
"Kakak tau ini bunga apa namanya?" Hana menunjuk pada sebuah bunga di sebuah pot.
"Apa ya? Kakak gak tau hehehe," aku tersenyum.
"Kakak gimana sih, masa anak tukang bunga tidak tahu nama bunga, hadeuhhh..." Hana menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mau bagaimana lagi, kakak kan emang jarang memperhatikan bunga atau menghafal nama-namanya," aku menatap mata Hana sambil masih tersenyum.
"Hmm... Hana kasih tau ya kak... Ini, bunga yang berada di hadapan Hana ini adalah bunga Anggrek," ucap Hana sambil dengan lembut memegang bunga tersebut.
"Oo ternyata Anggrek yah. Kakak memang sering sekali mendengar nama bunga Anggrek, tapi sepertinya baru kali ini kakak benar-benar tahu wujud dari bunga Anggrek itu," aku berjalan perlahan menuju Hana dan bunga Anggrek itu. Setelah sampai, aku lalu langsung jongkok dan mulai memegangi bunga anggrek itu sembari menciumi aromanya.
"Ibu mau menyirami bunga yah?" tanya Hana seketika melihat ibu mengambil gembor ( alat penyiram tanaman ).
"Iya ini, ibu mau menyirami bunga-bunga. Sudah waktunya," jawab ibu sambil mengisi gembor tersebut dengan air.
"Sini biar Hana bantu," Hana berlari menuju ibu.
"Memangnya bunga-bunga ini disiram berapa kali sehari Bu?" tanya ku yang sedikit penasaran.
"Kalau pada umumnya sih pagi sama sore hari Lang," jawab ibu yang masih memerhatikan laju air yang jatuh ke dalam gembor.
"Ibu punya gembor berapa? Sini biar aku bantu juga," aku lalu mulai berjalan perlahan menuju ibu dan Hana.
"Ada satu lagi di belakang, di dalam lemari yang besar. Kamu yakin mau bantu?" tanya ibu.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk tanda mau. Aku pun lalu langsung menuju ke belakang untuk mengambil gembor lagi.
***
Malam ini, bulan begitu terang. Meskipun bukan bulan purnama penuh, tetapi cahayanya terlihat seperti senter yang tengah menyoroti bumi dengan terang. Suara nyanyian serangga terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian malam.
Bulan datang dan pergi. Tak terasa, bulan Agustus sebentar lagi akan segera berakhir. Berbarengan dengan datangnya bulan Oktober. Bulan Agustus pun hanya tinggal menyisakan 4 Hari lagi. Rasanya, waktu berjalan begitu cepat akhir-akhir ini.
Aku mencoba memandangi bulan yang tengah bersinar terang itu dari balik jendela kaca kamar ku. Aku sengaja mematikan lampu ku, agar cahayanya bisa terlihat lebih terang lagi. Lagi pula, sebentar lagi aku juga akan tidur karena sudah cukup larut juga.
Hari ini, aku entah kenapa merasa begitu bahagia. Aku tidak tahu apakah itu karena aku bertemu dengan Sofia, atau menemani Hana berenan, atau karena aku memberikan sebuah hadiah untuk ibu, atau mungkin karena semuanya itu?
Aku lagi-lagi larut dalam suasana malam yang selalu membuat ku merasa nyaman. Jika bisa, aku ingin hidup di malam hari saja bersama buaian angin yang lembut dan juga bulan yang selalu menemani ku di kala sedih maupun senang. Mungkin hal itu terdengar cukup gila, akan tetapi ada sebagian dari lubuk hati ku yang benar-benar menginginkannya.
Kunang-kunang yang terlihat beterbangan dari balik kaca jendela, terlihat seperti bintang di langit yang sedang bergerak mengikuti arah angin. Aku jadi penasaran kira-kira, kemana perginya para kunang-kunang ini ketika sang matahari mulai menampakkan dirinya di langit? Mungkin mereka tidak pergi, mereka tetap terbang di sana seperti saat ini. Hanya saja tidak terlihat karena sinarnya kalah terang dengan sinar sang Surya.
Suara gemuruh di langit tiba-tiba saja terdengar dan sedikit memecah keheningan malam. Aku tidak tahu apakah akan segera turun hujan atau langit hanya sedang ingin "menyapa" penduduk kota saja, yang sebagian mungkin sudah tertidur pulas.
Saat ini, waktu sudah berada di titik 22.30. Aku tidak tahu apakah aku sudah mengantuk atau belum. Hanya saja, aku merasa seperti belum ingin tidur saja saat ini.
Angin terlihat bertambah kencang. Daun-daun banyak yang bergerak tak beraturan, bahkan beberapa di antaranya harus rela jatuh ke tanah. Orang-orang bilang, "Daun yang jatuh tak pernah membenci angin," aku tidak tahu apakah daun-daun yang jatuh memang selalu merasa begitu? Atau mungkin, mereka juga merasa sedikit kesal karena merasa masih ingin berada di ranting-ranting yang tinggi itu. Entahlah, mungkin aku hanya terlalu memikirkannya saja.
***
Minggu 28 Agustus, pukul 09.00. Aku sedang dalam perjalanan ku menuju ke sekolah. Saat aku sedang membaca buku-buku pelajaran tadi pagi, tiba-tiba saja Ruben mengirimi ku pesan untuk datang ke sekolah jam 09.30.
__ADS_1
Dia tidak menjelaskannya dengan jelas untuk apa aku harus datang ke sekolah. Dia hanya bilang bahwa aku harus benar-benar datang. Katanya, ia akan menjelaskannya ketika sudah berada di sekolah nanti. Karena memang tidak ada kegiatan, aku pun menyanggupi untuk datang ke sekolah.
Pagi ini, rumput-rumput dan tanah di kanan-kiri jalan masih terlihat cukup basah. Pada akhirnya, suara gemuruh dari langit tadi malam berakhir dengan hujan lebat dan cukup berangin. Tak lama setelah itu, aku pun memutuskan untuk tidur.
***
Di saat aku sedang melewati area toko buku, aku melihat Cindy baru saja keluar dari dalam toko. Aku penasaran, apakah ia juga disuruh Ruben untuk datang ke sekolah juga? Untuk mengetahui itu, aku pun lalu menghampiri Cindy.
"Kamu mau ke sekolah juga Cin?" tanya ku sesaat setelah sampai di hadapannya.
"Iya Lang, kamu juga?" tanya Cindy balik.
"Iya nih, jangan-jangan kamu juga disuruh Ruben juga ya?" tanya ku lagi.
"Iya Lang," jawab nya sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya udah, ayo kita berangkat bareng aja sekalian," ucap ku.
"Boleh, ayo," jawab Cindy.
Aku dan Cindy lalu berjalan bersama menuju sekolah. Hari ini, Cindy memakai baju yang sama seperti ketika ia dan aku datang ke acara pentas seni di SD waktu itu. Rambutnya yang hitam dan terlihat begitu lebat itu, ia ikat di bagian belakangnya. Poni nya yang hampir menutupi alis, ia biarkan terurai seperti itu. Tak lupa, kaca mata yang selalu melekat padanya juga tidak absen hari ini. Kalau berpenampilan seperti itu, entah kenapa Cindy terlihat begitu cantik.
"Hati-hati Lang," Cindy tiba-tiba menarik ku ke belakang.
"Eh maaf Cin, aku lagi agak melamun," aku hampir saja menginjak genangan air yang berada tepat di hadapan ku ini. Karena terlalu memperhatikannya, aku sampai-sampai lupa untuk memperhatikan jalan di depan ku.
__ADS_1
***
Bersambung