Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 111: Festival Hari Kedua


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan pukul 07.25, akan tetapi Cindy masih juga belum menampakkan dirinya. Aku rasa, aku seperti mengkhawatirkannya lebih dari biasanya, entah kenapa.


"Oi Lang, Ben, San, sini ke sini. Kita bahas strategi dulu sebelum bertanding," ucap Aji dari depan kelas.


Aku, Ahsan, dan Ruben lalu langsung menghampiri Aji seperti yang ia katakan. Tomi, Calvin, Fahmi, dan Renaldi pun sudah terlihat berkumpul terlebih dahulu.


"Seperti biasa, kita akan memainkan pola permainan yang hampir sama dengan kemaren, bedanya untuk pertandingan melawan 10-9 nanti, tolong salah satu dari kita harus ada yang menjaga Robi. Aku rasa sebaiknya jangan Renaldi yang menjaganya karena Robi biasanya bermain agak ketengah. Berarti, tiga pemain yang lain harus menjaganya secara bergantian, mengerti?" ucap Aji memberi arahan.


"Mengerti," jawab kami kompak.


"Seperti biasa, untuk awal pertandingan, pemain yang akan turun adalah Ruben, aku, Renaldi, Galang, dan Ahsan, apakah ada yang keberatan?" tanya Aji lagi.


Kami semua menggeleng tanda setuju dengan Aji.


"Kalau begitu, tinggal kata-kata dari kapten kita, Galang," ucap Aji yang membuat ku terkejut.


"Eh aku? Apa yang harus aku bicarakan? Bukannya semuanya sudah dibahas oleh mu Ji?" tanya ku.


"Hahaha sudah ku duga Galang akan berbicara seperti itu. Maksudnya Aji itu, sebagai kapten tim sebaiknya kau juga memberi kata-kata motivasi supaya kita menjadi lebih semangat dan kompak," timpal Ruben.


"Hahaha tumben Ruben mengerti," ledek Ahsan.


"Haaa? Apa kata mu? Mau ngajak ribut pagi-pagi begini?" tanya Ruben.


"Hahaha sudah-sudah masih pagi. Ayo Lang katakan sesuatu," ucap Aji sambil sedikit tersenyum.


"Sejujurnya, aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk saat ini. Aku benar-benar tidak memiliki pengalaman untuk berbicara apa lagi memotivasi orang lain seperti saat ini. Jadi, aku hanya akan mengatakan bahwa... Bermainlah dengan tenang, enjoy, gembira, saling percaya satu sama lain, dan tentunya selalu berusaha menampilkan yang terbaik," ucap ku.


Kami berdelapan lalu membentuk lingkaran kecil lalu melakukan tos bersama-sama. Saat aku kembali melihat ke arah jam dinding, ternyata sekarang sudah masuk pukul 07.35. Aku bahkan tidak mendengar bel berbunyi tadi, atau aku terlalu fokus pada persiapan kita tadi? Atau memang, bel sengaja tidak dibunyikan? Entahlah.

__ADS_1


Aku lalu melihat ke arah kursi milik Cindy yang ternyata masih kosong. Tidak biasanya Cindy terlambat seperti sekarang ini. Atau mungkin, dia tidak berangkat hari ini? Aku jadi semakin khawatir.


Aku lalu kembali ke tempat duduk ku untuk memakai sepatu futsal dan perlengkapan lainnya. Aku jadi kepikiran tentang Cindy yang hingga saat ini belum berangkat. Apakah mungkin hari ini Cindy tidak masuk? Dan kalau memang benar, kira-kira apa yang terjadi padanya hingga ia tidak masuk? Aku semakin tenggelam dalam lamunan ku.


"Oi Lang, pake sepatu aja lama banget. Kamu lagi ngelamun yah?" Ruben tiba-tiba menepuk pundak ku dari arah belakang dan membuat ku sedikit terkaget.


"Oh iya, aku sedang ada sedikit pikiran," jawab ku yang kembali fokus untuk menali sepatu futsal ku.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Kau ada hutang? Atau kau lupa mematikan keran kamar mandi mu?" ucap Ruben asal menebak.


"Bukan, bukan seperti itu," jawab ku.


"Oi oi, kira-kira dong Ben. Galang itu bukan kau yang banyak hutang dan sering melupakan keran air mu tetap menyala," timpal Ahsan yang terlihat sudah siap memakai perlengkapan futsal.


"Aku tidak banyak hutang, kau itu sembarangan sekali kalau ngomong," timpal Ruben.


"Cu-cu-ma ka-dang-kadang kok," jawab Ruben terbata-bata.


"Hahaha benar kan," Ahsan tertawa keras.


"Ayo kelapangan Lang, Ben, San," ajak Aji.


"Sebentar lagi Ji, Galang masih memakai sepatu nih," jawab Ruben.


"Kalian pergi ke lapangan terlebih dahulu gak papa, aku pasti akan langsung menyusul kalau sudah selesai," jawab ku.


"Selesaikan saja dulu, kita akan ke lapangan bersama-sama," ucap Aji.


Aku lalu segera menyelesaikan memakai perlengkapan futsal. Setelah selesai, kita pun langsung pergi ke lapangan bersama-sama, termasuk para anggota kelas yang lain.

__ADS_1


"Oiya ngomong-ngomong kalian lihat Cindy? Sepertinya dia belum berangkat, apa ada yang tahu?" tanya ku saat sedang dalam perjalanan menuju ke lapangan.


"Oiya karena kau ngomong tentang Cindy aku juga jadi ingat kalau aku belum melihatnya hari ini," timpal Ruben.


"Halahh... Jangan pura-pura begitu Ben. Aku tau kau pasti sudah sangat khawatir kan? Ayo ngaku saja. Kau pasti sudah sangat khawatir karena Cindy belum juga datang hingga sekarang," ucap Ahsan.


"Haaa? Apa maksud mu? Aku benar-benar baru kepikiran," ucap Ruben yang entah kenapa mukanya berubah sedikit agak memerah. Meskipun lidahnya mengatakan tidak, akan tetapi raut wajahnya mengatakan yang sebaliknya.


"Hahaha muka mu memerah tuh. Sudah jujur saja," ucap Ahsan lagi.


"Oh Cindy. Aku liat tadi pagi. Ia sudah berangkat kok. Ia berangkat sebelum kalian bertiga datang. Sesaat sebelum Galang datang tadi, Cindy sudah terlebih dahulu pergi. Saat aku tanya mau kemana, ia menjawab akan pergi ke perpustakaan untuk melanjutkan cepernya. Ia bilang ia akan segera kembali jika waktu pertandingan futsal sudah tiba. Jadi, kemungkinan Cindy juga akan hadir di lapangan nanti," jelas Aji yang membuat ku merasa tenang.


***


Kedua tim kini sudah berada di tengah lapangan dan sebentar lagi pertandingan akan segera dimulai. Setelah tadi menentukan siapa yang mendapat bola dan siapa yang memilih letak gawang, kini wasit sudah bersiap meniup peluit tanda dimulainya pertandingan.


Bola akan terlebih dahulu dimulai dari sisi 10-9. Pritttt. Peluit tanda dimulainya pertandingan akhirnya dimulai. Para pemain futsal dari 10-9 hampir semuanya berasal dari anak yang mengikuti ekstrakulikuler sepak bola, yaitu Didit, Rizky, Adit, dan Robi. Hanya si kiper yang tidak berasal dari anak-anak ekstrakulikuler sepak bola.


Menurut Aji, pemain yang paling berbahaya dari kelas 10-9 adalah Robi. Jadi, kami akan lebih fokus untuk menjaganya dari pada pemain yang lain. Kami bertiga selain Renaldi akan bergantian untuk menjaganya.


Robi kini tengah menguasai bola di lini tengah dan sedang dibayang-bayangi oleh Aji. Gerakan Robi terlihat sangat halus dan bola terlihat seperti selalu melekat di kakinya. Kemana pun ia menggiring bola, ia terlihat selalu bisa menjaganya.


Kini Robi sedang mencoba untuk melewati Aji. Set set, dengan kecepatan dan manuvernya yang tak terduga itu, ia berhasil melewati Aji dan langsung berlari menuju ke area pertahanan. Aku pun tak tinggal diam dan langsung menghadangnya. Sesaat setelah aku sampai di hadapannya, dia dengan cerdik mengumpan ke rekan satu timnya yang sedang dalam posisi kosong.


Didit yang menerima umpan matang dari Robi itu pun langsung menendang bola ke arah gawang. Beruntung, tendangan Didit masih belum menemui sasaran dan hanya mengenai jaring di sebelah luar.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2