
"Tapi sayang banget yah tadi kita kalah. Padahal tinggal sedikit lagi," ucap Fahmi.
"Iya, aku sebenarnya juga agak sayang. Padahal udah imbang dan waktu sudah kurang dari satu menit. Kak Taufik memang hebat, bisa mencetak gol dari jarak sejauh itu. Pantaslah kalau dia jadi penyerang terbaik di sekolah ini," timpal Aji.
"Kira-kira nanti laga final bakalan mempertemukan kak Taufik sama siapa ya?" celetuk Fahmi lagi.
"Kalau prediksi ku si kak Taufik dan kawan-kawan bakalan ngelawan kak Jo," jawab Aji.
"Kak Jo? Siapa kak Jo?" tanya Fahmi tidak mengerti.
"Oh iya aku lupa. Kau kan gak ikut ekstrakulikuler sepak bola ya. Kak Jo itu kapten tim sepak bola kita dari kelas 12 IPA 4 yang bakalan bertanding sebentar lagi," jawab Aji.
"Wah kayaknya seru tuh kalau mereka ketemu. Jadi gak sabar pengin liat," ucap Fahmi antusias.
"Oi Lang kenapa kau diam saja? Kau masih terngiang-ngiang wajah cantik Celine yah? Hahaha," tiba-tiba Ruben berkata pada ku.
"Eh apa? Celine? Engga-engga. Aku hanya lagi membayangkan pola permainan kak Jo kalau bermain futsal. Dari kemaren aku belum sempet nonton kak Jo dan timnya," jawab ku.
"Alah... Jangan alasan deh... Pasti kau lagi membayangkan wajah cantik Celine kan?" tuduh Ruben lagi.
"Jangan-jangan malah kau sendiri yang sedang menayangkannya Ben hahahaha," timpal Calvin.
"Ssttttt. Itu lihat pemain dari kedua belah pihak sudah mulai masuk kelapangan tuh. Sebentar lagi bakalan dimulai," ucap Aji.
"Dari tadi sebentar lagi-sebentar lagi terus hahaha," timpal Fahmi.
"Hahaha tapi kalo ini beneran tinggal sebentar lagi," ucap Aji sambil tersenyum.
Kini kedua kapten dari kedua belah tim terlihat sedang bertemu didampingi wasit untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan bola atau gawang terlebih dahulu. Tentu saja kak Jo bertindak sebagai kapten dari kelas XII IPA 4.
__ADS_1
Setelah perundingan selesai, kak Jo terlihat langsung menuju ke arah bola. Sepetinya di babak pertama, kelas mereka yang akan memulai bola terlebih dahulu.
Pritttt. Peluit tanda dimulainya babak pertama pertandingan semifinal 2 yang mempertemukan kelas 12 IPA 4 melawan 12 IPS 4 akhirnya terdengar. Seperti yang sudah aku bayangkan sebelumnya, kak Jo pasti akan sangat mendominasi lini tengah.
Suara riuh dari supporter kedua tim terdengar begitu meriah. Sejak saat permainan akan dimulai, mereka sudah mulai menyanyikan yel-yel dari tim mereka masing-masing.
"Oi Lang lihat, Celine udah kembali lagi tuh," ucap Ruben sambil sedikit berbisik.
Aku lalu melirik ke arah yang dimaksud oleh Ruben. Ruben benar Celine terlihat sudah kembali ke tempatnya tadi setelah tadi sempat pergi. Saat aku memandang wajahnya, aku merasakan sensasi yang hampir sama ketika dulu pertama kali melihat senyum milik Sofia dan Cindy. Aku pun tidak tahu kenapa aku merasakan sensasi yang tidak biasa ini.
Jantung berdebar lebih cepat dan lebih kencang dari pada biasanya. Dada sedikit terasa sesak, namun entah kenapa begitu menenangkan. Aku sungguh bingung dan tak mengerti.
Aku lalu kembali fokus menonton pertandingan. Kali ini, terjadi perebutan bola yang cukup sengit di arah tengah lapangan. Kak Jo terlihat sedang berduel 1 lawan 2 memperebutkan bola dan entah bagaimana caranya, kak Jo berhasil mendapatkan bola liar tersebut dan sekaligus melewati kedua pemain tersebut. Benar-benar seperti yang diharapkan dari seorang kapten tim ekstrakulikuler sepak bola.
Suara riuh dan tepuk tangan langsung menggema begitu kak Jo melakukan aksinya tadi. Penonton seakan begitu menikmati teknik yang dimainkan kak Jo barusan.
***
Gol tersebut lahir dimenit-menit akhir babak pertama. Umpan matang kak Jo disambut dengan sepakan keras dari dalam kotak penalti yang tidak bisa dihalau oleh kiper lawan.
Kini, pemain dari kedua belah tim terlihat sedang beristirahat sekaligus membahas strategi yang akan mereka gunakan di babak kedua nanti. Begitupun dengan para supporter dari kedua tim. Mereka terlihat pasif di waktu istirahat babak pertama ini.
Secara keseluruhan, permainan tim kak Jo lebih cenderung bermain dengan tempo yang tidak terlalu cepat, tidak seperti yang dimainkan oleh kak Taufik dan teman-temannya yang bermain dengan tempo yang begitu cepat. Kak Jo dan teman-temannya terlihat lebih santai dan menunggu momen. Mereka tidak akan terburu-buru membawa bola ke depan. Mereka akan bersabar menunggu hingga menemukan waktu yang tepat.
Jika aku boleh berpendapat, permainan kak Jo dan teman-temannya begitu mirip dengan pola permainan yang aku dan teman-teman ku mainkan. Kami tidak terlalu terburu-buru maju ke depan jika sedang menguasai bola, kecuali jika sedang ada sebuah serangan balik.
"Oi Lang, mau ikut ke kantin gak?" teriak Ruben yang sudah berdiri di belakang sana. Di sampingnya sudah berdiri Ahsan, Fahmi, dan Calvin.
"Oh iya ikut," ucap ku.
__ADS_1
Kami pun lalu langsung pergi ke arah kantin. Sesampainya di kantin, suasana begitu ramai. Tidak ada tempat yang tersisa untuk kami duduk atau semacamnya.
"Wah penuh nih, gimana?" tanya Calvin.
"Gimana yah, ada ide gak San?" tanya Ruben.
"Hahaha tentu saja ada. Aku tau, pasti akan ada saat-saat seperti ini yang akan terjadi, jadi aku sudah mempersiapkan alternatif lain selain kantin," ucap Ahsan sambil menyengir.
"Ngomong apa kau ini? Terdengar seperti bukan kau saja," ucap Ruben.
"Wah dimana tuch San?" tanya Fahmi yang menirukan logat khas Ahsan.
"Wah wah wah, apa-apaan tuch? Ayo ikut aku," Ahsan lalu langsung berjalan memimpin kami. Kami pun lalu mengikutinya dari belakang.
"Mau kemana nich? Kenapa kita seperti akan meninggalkan sekolah?" tanya Fahmi yang lagi-lagi menirukan logat khas Ahsan.
"Oi Mi, jangan terus-terus menirukan Ahsan. Nanti kau ketularan bodoh loh," ucap Ruben sambil memonyongkan bibirnya.
"Lagi-lagi ada orang bodoh yang menyebut orang lain bodoh. Aku jadi kasian, jangan-jangan orang bodoh ini tidak sadar kalau dirinya itu bodoh hahaha," timpal Ahsan.
"Hahaha kata-kata mu terlalu banyak memuat kata bodoh. Aku jadi tidak terlalu paham," balas Ruben.
"Ya mana kau paham, kau kan orang bodoh itu hahaha," Ahsan tertawa keras diikuti oleh yang lainnya.
"Wah sepertinya memang kita akan keluar dari area sekolah yah San?" tanya Calvin.
"Tunggu saja. Sesampainya di sana, kalian pasti akan mengerti," ucap Ahsan yang terus menerus melanjutkan langkahnya dengan mantap.
***
__ADS_1
Bersambung