
Pada hari Senin, di waktu istirahat pertama, sehari setelah aku dan yang lain pergi berlibur ke Borobudur, Ruben terlihat sedang menonton sesuatu di layar ponselnya.
"Youtuber bang?"
"Bukan."
"Streamer bang?"
"Bukan"
"Wah gak jadi konten nih ya."
"KU BILANG BUKAN YA BUKAN."
"Ih KOK NGAMOK."
"Hahaha," suara tawa Ruben saat sedang melihat ke layar ponselnya.
"Ketawa kenapa kau Ben? Sudah gila yah ketawa-ketawa sendiri?" timpal Ahsan.
"Otak kau itu yang gila. Ini aku lagi lihat video lucu," ucap Ruben yang mana masih terlihat sedikit tertawa itu.
"Haa? Coba lihat mana," Ahsan lalu ikut melihat ke arah layar ponsel Ruben itu.
"Hahahaha, langsung ngegas dia," Ahsan lalu langsung tertawa setelah melihat video yang tadi membuat Ruben tertawa.
"Lucu kan? Gimana?" ucap Ruben.
"Hahaha lucu ternyata, ada lagi gak Ben?" tanya Ahsan lagi.
"Ada nih," Ruben lalu menunjukkan layar ponselnya lagi kepada Ahsan.
"Oi Lang kau mau sekalian lihat gak?" tanya Ruben mengajak ku.
"Boleh," aku lalu berjalan ke belakang ke kursi Ruben dan langsung ikut menonton video di ponsel milik Ruben itu.
***
"Gimana Lang? Kau suka gak? Lucu-lucu gak?" tanya Ruben setelah kita bertiga selesai menonton kumpulan video lucu yang ada di ponselnya.
"Menurut ku ada beberapa yang lucu ada juga yang biasa aja," jawab ku.
"Begitu yah," timpal Ruben.
Tet tet tet. Bel tanda berakhirnya istirahat pertama akhirnya berbunyi. Aku pun lalu langsung kembali ke tempat duduk ku untuk bersiap memulai jam pelajaran selanjutnya.
__ADS_1
***
"Oi Lang mau ikut ke kantin gak?" tanya Ruben.
"Boleh," jawab ku.
"Kau ikut gak San?" tanya Ruben pada Ahsan.
"Haaa? Aku lagi mager nich. Aku titip aja yach?" tanya Ahsan.
"Cih malah titip. Ya udah mau titip apaan kau?" gumam Ruben.
"Hehehe tumben kau baik. Aku titip minum aja. Terserah mau apa yang penting jangan cokelat," ucap Ahsan.
"Okehhh," ucap Ruben dengan senyuman yang sedikit mencurigakan.
"Oi oi oi, senyum mu terlihat mencurigakan. Kau tidak sedang merencanakan sebuah rencana busuk kan?" ucap Ahsan yang curiga dengan senyuman Ruben yang memang terlihat begitu mencurigakan.
"Ha??? Tentu saja engga," meskipun Ruben berkata tidak, namun ekspresi wajahnya berkata hal yang sebaliknya.
"Cihhhhhh. Salah aku memberikan mu pujian tadi. Dari muka mu itu, sudah ketahuan rencana busuk mu. Ya sudah lah aku ikut aja ayo," ketus Ahsan yang langsung bangkit dari posisi duduknya.
"Hahahaha akhirnya kau malah ikut juga yah," ucap Ruben dengan suara tawanya. Kami bertiga pun lalu langsung menuju ke kantin.
"Oi kalian perhatikan gak sifat Aji hari ini?" tanya Ruben tiba-tiba membahas soal Aji.
"Masa kamu gak menyadarinya sih?" ucap Ruben lagi.
"Sebenarnya, aku tidak terlalu memperhatikannya hari ini. Jadi, aku tidak tahu apakah ia benar-benar agak berbeda atau tidak dari biasanya," jawab ku lagi.
"Kalau menurut mu gimana San?" tanya Ruben.
"Mmm menurut ku juga sama kayak menurut mu Ben. Hari ini, Aji memang terlihat berbeda dari biasanya," jawab Ahsan sambil memegangi dagunya.
"Benar kan... Tapi kira-kira kenapa yah," ucap Ruben lagi.
"Yang dimaksud kalian dengan berbeda dari biasanya itu bagaimana?" tanya ku yang masih belum mengerti.
"Yang kami maksud itu, Aji hari ini itu terlihat agak pendiam dan entah kenapa dari raut wajahnya seperti sedang menahan beban yang amat berat sampai-sampai wajahnya keliatan tua banget tadi hahaha," Ruben masih sempat-sempatnya membuat sebuah lelucon.
"Oh begitu yah. Karena kau bilang begitu, aku jadi ingat memang tadi raut wajahnya agak sedih," jawab ku.
"Nah kannnn. Dari mana aja kau Lang baru sadar," ketus Ruben.
"Maaf maaf," jawab ku.
__ADS_1
Kami bertiga akhirnya sampai di kantin sekolah. Kami bertiga lalu langsung membeli dan memesan makanan/minuman dan lalu langsung duduk di salah satu kursi dan meja yang masih kosong.
"Bagaimana kalau kita langsung tanya saja pada Aji soal itu tadi?" usul Ruben.
"Kalau kita tanya langsung, pasti dia bakalan jawab gak papa," ucap Ahsan.
"Wah benar juga yah. Terus bagaimana dong? Apa kita diemin aja? Hahaha," ucap Ruben sambil tertawa.
"Kalau menurut ku, kita tunggu aja sampai besok atau Rabu. Mungkin dia terlihat seperti itu karena kurang sehat atau kelelahan atau semacamnya. Kalau besok atau Rabu Aji sudah terlihat seperti biasa lagi, berarti benar kalau saat ini ia memang sedang kurang sehat atau semacamnya," ucap ku.
"Hmmm. Boleh juga tuch. Ya udah kita tunggu aja yah 1 sampai dua hari," timpal Ahsan.
"Okedech," ucap Ruben yang menirukan logat Ahsan.
***
Tet tet tet. Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Kami pun lalu langsung mengakhiri jam pelajaran terakhir ini dan segera bersiap-siap sebel pulang.
Semenjak tadi aku, Ruben, dan Ahsan membahas soal Aji. Aku jadi kepikiran terus dan aku pun jadi lumayan sering memperhatikan tingkah lakunya selepas itu. Memang benar, Aji tampak begitu berbeda dari pada hari-hari biasanya.
Dia yang biasanya sering tertawa, tersenyum, aktif saat jam pelajaran, kini terlihat sedih, murung, dan kurang bersemangat. Dari situ aku mulai yakin bahwa mungkin Aji sedang tidak sakit atau kurang sehat atau semacamnya seperti yang aku pikir sebelumnya, kini aku mulai berpikir kalau aji memang sepertinya sedang menghadapi sebuah masalah yang cukup serius.
"Oi Ji, mau ikut gak?" teriak Ruben sambil menghampiri kursi Aji.
"Kemana?" jawab Aji datar dan lirih.
"Nongki nongki dungss," jawab Ruben.
"Nongki? Apa itu?" tanya Aji dengan nada suara yang masih datar dan lirih.
"Hahaha maksudnya nongkrong dong. Rencananya aku, Galang, sama Ahsan mau pergi ke kedai minuman nih habis ini. Kau mau ikut?" ucap Ruben.
"Oh begitu, tapi kayaknya aku hari ini gak bisa ikut deh. Aku mau langsung pulang aja. Sori yah," jawab Aji datar dan lalu langsung bangkit dari tempat duduknya dan lalu langsung berjalan keluar kelas dengan tatapan agak kosong.
"Wah bener-bener nih. Sepertinya ini sih bukan karena dia sedang sakit atau semacamnya, tapi memang sepertinya dia sedang ada masalah. Kau tahu sesuatu Di?" tanya Ruben tiba-tiba pada Renaldi yang mana memang tempat duduknya sangat dekat dengan Aji itu.
"Entahlah, Aji sudah seperti itu semenjak pulang dari liburan kemaren," jawab Renaldi dengan nada yang serius dan tebal. Renaldi memang selalu berbicara dengan cara seperti itu.
"Begitu yah. Hmmm... Sepertinya sebentar lagi ditektif Ruben akan beraksi nih," ucap Ruben sambil memegangi dagunya itu.
"Haaa apa-apaan tuch?" timpal Ahsan dengan logat khasnya.
"Kalau begitu ya sudah. Kami duluan dulu ya Di. Oiya ngomong kau mau ikut kami gak ke kedai?" tanya Ruben.
***
__ADS_1
Bersambung.