Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 135 : Sepi Di Tengah Keramaian


__ADS_3

Tepat pukul 20.15, acara api unggun resmi ditutup. Kami semua kini berangsur-angsur pergi meninggalkan tempat ini.


Sejak saat bertemu Cindy tadi, kita berdua belum berbicara satu sama lain lagi. Kini, ia pun seakan selalu menghindari ku. Aku masih belum tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas, dada ku entah kenapa terasa begitu sesak dan menyakitkan.


"Oi Lang mau sampai kapan kau mau berdiri di situ? Kalau enggak cepat nanti kami tinggal loh?" ucap Ruben yang memecah lamunan ku.


"Oh iya maaf, aku ke situ sekarang," aku lalu berjalan menghampiri Ruben dan Ahsan yang sudah menunggu ku.


"Kau kenapa sih? Sejak saat dari kamar mandi tadi, kau jadi sedikit agak aneh. Kau juga jadi sering diam begitu. Kau cepirit di celana yah?" ucap Ruben menduga-duga.


"Oh engga. Gak papa kok. Mungkin aku cuma sedikit lelah aja," jawab ku.


"Akhirnya, festival ini selesai yah. Aku senang kita melakukan banyak hal di acara ini," ucap Ruben.


"Kau mau menyombongkan pencapaian juara satu mu?" ledek Ahsan.


"Haaa? Kenapa kau bicara begitu? Aku tidak bermaksud begitu," sangkal Ruben.


"Iya-iya," jawab Ahsan singkat.


***


"Samapai jumpa hari Senin Lang," ucap Ruben sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Yaa," jawab ku.


Ruben dan Ahsan lalu pergi ke arah selatan, sementara aku pergi ke arah utara. Di akhir festival seperti ini, kenapa malah aku harus merasakan rasa sakit yang sangat menyesakkan dada ku ini. Cindy benar-benar tidak mau bicara dengan ku tadi.


Aku berjalan dengan perlahan. Berjalan di bawah langit malam yang gelap dan dingin. Cahaya lampu jalanan, entah kenapa terasa tak seterang biasanya. Jaket yang aku pakai sekarang ini, entah kenapa tidak bisa menahan hawa dingin dari kesepian yang menerpa ku saat ini. Jantung ku juga entah kenapa terasa seperti tidak berdetak normal seperti biasanya. Rasanya sungguh menyakitkan.


Di persimpangan jalan yang biasanya aku mengambil arah kiri, kini aku mengambil arah kanan. Arah kanan ini, menuntun ku ke arah jalan memutar dari pada jalan yang biasanya. Aku pun harus berjalan lebih jauh lagi dari biasanya karena juga ada perbaikan jalan di sebelah taman yang sepertinya belum selesai juga.


Diantara batas pandangan ku. Aku melihat puncak gunung dan gerombolan awan bertemu. Aku tahu itu mungkin cuma ilusi optik saja, tapi rasanya entah kenapa begitu nyata.


Suasana jalan saat ini tentu saja sangat ramai. Apa lagi sekarang adalah malam minggu. Tentu kalian bisa membayangkan betapa ramainya kondisi jalanan saat ini. Banyak sekali orang yang sedang berada di luar saat ini. Meskipun begitu, entah kenapa aku masih saja merasa sepi.


Angin yang berhembus lembut melewati ku, seakan membawa pesan kesedihan yang semakin membuat dada ku terasa sesak. Dan entah kenapa, sorot lampu dari kendaraan yang berlalu lalang, malah membuat hati ku semakin gelisah. Rasanya, aku ingin sekali sampai rumah, akan tetapi aku juga berpikir kalau aku sudah sampai rumah, mungkin aku akan merasa lebih kesepian dan gelisah lagi. Aku ingin dan tak ingin pulang di waktu yang bersamaan.


Pada akhirnya, aku memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di sebuah kedai makanan. Aku memesan satu buah beef burger dan satu gelas es teh bersoda. Aku masih ingat, ayah ku dulu pernah berkata pada ku, "Jika besok kelak suana hati mu sedang buruk, makan makanan kesukaan mu akan membantu mu menjadi lebih baik."


Tak berselang lama, salah seorang pelayan mengantarkan pesanan ku. Dengan memasang senyum yang sangat ramah, pelayan itu meletakkan makanan pesanan ku di atas meja. Aku tidak terlalu mendengar apa yang ia katakan karena aku masih memasang earphone ku ini. Yang jelas, di akhir kalimatnya ia mengatakan, "Selamat menikmati makanannya." Dan lalu pergi.


Greggreg... greggreg... Tiba-tiba saja ponsel ku bergetar tanda ada sebuah pesan WA yang masuk. Aku tak buru-buru langsung memeriksanya. Aku terlebih dahulu menghabiskan burger yang sudah aku makan setengah ini.


Setelah selesai melahap habis burger ku, aku baru membuka pesan yang masuk tadi sambil meminum minuman ku tadi. Ayah ku benar, setelah aku menghabiskan makanan ku, aku merasa lebih baik.


"Lagi dimana Lang? Masih di sekolah?" tulis ibu ku lewat pesan WA yang masuk tadi.

__ADS_1


"Lagi di kedai makanan bu, sebentar lagi aku pulang," jawab ku.


Aku meminum minuman es teh bersoda ini dengan perlahan-lahan. Sebenarnya ketika aku meminum minuman bersoda, perut ku cepat sekali kembung. Aku pun harus menunggu hingga aku bersendawa terlebih dahulu untuk kembali menghabiskan minuman ku ini. Meskipun terdengar merepotkan seperti itu, entah kenapa aku masih saja sangat menggemari minuman yang satu ini.


Tak berselang lama, aku pun lalu pergi dari tempat itu dan langsung melanjutkan perjalanan ku menuju rumah. Saat langkah kaki ku belum genap 10 langkah, salah seorang pelayang tiba-tiba memanggil ku dari depan pintu kedai itu.


"Mas, mas, HPnya ketinggalan," ucap wanita yang sepertinya berusia tidak jauh dari ku.


Aku lalu reflek memegangi kantong celana dan jaket ku seperti sedang memeriksa apakah ada ponsel ku atau tidak. Padahal sudah jelas kalau yang sedang dipegang oleh pelayan wanita itu adalah ponsel ku, tapi mengapa aku masih saja tetap melakukan hal klise seperti itu.


"Oh makasih mba," ucap ku saat menghampiri dan lalu mengambil ponsel ku dari tangan pelayan wanita itu.


"Iya mas sama-sama. Lain kali hati-hati ya. Selamat malam... Semoga selamat sampai tujuan," tutupnya sambil tersenyum sebelum kembali ke dalam kedai yang ramai itu.


***


Sesampainya di rumah, aku langsung menuju ke atas dan merebahkan tubuh ku ini ke atas kasur. Rasanya, hari ini terasa begitu melelahkan meskipun pada dasarnya aku tidak melakukan hal apa pun hari ini.


Saat aku sedang melamun menatap ke langit-langit kamar, tiba-tiba saja Alex, anak kucing yang waktu itu aku bawa pulang dari dekat taman, melompat ke arah ku. Aku pun sempat kaget dengan gerakannya yang tiba-tiba itu.


Pintu kamar ku memang belum aku tutup, jadi mungkin Alex ikut masuk juga ke dalam kamar ku tanpa sepengetahuan ku.


Aku lalu mengambil Alex yang tadi hinggap di atas ku. Aku kemudian kembali menaruhnya di lantai, dan segera menggiringnya ke bawah. Mungkin Alex merasa sedang lapar, jadi ia datang ke kamar ku tadi. Atau mungkin, Alex sebenarnya mengerti apa yang sedang aku rasakan dan kedatangannya tadi sebenarnya adalah untuk menghibur ku? Entahlah.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2