Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 59 : Hitam Dan Biru


__ADS_3

...Hitam dan Biru...


Kata-kata yang keluar setelah langit menangis,


Aku tidak dapat mendengarnya dengan begitu jelas,


Entah itu kesedihan, kekecewaan, keputusasaan, atau hanya suara canda tawa mu yang berlebihan?


Setiap orang terlahir dengan maksud tertentu,


Setiap orang pun terlihat berusaha untuk mencari arti dari sebuah kehidupan itu sendiri,


Ada yang berakhir dengan suka cita,


Ada juga yang harus pulang dengan kesedihan,


Namun, langit yang sedang menangis itu, tak kunjung reda,


Sang pelangi pun enggan untuk menampakkan dirinya,


Dimanakah cahaya yang dijanjikan itu?


Mengapa ia terkesan bersembunyi?


Mengapa ia enggan menunjukkan dirinya padaku?


Apakah aku terlalu menakutkan?


Atau mungkin, hanya aku saja yang terlalu kecil dan tidak terlalu berarti?


Entahlah, siapa yang tahu?


Semakin tinggi aku berharap,


Semakin sakit saat terjatuh nantinya,


Aku tidak tahu sampai kapan cahaya itu akan datang padaku,


Namun, jika aku diberi satu satu kesempatan lagi untuk berharap,


Bolehkah aku memelukmu sesaat saja?

__ADS_1


Dan jika suatu saat harapan ku itu benar-benar terkabul,


Mungkin aku akan merasa sangat bahagia,


Sampai-sampai, air mataku yang bewarna hitam pekat itu,


Sepertinya akan berubah menjadi sebiru langit.


Risal membacakan puisinya tadi dengan nada yang sangat lirih, tetapi suara sangat jelas terdengar. Perpaduan antara suara dan isinya, seakan menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya dengan lembut namun seperti membawa sebuah pesan kesedihan. Aku bahkan sampai terbawa suasana dan seperti tenggelam mengikuti arus puisi tadi.


Aku tidak menyangka Risal bisa membuat puisi yang sangat menyentuh seperti itu. Aku lalu melihat sekeliling kelas. Sepertinya bukan aku saja yang merasa tersentuh, akan tetapi seluruh penghuni kelas termasuk bu Hesti juga sepertinya merasakan hal yang tak jauh berbeda dengan ku. Aku bahkan masih belum bisa menyimpulkan akhir dari puisi tadi adalah kebahagiaan atau sebaliknya? Atau itu hanya sebatas ironi belaka? Entahlah.


Akhirnya suara tepuk tangan pun terdengar setelah Risal mulai melangkah menuju kembali ke tempat duduknya. Kami sekelas seakan-akan terhipnotis oleh puisinya tadi. Bahkan, kami pun tidak menyadari bahwa bel pergantian pelajaran sudah berbunyi. Bu Hesti pun tidak sempat untuk mengomentari puisi milik Risal tadi. Ia langsung buru-buru menutup pelajaran dan langsung segera pergi meninggalkan kelas.


***


"Oi Lang mau pergi ke kantin?" ajak Ruben saat sedang jam istirahat.


"Boleh Chef," aku menerima ajakan Ruben.


"Oi oi sudah lah jangan panggil aku Chef lagi. Aku jadi malu," ucap Ruben.


"Gak papa Chef," balas ku.


"Oi oi apa-apaan tuch?" tiba-tiba Ahsan masuk ke dalam percakapan.


"Tapi kan waktu itu kau sendiri yang meminta ku untuk memanggil mu dengan sebutan Chef jika masakan mu enak kan?" tanya ku.


"Iya memang, tapi sudah tidak apa-apa. Panggil aku Ruben aja," ucap Ruben lagi.


"Baiklah kalau itu memang mau mu," balas ku.


"Hahahaha apa-apaan tuh Chef?" kini Ahsan meledek Ruben.


"Haaa? Kenapa sekarang malah kau yang memanggil ku seperti itu?" tanya Ruben pada Ahsan.


"Sudahlah, gak papa kan? Lagi pula kau seharusnya senang dipanggil dengan sebutan Chef seperti ini," ucap Ahsan.


"Terserah kalian saja lah. Yaudah, ayo kita segera ke kantin. Nanti keburu habis," ucap Ruben lagi.


Kami pun bertiga lalu menuju ke kantin. Jujur saja, saat ini aku masih memikirkan tentang puisi milik Risal tadi. Aku jadi semakin penasaran dengan Risal dan latar belakangnya yang masih penuh dengan tanda tanya itu. Dan juga, kenapa ia lebih memilih untuk menyendiri dari pada bersosialisasi dengan teman-teman lainnya.

__ADS_1


"Kalian pernah bicara dengan Risal?" tanya ku pada Ruben dan Ahsan.


"Pernah, tapi sepertinya hanya beberapa kali saja," ucap Ruben sambil terlihat mengingat-ingat kembali.


"Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu Lang?" tanya Ahsan.


"Gak papa sih... Hanya saja aku merasa ada pesan yang sangat dalam dari puisinya tadi," jawab ku.


"Iya memang, aku rasa juga seperti itu. Walaupun aku tidak terlalu mengerti, aku juga seperti merasakan sesuatu dari puisinya tadi," ucap Ruben.


"Haaa? Apa-apaan tuch? Bilang saja kau memang tidak mengerti apa-apa Ben," ledek Ahsan.


"Mungkin kau yang tidak mengerti apa-apa San," balas Ruben.


Kami bertiga pun sudah sampai di kantin dan langsung membeli makanan kami masing-masing. Tak lama setelah itu, kami pun kembali ke kelas dan bel masuk pun langsung berbunyi.


***


Sepulang sekolah, aku berencana untuk mampir terlebih dahulu ke toko buku. Kebetulan hari ini aku sedang butuh inspirasi tentang puisi, jadi aku putuskan untuk mampir sebentar di toko buku untuk membeli buku tentang puisi. Untung saja tadi bu Hesti tidak meminta tugas membuat puisi, kalau tadi ia minta aku pasti tidak akan mengumpulkan apa-apa.


Sesampainya di toko buku, aku pun langsung masuk dan mencari buku yang sesuai. Di saat aku sedang mencari buku yang ingin aku beli, tiba-tiba saja Cindy keluar dari ruangan di belakang kasir. Ia datang lalu menghampiri ku.


"Eh Galang, sedang cari buku apa?" tanya Cindy saat baru datang menghampiri ku.


"Ini Cin lagi cari buku tentang puisi-puisi gitu. Aku belum ada inspirasi sama sekali soal membuat puisi tadi. Aku pun tadi tidak menuliskan satu kata pun di buku," ucap ku.


"Eh benarkah? Aku kira kamu itu tipe orang yang suka dan mudah untuk membuat puisi," ucap Cindy.


"Aku memang suka membacanya, tapi entah kenapa aku tadi tidak punya ide sama sekali tentang membuat puisi," ucap ku lagi.


"Oh begitu, yasudah aku tinggal dulu sebentar ya Lang," ucap Cindy.


"Oh iya Cin," balas ku.


Cindy lalu mulai berkeliling toko sambil sesekali membersihkan debu yang menempel, atau hanya sekedar membenarkan posisi buku yang kurang rapih. Sepertinya Cindy sudah mulai ikut membantu mengurus toko buku ini. Cindy juga tampaknya merasa senang bisa membantu neneknya yang mungkin sudah mulai kewalahan mengurus toko buku ini sendirian.


Aku pun lalu mulai melihat-lihat lagi buku mana yang kira-kira akan aku beli. Aku lalu melihat sebuah buku kumpulan puisi yang berjudul "Sepucuk Surat dari Bintang". Dari judulnya aku pikir cukup menarik, aku pun lalu langsung mengambilnya dan melihat-lihat buku itu sebentar.


Setelah berpikir sejenak, aku pun mantap untuk membeli buku ini. Aku lalu langsung menuju ke kasir untuk membayar. Seperti biasa, nenek Cindy yang selalu berada di meja tersebut. Ia pun kini terlihat sedang membaca buku yang cukup tebal. Tak ketinggalan pula, secangkir teh di samping kirinya. Aku lalu segera menyerahkan buku itu ke atas meja kasir. Nenek itu lalu mengambilnya dengan perlahan dan langsung men-scan barcode buku tersebut.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2