
"Enggak, aku juga mau pulang dulu," jawab Renaldi datar yang lalu juga langsung berdiri dan mulai berjalan keluar kelas.
"Oi bukannya Renaldi juga agak terlihat aneh hari ini? Dia kelihatan hal bersemangat banget hari ini," ucap Ruben sesaat setelah Renaldi pergi.
"WOI KAN MEMANG RENALDI ORANGNYA SEPERTI ITU, MANA ADA YANG ANEH. OTAK KAU ITU YANG ANEH," ucap Ahsan dengan agak keras.
"Hahahaha becanda becanda. Kenapa kau sekarang-sekarang ini jadi cepat sekali marah? Kau lagi dapet yah? Hahaha," ucap Ruben mengejek Ahsan.
"Otak kau itu yang dapat," jawab Ahsan.
"Hahaha. Ya sudah, ayo kita segera ke kedai. Nanti keburu penuh," ajak Ruben.
***
Sesampainya di kedai kami langsung memesan minuman. Aku memesan teh bersoda, Ruben memesan jus mangga, sementara Ahsan memesan jus alpukat.
"Itu yang jus alpukat ditambahi cokelat yang banyak bisa gak Bu?" tanya Ruben.
"Oiii mau cari gara-gara kau yah? Enggak Bu. Engga usah di kasih cokelat," timpal Ahsan.
"Hahaha masa sih kau itu sampai sekarang gak suka cokelat? Atau paling engga bisa makan cokelat? Kau itu memang benar-benar aneh yah hahaha," ejek Ruben pada Ahsan yang memang tidak suka cokelat. Bahkan ia bisa langsung muntah-muntah hanya karena makan sesuatu yang rasanya cokelat.
"Berisik kau. Jangan kau, aku aja kadang masih bingung sendiri kenapa bisa tubuh ku menolak cokelat," timpal Ahsan.
Kami bertiga lalu langsung mencari tempat duduk yang masih kosong. Suasana kedai sore hari ini sedang-sedang saja. Tidak terlalu ramai, tidak juga terlalu sepi. Suasana yang seperti inilah yang mana terasa begitu nyaman.
"Gimana hubungan mu sama Celine Lang? Kalian sudah jadian yah? Wahhh cepat sekali kau jadian, padahal beberapa waktu yang lalu saat kami tanya apa kau suka sama Celine, kau jawabnya masih belum tau. Tapi pas kemaren denger kabar, kau malah udah jadian ama Celine. Wah wah wah," ucap Ruben membuka perbincangan.
"Eh jadian? Kata siapa? Aku tidak jadian sama Celine," jawab ku yang merasa terkejut Ruben juga mendengar kabar bahwa aku udah jadian sama Celine. Yang pertama tentu saja saat aku bertemu Tora di kedai burger dan dia juga bilang kalau ada kabar yang menyebutkan bahwa aku sudah jadian dengan Celine.
__ADS_1
"Eh engga jadian? Tapi bukannya kemaren-kemaren itu kalian habis pergi bareng yah?" Wah kau gak berbuat macam-macam kan pada Celine?" ucap Ruben lagi.
"Memang benar sih kalau kami berdua habis pergi bareng, tapi kami enggak jadian. Waktu itu aku hanya nemenin Celine nonton saja. Tapi pas sampai di tempatnya, tiketnya malah ketinggalan," jawab ku.
"Hmm tunggu dulu. Berarti Celine yang mengajak mu yah?" tanya Ruben lagi.
"Ya begitulah," jawab ku.
"Wahhhh fiks ini... Fiksss," ucap Ruben dengan bersemangat.
"Fix apanya?" tanya ku.
"Masa sih kamu masih belum menyadarinya juga? Hadeuhhh. Apa iya aku harus memberitahu mu akan hal itu?" ucap Ruben lagi.
"Menyadari apa? Aku benar-benar tidak mengerti," jawab ku yang benar-benar tidak tahu apa maksud Ruben tersebut.
"Hadeuh hadeuh. Walaupun kau itu pandai, tapi ternyata kau itu sama sekali tidak mengerti tentang masalah seperti ini yah? Hadeuh, kelabu sekali hidup mu itu," ucap Ruben.
"Dengarkan baik-baik ya Lang. Tadi kan kau bilang yang mengajak untuk menonton adalah Celine kan?" tanya Ruben yang mana nada suaranya mulai serius.
"Iya, yang mengajak ku itu Celine. Terus?" tanya ku lagi.
"Dari situ sudah bisa disimpulkan bahwa Celine itu pasti menyukai mu," ucap Ruben yang mana langsung membuat ku begitu terkejut. Kenapa bisa Ruben mengambil kesimpulan dengan sangat enteng tentang sesuatu seperti perasaan seorang gadis?
"Kenapa kau bisa menyimpulkan perasaan seorang gadis hanya karena ia mengajak seseorang untuk pergi bersamanya? Bukankah sesuatu seperti perasaan suka atau cinta itu lebih kompleks dari apa yang hanya sekedar bisa kita lihat?" jawab ku.
"Haa? Kenapa ucapan mu itu rumit sekali. Sudahlah itu tidak penting. Dari hal itu saja sudah bisa disimpulkan kalau Celine itu suka sama kau Lang. Seharusnya kau bersyukur hahaha," ucap Ruben sambil tertawa.
"Hahaha kau pasti senang yah kalau Galang dan Celine jadian? Berarti kau bisa mendekati Cindy dengan leluasa kan? Hahaha," ledek Ahsan.
__ADS_1
"Haaa? Apak kau gak punya cermin yah? Bukannya kau juga merasa senang juga? Dengan begitu kau juga bisa mendekati Sofia dengan leluasa kan?" ejek Ruben balik.
"Cihhhh," gumam Ahsan.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian ributkan sih? Kalian tambah membuat ku bingung," jawab ku.
"Hadeuh heduh. Sudah, tidak usah pedulikan kami. Yang jelas, lebih baik kau dekati Celine aja dan lalu kau tembak dia. Sudah pasti kau akan diterimanya," ucap Ruben dengan yakin.
"Kenapa aku harus melakukan hal seperti itu? Aku tidak mau melakukannya," jawab ku.
Di saat obrolan menjadi semakin dalam, tiba-tiba saja ibu-ibu penjaga kedai datang membawakan pesanan kami. Entah kenapa hal tersebut membuat suasana menjadi lebih longgar dari sebelumnya yang mana terasa begitu ketat.
"Hadeuh hadeuh... Bu Yanti... Bu Yanti... Munculnya pas banget," ucap Ruben.
"Apanya yang pas dek Ruben?" ucap Bu Yanti dengan logatnya yang begitu medok(logat Jawa).
"Hehehe engga, engga Bu. Matur nuwun (terima kasih) bu Yanti...." ucap Ruben yang mana Bu Yanti pun langsung kembali pergi setelah selesai mengantarkan pesanan kami itu.
"Hahaha ngomong-ngomong pembahasan kita tadi udah sampai mana?" Ahsan.
"Hahaha gara-gara Bu Yanti jadi lupa sampai mana hahahaha. Ya sudah lah ganti topik aja lah. Lagi pula juga bukan kayak kita aja ngomongin soal yang berat-berat seperti ini," timpal Ruben.
***
Setelah selesai dari kedai tadi, aku langsung pulang menuju ke rumah. Namun saat aku sudah sampai di depan rumah, tiba-tiba aku kepikiran untuk mampir terlebih dahulu ke toko. Entah kenapa, tiba-tiba saja hati ku menuntun ku ke sana.
Sejujurnya, di sepanjang jalan pulang tadi, aku terus kepikiran soal obrolan ku, Ahsan, dan Ruben saat di kedai tadi. Entah kenapa walaupun pada akhirnya obrolan kami berganti topik, akan tetapi topik yang pertama kali dibicarakan itu masih terngiang-ngiang terus di kepala ku sejak saat itu.
Sesampainya di toko, aku langsung berjalan ke arah belakang dan masuk ke dalam ruang yang fungsinya hampir mirip dengan dapur. Di ruang ini, bentuk dan peralatannya hampir sama dengan dapur, atau mungkin malah sama. Di sini ada kompor, kulkas, dispenser, oven, dan lain-lain. Tujuan utama ku masuk ke ruang ini adalah untuk minum segelas air. Entah kenapa setelah memikirkan hal tadi itu, aku jadi merasa begitu haus.
__ADS_1
***
Bersambung