewa, rindu, bahagia, atau apa, aku tidaklah tau. Aku tidak bisa mendeskripsikannya.
"Gimana acara pentas seni di sekolah adik mu Lang?" tiba-tiba Sofia bertanya padaku.
"Ee... E... Lancar, lancar kok," jawab ku sedikit gagap.
"Sebenernya aku juga pingin nonton acara pentas seni anak SD. Pasti lucu-lucu yah hihihi," ucap Sofia sambil tersenyum.
"Ya begitulah," ucap ku lirih.
Aku sungguh tak bisa merasa fokus sekarang. Tanpa sadar, aku memasukkan kecap terlalu banyak sehingga warna kuah bakso ku kini bewarna hitam khas kecap. Aku tidak paham sebenarnya apa yang tengah terjadi pada diri ku ini.
"Eh kau serius Lang makan kecap sebanyak itu?" tanya Ruben sedikit terkejut.
"Tentu saja enggalah. Tadi ga sengaja nuanginnya kebanyakan. Kalau bisa di reset sudah aku reset nih," ucap ku.
"Hahahaha bercandaan mu boleh juga," Ruben tertawa.
"Eh bercanda? Aku tidak sedang bercanda," ucap ku keheranan.
"Aku kira kamu sedang bercanda dan ingin membuat kami tertawa," ucap Ruben.
"Tentu saja bukan begitu. Mana mungkin aku bisa membuat kalian tertawa. Aku rasa aku tidak punya bakat melawak sama sekali," ucap ku.
"Mungkin kau lebih berbakat dari pada yang kau pikirkan loh hahahah," Ruben tertawa lagi.
"Sudah-sudah cepetan dimakan tuh baksonya, nanti keburu dingin," tiba-tiba Sofia berbicara.
Setelah Sofia berkata seperti tadi, kami bertiga pun lalu mulai menyantap bakso kami masing-masing. Rasa bakso yang tak sengaja aku masukin kecap terlalu banyak ini sungguh aneh dan terlalu manis. Aku pun lalu menuangkan cuka dan sambal lebih banyak lagi ke mangkok ku.
__ADS_1
***
Bersambung