
Sore hari di hari Rabu setelah pulang sekolah, seperti biasa aku sudah berada di pinggir lapangan sepak bola untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Sekarang masih pukul 15.40, jadi masih ada cukup banyak waktu sebelum kegiatan dimulai.
Cuaca pada hari ini begitu cerah. Ramalan cuaca juga mengatakan bahwa hari ini tidak akan turun hujan, dan matahari akan terus bersinar sepanjang hari.
Setelah aku menemui Risal semalam, pagi ini ia tidak mengatakan apa pun pada ku. Aku masih tidak tahu apakah ia akan mau ikut lomba puisi atau tidak. Entah kenapa aku menjadi khawatir lagi jika memikirkan tentang hal itu.
Rapat kelas hari ini tetap dilaksanakan seperti biasa. Hanya saja masih ada beberapa orang yang akan absen karena kegiatan ekstrakulikuler mereka masing-masing, termasuk aku sendiri.
Agenda rapat pada hari ini adalah untuk menentukan siswa yang akan mengikuti lomba melukis, lari 100 meter putra, lari 100 meter putri, lari estafet 400 meter campuran, dan yang terakhir lomba memasak. Sebenarnya untuk pelari 100 meter putra sudah ditentukan tadi saat istirahat yang ke dua. Adalah Tomi yang akan mewakili kelas kita dalam lomba lari 100 meter putra. Sementara untuk estafet, dari sisi laki-laki mengirimkan Ahsan dan Tomi.
"Oi Lang, lagi ngalamun apa kau," Ruben menepuk pundak ku dari belakang.
Seperti biasa Ruben datang bersama dengan Ahsan. Aku tidak tahu jika mereka sedang berdua apakah mereka lebih akrab atau masih tetap penuh dengan perdebatan? Atau mereka hanya berdebat jika ada orang ketiga, keempat, dan seterusnya? Entahlah.
"Hari ini cuacanya bagus banget yah, jadi semangat nih," ucap Ruben lagi sambil mengambil nafas dalam-dalam dan merentangkan kedua tangannya.
"Haaa apa-apaan tuch?" ucap Ahsan dengan logat khasnya.
Aku tidak tahu mengapa cuaca bisa sangat mempengaruhi suasana hati manusia. Kebanyakan orang akan merasakan dorongan semangat jika melihat hari yang cerah, sebaliknya jika mereka melihat awan mendung, entah kenapa itu bisa saja membuat suasana hati mereka jadi tidak semangat atau semacamnya. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Apakah cuaca memang sekuat itu? Atau manusia yang memang terlalu rapuh? Entahlah.
"Oi Lang kenapa kau seharian ini terlihat murung begitu? Maksud ku meskipun kau selalu terlihat murung, akan tetapi hari ini level kemurungan mu benar-benar berbeda hahaha. Apakah kau masih memikirkan soal yang kemaren itu?" ucap Ruben yang kini duduk di samping ku.
"Hahahaha kejam sekali omongan mu Ben. Kurasa bukannya Galang terlihat murung, akan tetapi raut muka dan auranya memang begitu kan? Hahahaha," kini giliran Ahsan yang tertawa.
"Hahaha ku rasa kau yang lebih kejam sekarang San. Tapi bukannya sudah ku bilang kemaren kan Lang? Jangan terlalu dipikirkan, Risal pasti ikut," Ruben tersenyum tipis.
"Yah untuk sekarang aku setuju dengan Ruben, jangan terlalu dipikirkan, nanti kau cepat tua Lang hahaha," Ahsan kembali tertawa.
"Wah kalian udah datang yah," suara yang familiar tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Kami bertiga lalu menoleh ke arah belakang, ternyata suara itu adalah milik Aji yang datang bersama Renaldi.
"Wah tumben kami datang lebih awal dari kalian," ucap Ruben.
__ADS_1
"Kami? Maksud mu cuma kau dan aku kan? Galang kan memang selalu datang awal waktu," ucap Ahsan membenarkan maksud dari Ruben.
"Iya maksud ku seperti itu," timpal Ruben.
"Oiya ngomong-ngomong pak Bimo belum kelihatan ya?" ucap Aji sambil mengamati sekitar.
"Iya, aku juga belum melihat pak Bimo dari tadi," balas Ruben.
"Dari tadi??? Bukannya kau baru saja datang?" protes Ahsan.
"Haaa? Kenapa kau lagi-lagi meributkan hal yang tidak penting seperti itu?" timpal Ruben dengan ekspresi tak berdosanya.
"Dari tadi dan barusan itu adalah sesuatu yang benar-benar berbeda !! Apakah pikiran mu yang kecil dan lamban itu tidak bisa mencernanya dengan baik?" protes Ahsan lagi.
"Haaaa? Apa katamuuu??!!?" timpal Ruben.
"Hahaha seperti biasa yah, kalian terlihat akrab," Aji sedikit tertawa melihat mereka.
"Akrab dari mana??!!!" ucap Ruben dan Ahsan bersamaan.
"Cuacanya enak sekali ya," ucap Aji sambil memakai kaos kaki.
"Ya, tadi aku juga sudah bilang begitu," ucap Ruben yang juga kini mulai memakai perlengkapan sepak bola.
"Hahaha benarkah? Seperti yang diharapkan dari Ruben hahaha," Aji tertawa lagi.
"Oi kalian tahu? Hal apa yang paling sulit dilakukan seorang kiper ketika bertanding dalam suatu pertandingan sepak bola?" tiba-tiba Ruben mengeluarkan pertanyaan yang datang entah dari mana.
"Ketika berhadapan satu lawan satu dengan penyerang lawan?" jawab Aji serius.
Ruben menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ekspresi mukanya mengatakan kalau jawaban Aji masih salah.
__ADS_1
"Ketika menghadapi sebuah tendangan penalti?" jawab Aji lagi.
Lagi-lagi Ruben menggelengkan kepalanya tanda jawaban milik Aji masih salah.
"Oi Ji, jangan terlalu dianggap serius pertanyaan yang keluar dari mulut Ruben. Pasti jawabannya adalah jawaban yang bodo* sama bodo*nya seperti Ruben," ucap Ahsan.
"Hahaha benarkah? Tapi bukannya terlalu berlebihan mengatakan Ruben dengan istilah seperti itu?" Aji kembali tertawa.
"Oi oi kau mengatakan hal buruk tepat di depan orangnya lohhh," protes Ruben.
"Memang itu tujuan ku kok hahahaha," Ahsan tertawa dengan keras.
"Jangan dengarkan omongan orang bodo* yang mengatakan orang lain bodo* itu Ji. Ayo kembali fokus ke pertanyaan ku tadi," balas Ruben.
"Oi oi oi apa-apaan tuch?" ucap Ahsan dengan logat khasnya.
"Entahlah, aku sepertinya sudah menyerah. Aku benar-benar tidak mempunyai ide lagi," ucap Aji.
"Ya ampun... Ternyata cuma segini kemampuan teman-teman ku. Ya sudah aku kasih tau saja. Hal yang paling sulit dilakukan oleh seorang kiper yang sedang bertanding adalah ngupil hahahaha," Ruben tertawa dengan cukup keras.
Krik... Krikk... Krik... Meskipun Ruben tertawa dengan cukup keras, akan tetapi aku dan yang lainnya sama sekali tidak tertawa. Bahkan raut muka kami cenderung datar dan sama sekali tidak menganggap hal itu adalah hal yang lucu. Bahkan, raut wajah Renaldi kini terlihat lebih serius dari pada biasanya.
"Kok kalian enggak tertawa?" tanya Ruben cukup keheranan.
"Haaaa? Apa-apaan itu tadi? Lelucon sampah seperti itu kau anggap lucu? Pasti ada sesuatu yang salah dengan selera humor mu. Kau lebih baik sekarang merasa malu. Saking malunya, kau seharusnya menghilang dan membenamkan diri mu sendiri di dalam tanah sedalam 100 meter," ucap Ahsan lagi.
"Hahahaha lagi-lagi kau mengatakan hal yang tak masuk akal San," Aji kini tampak tertawa mendengar perkataan Ahsan tadi. Selain itu, Renaldi juga terlihat cukup terhibur dengan perkataan Ahsan tadi.
"Cihh," gerutu Ruben.
Hingga saat ini, pak Bimo belum lah terlihat sama sekali. Apakah pak Bimo sedang ada urusan? Atau dia tidak akan berangkat untuk hari ini? Entahlah.
__ADS_1
***
Bersambung