
Tepat pukul setengah 8 malam, ibu akhirnya membawa Hana ke dokter. Mereka berdua pergi menggunakan mobil menuju ke dokter anak terdekat. Sementara itu, aku tetap berada di rumah.
"Titip rumah dulu ya Lang, kalau kamu mau pergi seperti biasa pintunya dikunci," ucap ibu.
"Oh iya bu. Hati-hati..." balas ku.
Setelah itu, Hana dan ibu pun langsung berjalan menuju mobil dan lalu langsung pergi menuju ke dokter.
***
"Di dalam hidup mu, kau akan menemukan dua tipe orang yang berbeda. Satu orang yang akan membangun mu, dan satu lagi orang yang akan menghancurkan mu. Namun pada akhirnya, kau akan berterimakasih pada mereka berdua," itu adalah kutipan dari salah satu tokoh di novel fantasi yang sedang aku baca sekarang ini. Entah kenapa, kata-kata tersebut sangatlah mengena. Pikiran ku pun langsung berlarian kemana-mana saat mencerna kata-kata tersebut.
Saat ini, sepertinya ibu dan Hana sudah sampai di tempat dokter. Kira-kira, misalkan oleh dokter mengharuskan Hana untuk disuntik, apakah Hana akan ketakutan atau biasa saja yah? Membayangkan wajahnya saat itu, membuat ku sedikit tersebyum.
***
Setelah sekitar satu jam berlalu, Hana dan Ibu pada akhirnya pulang. Entah kenapa raut wajah Hana bisa begitu berubah drastis dari saat tadi berangkat.
"Kenapa muka mu terlihat begitu bersemangat Hana?" tanya ku.
"Hehehe lihat nih kak," Hana menunjukkan sebuah permen susu. "Tadi setelah selesai diperiksa, pak dokter memberikan Hana ini hehehe," lanjutnya.
"Ohhh begitu ya... Pantas saja muka mu jadi penuh semangat begitu. Terus apa kata dokter tadi?" tanya ku lagi.
"Kata dokter Hana cuma flu biasa kok, mungkin 2-3 hari atau bahkan besok sudah bisa normal kembali," timpal Hana.
"Oh begitu ya... Syukurlah," jawab ku.
***
__ADS_1
Minggu 21 Oktober, pagi ini aku berencana untuk pergi ke toko buku untuk membeli buku novel yang baru lagi. Novel Kesatria Bulan, sudah aku baca habis kemaren. Sebenarnya saat ini aku masih mempunyai satu buah novel yang belum aku baca habis, akan tetapi entah kenapa rasanya aku seperti harus membeli satu buah novel lagi.
Cuaca pada pagi hari ini cukup mendung. Sinar matahari pun tidak tampak dengan begitu jelas hari ini. Jika dilihat-lihat, sepertinya nanti akan turun hujan yang cukup lebat.
***
Sesampainya di toko buku, seperti biasa mas Reza, si karyawan baru toko langsung menyapa ku. Lagi-lagi, setiap kali aku melihat wajah nya, aku seperti sudah pernah melihat wajah yang sangat familiar dari itu, tapi entah dimana. Hingga kini aku masih belum menemukan jawabannya. Sepertinya aku harus bertanya padanya langsung mengenai hal ini.
"Wah si Galang, mau cari buku apa Lang?" tanya mas Reza yang entah kenapa terlihat begitu akrab dengan ku. Padahal baru beberapa kali saja aku bertemu dengannya.
"Mau cari buku novel mas," jawab ku.
"Oh begitu. Ngomong-ngomong bagaiman kelanjutan hubungan mu dengan Cindy?" tanya mas Reza lagi. Kali ini ia sedikit berbisik dan mendekatkan ke telingaku.
"Hubungan? Tentu saja baik-baik saja. Dia sudah tidak pernah marah atau bertingkah aneh lagi sejak saat itu," jawab ku.
"Hmmm ya ampun, ternyata kau masih belum peka juga yah? Jadi hubungan mu sama Cindy masih sebatas teman?" tanya nya lagi.
"Hahaha tidak, tidak ada yang aneh. Terkadang pemikiran mu itu begitu dewasa, akan tetapi di lain sisi kau itu seperti masih kelas 6 SD saja," timpal mas Reza.
"Ha? Apa-apaan itu? Aku benar-benar tidak mengerti. Oiya mas sebenarnya ada yang mengganggu pikiran ku tentang mas Reza," ucap ku.
"Ha? Mengganggu pikiran mu? Apa itu?" tanya mas Reza.
"Setiap kali aku melihat wajah mas Reza, entah kenapa wajah mas Reza itu terlihat begitu familiar. Dan juga pada saat pertama kali aku bertemu mas Reza waktu mas masih bekerja di kolam renang, sejak saat itu pula aku merasa kalau wajah mas Reza itu begitu familiar. Itu seperti aku pernah melihat wajah seperti itu sebelumnya, tapi aku tidak tahu dimana dan kapan. Apakah mas Reza ada petunjuk mengenai hal itu?" tanya ku.
"Oi oi oi, pertanyaan mu itu panjang sekali hahahaha. Baiklah... Mmm... Enaknya dimulai dari mana yah. Hmmm... Bentar... Karena aku sedang berbicara dengan mu, sebaiknya aku langsung ke intinya saja yah," ucap mas Reza.
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku ini adalah kakaknya Risal, teman sekelas mu. Mungkin itu lah sebabnya kenapa kau merasa begitu familiar ketika pertama kali melihat wajah ku bahkan sejak saat pertama kali kita bertemu waktu di kolam renang dulu," ucap mas Reza.
"Eh kakaknya Risal? Ehhh?" jawab ku dengan begitu terkejut.
"Hahaha maaf tidak memberitahukan mu lebih dulu. Aku kira Cindy sudah memberitahu mu makanya aku tidak memberitahu mu. Hahaha dunia ini terkadang terasa begitu sempit kan?" timpal mas Reza sambil tertawa dengan cukup keras.
"Jadi begitu ya... Pantas saja aku merasa begitu familiar... Hmmm," pikir ku dalam hati.
"Eh ada Galang?" tiba-tiba Cindy keluar dari dalam ruangan di belakang meja kasir tempat nenek Maria saat ini sedang duduk.
"Iya, ini aku baru saja datang beberapa saat yang lalu," timpal ku.
"Ohhh begitu, tapi kenapa muka mu kelihatan terkejut begitu? Ada apa?" tanya Cindy sambil perlahan berjalan mendekat ke mari.
"Hahaha ini aku baru saja memberi tahu Galang kalau aku ini kakaknya Risal. Ternyata kamu belum memberitahukannya ya Cin?" timpal mas Reza.
"Iya belum hehehe," timpal Cindy yang saat ini sudah berada di hadapan ku. "Ngomong-ngomong kamu mau beli buku apa Lang? Cari novel lagi?" lanjut Cindy.
"Sudah ketebak yah? Iya, aku mau cari buku novel yang baru buat stok," jawab ku.
"Wah kau ini memang kutu buku sekali ya Lang, hampir sama dengan Risal, bedanya kalau kau baca novel, tapi kalau Risal baca komik. Berarti julukan untuk Risal itu seharusnya kutu komik yah? Hahaha," ucap mas Reza sambil tertawa lagi.
"Ehh kutu komik? Kok kedengarannya aneh ya... Oiya kebetulan nih. Sebenarnya juga ada yang ingin aku ketahui tentang Risal. Bisakah aku memberikan pertanyaan pada mu mas, seputar Risal?" tanya ku.
"Heee jarang-jarang ada yang penasaran tentang Risal. Ya, tentu saja boleh. Aku malahan senang kalau Risal punya teman," jawab mas Reza.
"Eh emangnya ada apa dengan Risal Lang?" tanya Cindy.
"Seperti yang kamu lihat sendiri, kalau di kelas bukannya Risal itu selalu menyendiri? Dia juga selalu memakai headphone besar yang menutupi kedua telinganya itu ketika di kelas, itu terlihat seperti dia tidak mau mendengarkan apa pun dari kita," jawab ku.
__ADS_1
***
Bersambung