
Setelah selesai menyantap semangkok bakso, aku merasa agak kekenyangan. Aku pun duduk sebentar di warung bakso itu hingga perutku merasa lebih enak. Di saat sedang duduk sambil melamun itu, tiba-tiba ada seorang gadis yang kelihatannya seumuran denganku datang sambil membawa kantong yang cukup besar yang diletakkannya di keranjang sepeda miliknya.. Aku tidak tahu apa isinya, tapi sepertinya itu cukup berat.
Ia memakai seragam yang sama denganku, jadi ia pasti dari SMA yang sama denganku. Setelah ia memarkirkan sepeda miliknya di depan warung, ia langsung menuju ke pemilik warung ini. Mata kami sempat bertemu beberapa saat, tetapi kami tidak saling menyapa. Sepertinya ia sedang buru-buru.
"Ayah, ini pesanan ayah sudah aku ambilkan," ucapnya saat sudah melewati ku.
"Oh iya terimaksih ya. Apakah kamu ingin makan bakso hari ini?" balas pemilik warung.
"Boleh, sekalian minumnya es teh ya," gadis itu lalu tiba-tiba duduk di depanku di meja yang sama. Aku tidak tahu kenapa ia memilih duduk disitu, padahal masih ada 2 meja lagi yang masih kosong.
"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya yang sudah duduk di depanku.
"Bo-boleh," jawabku dengan agak canggung.
"Kamu makan bakso sendirian?" tanyanya lagi.
"I-iya" jawabku lagi.
"Kamu aneh ya, coba lihat sekelilingmu. Apakah ada orang makan bakso sendirian seperti kamu ini?" tanya gadis itu lagi.
Aku pun melihat sekeliling, ia benar tidak ada orang yang makan bakso sendirian. Aku baru menyadarinya.
"Emang rasanya enak makan sendirian? lagian kenapa kau tidak ajak temanmu untuk makan bareng? Jangan-jangan kamu gak punya teman ya?" lagi-lagi ia bertanya.
"Menurutku tadi rasanya enak."
Lalu bakso dan es teh pesanannya pun datang. Lalu ia mengambil satu mangkok kosong. Ia membagi bakso miliknya menjadi 2 ke dalam mangkok yang diambilnya tadi. Ia memberikan salah satu mangkok itu kepadaku.
"Ini makanlah lagi. Gratis tak usah bayar yang ini. Kamu masih kuat makan kan? Ayolah cuma setengah. Coba rasakan perbedaan makan sendiri dengan bersama orang lain," ucapnya sambil menyodorkan satu mangkok berisi setengah porsi bakso dan es teh yang dipesannya tadi. Lalu ia memesan es teh satu gelas lagi.
"Sebenarnya aku sudah mau pulang," ucapku agak lirih.
"Sudahlah, kamu baru boleh pulang setelah menghabiskan bakso itu. Nanti aku antar kamu pulang deh," ucapnya lagi.
Aku pun tak bisa mengelak lagi. Aku seperti kehabisan alasan. "Gadis yang tangguh," pikirku dalam hati. Lalu, aku mulai menyantap bakso itu perlahan-lahan.
"Ngomong-ngomong kamu dari SMA Tunas Bangsa kan?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Iya, aku baru masuk tahun ini. Dari seragammu, sepertinya kamu juga dari SMA Tunas Bangsa kan?" kini aku balik bertanya.
"Iya, aku dari sana juga. Wah, berarti kita sama-sama murid baru dong. Aku juga baru masuk tahun ini. Kamu masuk kelas berapa?"
"Aku kelas 10-7," jawabku.
"Wah berarti kelas kita sebelahan dong...aku kelas 10-6 lohh. Tapi, rasanya aku belum pernah melihatmu di sekolah meskipun kelas kita bersebelahan," dia kelihatan agak keheranan.
Aku tidak menanggapinya kali ini. Aku terus memakan bakso tadi perlahan-lahan.
"Oiya maaf lupa memperkenalkan diri. Namaku Sofia. Senang bertemu denganmu."
"Namaku Galang. Senang bertemu denganmu juga."
Setelah itu, kami tidak mengobrol lagi hingga kami selesai menyantap bakso kami masing-masing.
"Gimana rasanya?" tanya Sofia membuka percakapan lagi.
"Biasa saja. Tidak ada yang berbeda ku pikir," jawabku dengan datar.
"Ya ampun... kamu ini. Mungkin kamu baru akan menyadarinya nanti ketika kamu sedang sendirian. Sesuai janjiku aku akan mengantarkanmu pulang. Jadi, rumahmu di sebelah mana?" ia terlihat bersungguh-sungguh untuk mengantarkanku pulang.
"Janji adalah janji. Aku tadi sudah berjanji kan? Aku senang mendengar bahwa rumahmu tidak terlalu jauh berarti aku tidak terlalu capek mengayuh sepedanya nanti hehe. Mau pulang sekarang?" ia kelihatan senang mendengar bahwa rumahku tidak terlalu jauh.
"Kalau begitu biar aku saja yang mengayuh sepedanya hingga rumahku, kamu yang bonceng," ucapku.
"Kalau begitu bukan aku yang mengantarkan namanya. Aku sudah berjanji untuk mengantarmu tadi kan? Jadi, aku harus tetap menepatinya. Ayah aku keluar sebentar yaa..."
"Oh iyaa... Hati-hati," ucap ayahnya yang sekaligus pemilik warung bakso.
"Yaudah ayoo," ucapnya sambil menarik tanganku.
Kami pun langsung pergi menuju rumahku. Aku menunjukkan jalan kepadanya sambil duduk di boncengan sepedanya. Rambutnya yang lurus dan cukup panjang itu beberapa kali tergurai oleh tiupan angin. Wangi samponya pun kadang tercium olehku.
Kami jarang mengobrol ketika dalam perjalanan, hanya percakapan kecil tentang arah jalan menuju rumahku.
Akhirnya, kami sampai di depan rumahku. Ia terlihat sedikit capek, keringatnya pun cukup banyak bercucuran.
__ADS_1
"Makasih ya telah mengantarku. Sebenarnya, kamu gak perlu repot-repot mengantarku seperti itu," ucapku.
"Tidak-tidak, aku senang bisa menepati janjiku hehe. Memang agak melelahkan tapi tak apa-apa," ucapnya sambil sedikit terengah-engah.
"Kalau begitu, kamu bisa beristirahat sebentar di sini sekalian minum. Kamu kelihatan haus juga."
Tiba-tiba, ibuku keluar dari rumah.
"Eh Gilang jangan di depan rumah begitu dong, ajak temanmu masuk, gak sopan tau," ucap ibuku sambil menghampiri kami. "Maaf ya mba, Gilang memang kurang pandai dalam hal seperti ini," ucap ibuku sambil mengajak Sofia untuk masuk ke dalam.
Kami pun masuk ke dalam.
"Tunggu sebentar ya... Biar ibu buatkan minum sebentar. Galang kalau besok-besok ada teman lagi, jangan hanya berdiri di depan ya... Ajak masuk rumah juga," ibuku lalu pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Wah ibumu baik banget ya orangnya...," ucap Sofia agak lirih. Nada suaranya terdengar berbeda dari sebelumnya.
"Tunggu sebentar yah, aku mau ke belakang sebentar," aku pun meninggalkan Sofia sendirian di ruang tamu.
Di dapur.
"Ibu tidak ke toko kah?" tanyaku pada ibuku yang terlihat sudah selesai membuat sirup jeruk dingin.
"Ibu tadi sudah ke toko, tapi HP ibu ketinggalan, jadi ibu pulang ke rumah untuk mengambilnya. Di toko kan juga ada karyawan, jadi bila ada pelanggan pasti ada yang melayani," ibuku langsung menuju ke ruang tamu sambil membawa minuman sirup jeruk dingin itu yang diletakkannya di atas baki. Aku pun mengikutinya dari belakang.
"Silahkan mba," ucap ibuku sambil meletakkan minumannya di atas meja.
"Oh iya makasih bu... Maaf jadi merepotkan," ucap Sofia sambil tersenyum tipis.
"Wah tidak merepotkan kok. Ngomong-ngomong namanya siapa ya?"
"Nama saya Sofia bu," jawab Sofia dengan masih memasang senyum tipis di wajahnya.
"Wah cantik sekali namanya, secantik orangnya hehe," puji ibuku yang diikuti senyuman.
Sofia hanya tersenyum kali ini, senyumannya kini lebih lepas dari pada sebelumnya. Benar kata ibuku, Sofia terlihat sangat manis. Senyumannya seperti membawa kesejukan di tengah udara panas. Aku pun merasakan sesuatu yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Rasanya agak berdebar-debar dan agak sesak di dada. Aku seperti masuk ke dalam dunia lain untuk beberapa saat.
***
__ADS_1
Bersambung