
Rabu 10 Oktober, sekitar pukul 15.45, aku saat ini sedang berada di samping lapangan sepak bola seperti biasanya. Setelah UTS selesai, kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler kembali digelar dan menjadi kembali normal.
Langit sore hari ini terlihat sedikit berawan. Langit yang bewarna kelabu itu, tak jarang mengeluarkan suara gemuruh yang begitu berwibawa itu.
"Wah kayaknya nanti bakalan turun hujan deh," ucap Ruben setelah mendengar suara gemuruh dari langit.
"Ah sok tau kau," timpal Ahsan.
"Haaa? Sok tau? Jelas-jelas langitnya mendung begitu terus ditambah suara gemuruh, wajar kan kalau aku mengatakan bakal turun hujan?" jawab Ruben.
"Hmmm," jawab Ahsan.
"Idihhh, apa-apaan tuch. Kau itu sebenarnya cuma lagi mau beradu argumen saja yah dengan ku?" tanya Ruben.
"Entahlah hahahaha. Oiya ngomong-ngomong kok aku belum ngeliat Aji yah? Apa dia tidak berangkat?" tanya Ahsan.
"Dari suara tawa mu itu, aku bisa yakin kalau tebakan ku barusan itu benar. Kalau Aji aku tadi liat dia langsung pulang setelah jam sekolah selesai. Kayaknya sih dia gak bakalan dateng ke ekstrakulikuler ini," jawab Ruben.
"Waduh, masih belum sembuh juga ternyata si Aji itu," timpal Ahsan.
"Eh itu ada Renaldi, kita tanya aja. Biasanya kan dia yang selalu sama Aji," ucap Ruben.
"Oi Di, sendirian aja? Si Aji mana?" tanya Ahsan.
"Si Aji langsung pulang. Dia gak berangkat," jawab Renaldi dengan datar.
"Wahhh gak biasanya sampai ia bolos ekstrakulikuler seperti ini. Ngomong-ngomong kau sudah tau belum kenapa Aji jadi berbeda akhir-akhir ini?" tanya Ahsan lagi.
Renaldi tidak menjawabnya, dia hanya mengangkat kedua bahunya sedikit ke atas tanda bahwa dia tidak tahu.
***
Tepat jam 4, pak Bimo meniup peluit tanda latihan ekstrakulikuler dimulai. Suara peluit milik pak Bimo tadi, terdengar seperti sedang beradu dengan sangarnya suara gemuruh.
Saat ini, langit terlihat semakin gelap. Sepertinya memang akan turun hujan sebentar lagi. Apalagi ramalan cuaca juga mengatakan kalau kemungkinan hari ini akan turun hujan adalah sekitar 50%.
__ADS_1
Setelah dibuka, seperti biasa setelah itu kami langsung melakukan pemanasan kelling lapangan sebanyak tiga putaran. Walaupun baru satu minggu libur, entah kenapa rasanya sudah sangat lama sekali aku tidak melakukan keliling lapangan seperti ini.
***
Sekitar setengah jam kemudian, hujan pun mulai turun. Beruntung, hujan yang turun ini bukanlah hujan yang terlalu besar dan berangin. Hujan yang saat ini sedang turun ini hanya berupa gerimis kecil saja. Hal itu memang sedikit mengganggu proses latihan ini, akan tetapi tidak terlalu signifikan.
Menu latihan saat ini masih sama seperti menu latihan pada pertemuan sebelumnya yaitu latih tanding. Saat ini, aku masih belum mendapat giliran untuk bermain. Saat ini, aku pun hanya sedang menonton pertandingan dari pinggir lapangan sambil meneduh bersama Ruben yang juga belum mendapat giliran bermain. Sementara itu Ahsan dan Renaldi saat ini sedang bermain di lapangan.
"Hahahaha mampu tuh si Ahsan hahaha," ucap Ruben dengan tertawa yang sangat puas seakan-akan sangat puas melihat Ahsan kehujanan seperti sekarang ini.
"Tapi kan nanti kita juga main Ben? Bukannya nanti kita juga akan kehujanan sama seperti mereka? Mungkin juga hujan akan lebih besar lagi ketika kita nanti bermain," ucap ku pada Ruben.
"Oi oi Lang, kenapa kau berbicara mengenai hal mengerikan seperti itu," timpal Ruben.
"Aku tidak mengatakan hal mengerikan, aku hanya mengatakan kemungkinan yang akan terjadi saja," jawab ku.
"Hadeuhh... Ya sudah lah terserah kau saja," ucap Ruben yang kini kembali memperhatikan pertandingan dengan serius.
***
Kini aku, Ruben, dan anak-anak yang lainnya mulai melangkah memasuki lapangan. Saat pertama kali terkena air hujan, rasanya begitu dingin. Namun setelah beberapa saat berada di bawah hujan, rasanya sudah tidak sedingin saat pertama kali terkena tadi.
***
Tepat pukul lima sore, kegiatan ekstrakulikuler sepak bola pada hari ini pun berakhir. Sebelum itu, tadi pak Bimo telah mengatakan bahwa Minggu depan adalah hari terakhir untuk seleksi pemain-pemain yang akan diikut sertakan dalam laga ujicoba di akhir bulan nanti. Tentu saja, meskipun peluang ku terpilih kecil, akan tetapi aku akan tetap berusaha hingga saat-saat terakhir.
Hujan hingga kini masih belum juga berhenti. Aku, Ruben, dan Ahsan pun memutuskan untuk menunggu sebentar lagi hingga hujan berhenti. Dan jika hingga gelap nanti hujan masih belum reda juga, terpaksa kami akan pulang saat itu juga.
"Hujannya awet banget yah," gumam Ruben yang terlihat mencopot bajunya karena basah.
"Iya nich," timpal Ahsan dengan logat khasnya. Ahsan juga saat ini sedang tidak memakai baju. Bajunya saat ini terlihat ia sampirkan tepat di pundak kanannya.
"Oi Lang, kau gak merasa dingin terus memakai baju yang basah seperti itu?" tanya Ruben.
"Mmm engga sih," jawab ku sambil menatap ke arah lapangan yang saat ini sudah kosong tersebut.
__ADS_1
Wushhhh. Hembusan angin tiba-tiba menerpa ku begitu saja. Aku pun untuk sesaat merasakan hawa dingin karena tertiup oleh angin yang berhembus barusan itu.
"Oi Ben, aku punya sulap nich," ucap Ahsan.
"Wah tumben sekali kau ada sulap? Beneran kau bisa?" tanya Ruben kurang yakin.
"Iya beneran lach. Oiya, kau juga bisa ikutan Lang," ucap Ahsan.
"Eh aku? Oke oke," jawab ku.
"Baiklah pertama-tama, kalian berdua coba pikirkan sebuah bilang antara 1-50," ucap Ahsan.
"Kalau bisa, bilangannya yang agak besar yah, sudah?" lanjut Ahsan.
"Sudah," jawab Ruben dan aku bersamaan.
"Nah sekarang bilangan yang kalian pikirkan itu harus kedua-duanya itu ganjil dan gak boleh sama," ucap Ahsan memberi aba-aba lagi.
"Hah maksudnya?" tanya Ruben yang tampak belum paham.
"Ya ampun... Hemmmmm... Maksudnya itu angkanya gak boleh misalnya itu 33, 22, 11, gitu pokonya gak boleh sama depan sama belakang. Dan juga kedua angka depan dan belakangnya itu harus ganjil loh ya," lanjut Ahsan.
"Oh begitu... Sudah nih," timpal Ruben.
"Ya, tahan dulu. Kau sudah belum Lang?" tanya Ahsan.
"Sudah," jawab ku.
"Baiklah sekarang aku akan mencoba menebak angka yang kalian pilih itu. Angka yang kalian pilih itu adalah... 37? Bener gak?" tanya Ahsan.
Saat pertama kali mendengar tebakan Ahsan itu, aku langsung terkejut. Bagaiman bisa Ahsan menebak angka yang sama dengan apa yang aku pikirkan juga. Apakah ini hanya kebetulan? Ataukah memang Ahsan bisa melakukan trik sulap? Entahlah yang jelas untuk saat ini Ahsan berhasil.
"Wah bener kau San. Angka yang aku pikirkan itu 37," jawab ku.
***
__ADS_1
Bersambung.