Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 92 : Latihan Tanpa Pak Bimo


__ADS_3

Tinggal 5 menit lagi hingga waktu menunjukkan pukul 4, akan tetapi pak Bimo masih saja belum menampakkan dirinya. Sudah mulai ada desas-desus yang mengatakan bahwa pak Bimo akan absen pada latihan hari ini dikarenakan ada urusan mendadak yang mengharuskan ia pergi.


Aku tidak tahu dari mana desas-desus tersebut beredar. Aku hanya kagum bagaimana kabar tersebut cepat sekali menyebarnya.


"Pritttt," tiba-tiba saja ada suara peluit yang cukup nyaring. Suara peluit tersebut ternyata berasal dari kapten tim, yaitu kak Jonathan. Kami yang mendengar suara peluit tersebut, langsung berkumpul melingkari kak Jo.


"Pengumuman, hari ini pak Bimo tidak bisa hadir menemani latihan kita dikarenakan ada suatu hal. Beliau memberikan tanggung jawab kepada saya untuk memimpin kegiatan ekstrakulikuler pada sore hari ini. Oleh karena itu, saya meminta kerja sama teman-teman untuk tetap kondusif dalam mengikuti kegiatan kali ini meskipun tidak ditemani oleh pak Bimo. Sebelum kita memulai kegiatan pada sore hari ini, alangkah baiknya kita memulainya dengan berdoa. Berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa, mulai," kak Jo menundukkan wajahnya diikuti oleh peserta yang lain, termasuk aku.


"Selesai," kak Jo melanjutkan ucapannya, "pada sore ini, seperti biasa kita akan memulainya dengan pemanasan terlebih dahulu. Nanti, setelah selesai berkeliling lapangan sebanyak 3 kali, kita baru akan melaksanakan pemanasan yang akan dipimpin oleh kak Taufik. Setelah itu, latihannya adalah latih tanding kembali. Sampai sini, apakah ada pertanyaan?"


Para siswa yang lain tampak mengerti dan sepertinya tidak akan ada pertanyaan dari kami.


"Kalau tidak ada pertanyaan, mari kita mulai lari berkeliling lapangan terlebih dahulu. Dimulai dari yang sekarang berdiri di sebelah barat. Prittttt," ucap kak Jo yang diakhiri dengan suara peluit tersebut.


Setelah kak Jo meniup peluit tadi, anak-anak yang berdiri di sisi barat langsung memulai lari mengelilingi lapangan diikuti anak-anak di sisi selatan, timur, dan utara. Kami mulai berlari dengan perlahan supaya tetap menjaga stamina kami untuk berlatih tanding nantinya.


Sorot sinar matahari terkadang menyilaukan pandangan kami saat kami berlari dari arah timur ke barat. Sorot sinar matahari itu, terasa seperti sorot lampu jauh kendaraan yang melintas di malam hari.


Saat memandang ke arah atas, awan yang bergerak dengan perlahan itu, sepintas terlihat seperti sedang berlari bersama dengan kami. Awan-awan itu, entah kenapa seperti menjadi satu dengan kami yang sedang berlarian di sini.


Aku pun menjadi sedikit penasaran, kira-kira akan memakan waktu berapa lama jika seorang manusia berlari menuju ke atas langit sana? Apakah suatu saat manusia itu bisa benar-benar sampai di langit yang bewarna biru itu? Entahlah.


Satu kali putaran telah berhasil kami lalui. Masih ada sekitar dua putaran lagi. Angin yang mengalir di udara saat ini, entah kenapa terasa seperti sedang memberikan kami semangat di penghujung bulan Agustus ini.

__ADS_1


Suara tanah yang terkena hentakan kaki, entah kenapa terdengar seperti suara tepuk tangan yang juga sedang mendukung dan menyemangati kami. Aku tahu ini mungkin terdengar gila, akan tetapi aku benar-benar merasakan dan berpikir seperti itu.


Nafas yang terus menerus keluar, juga terus menerus akan berganti. Seperti sebuah hari, ada malam ada siang, ada gelap ada terang. Seperti sebuah pantai, kadang surut kadang pasang. Seperti sebuah kehidupan, kadang sedih kadang senang. Seperti itulah sistem akan terus berjalan, selalu berimbang dan selalu memiliki waktunya masing-masing.


Terkadang aku bernafas secara otomatis terkadang secara manual. Maksud dari bernafas secara otomatis adalah keadaan dimana aku tidak perlu memikirkan mengambil dan membuang udara untuk bernafas, mereka berjalan dengan sendirinya. Namun, setiap kali aku mengingat nafas otomatis ini, maka aku akan langsung masuk ke dalam mode bernafas manual dimana aku harus melakukan pengambilan dan pembuang udara secara sadar. Seperti sekarang ini.


Tanpa terasa, kami sudah selesai melakukan lari mengelilingi lapangan sebanyak 3 kali. Selanjutnya, kami akan beristirahat terlebih dahulu selama 5 menit sebelum melakukan pemanasan anggota tubuh yang akan dipimpin oleh kak Taufik dari kelas 11. Jika kalian masih ingat, kak Taufik adalah penyerang utama dari tim sekolah ini.


Setelah selesai beristirahat, kami pun lalu membentuk barisan. Kami membuat menjadi sekitar 6 baris ke belakang.


Pemanasan dimulai dari area kepala dan leher. Kami mulai memutar-mutar leher kami dengan hitungan yang kami buat sendiri. Setelah leher, kini giliran tangan dan tubuh bagian atas. Setelah itu, giliran tubuh bagian bawah dan kaki. Kami pun akhirnya selesai melakukan pemanasan dan akan langsung dilanjutkan dengan latihan latih tanding.


***


Di latihan tadi barusan, entah kenapa aku merasa kemampuan bermain sepak bola ku telah meningkat. Entah itu hanya pikiran ku saja atau memang kenyataannya seperti itu, aku benar-benar tidak tahu.


Kami tidak langsung pulang kali ini. Kami semua terlihat beristirahat terlebih dahulu di pinggir lapangan yang menghadap ke barat itu. Sambil beristirahat melepas letih, kami menikmati indahnya langit yang sudah mulai memancarkan sinar oranye tersebut.


Suasananya begitu tenang. Angin yang berhembus pelan seakan menambah rasa damai saat ini. Burung-burung yang terbang rendah di area persawahan sebelah lapangan itu, terlihat seperti sedang menari dan mengajak kami untuk ikut terbang juga.


"Oi Lang, lagi-lagi kau ngalamun yah?" ucap Ruben yang terlihat masih memegangi botol minumannya.


"Aku hanya sedang memandangi langit," jawab ku datar.

__ADS_1


"Haaaa? Apa-apaan itu. Kau mau jadi anak India ya?" ucap Ruben dengan wajah polosnya.


"Bukan Indiaaaa tapi Indieeeee," teriak Ahsan dari samping Ruben.


"Beda yah?" ucapnya dengan wajah tak berdosanya lagi.


"Tentu saja beda lahhh," ucap Ahsan lagi.


"Ya maap hahaha," Ruben tertawa.


fiuhhhhhh. Tiba-tiba saja sebuah angin uang cukup kuat datang dan menerpa kami. Angin yang juga membawa debu dan rumput kering itu meninggalkan beberapa kotorannya di tubuh kami.


"Hahahaha, lihat rambut mu tuh Ben, penuh dengan rumput, persis dengan sarang burung," Ahsan tertawa melihat rambut Ruben yang keriting itu penuh dengan rumput kering.


"Oi oi oi kenapa bisa tiba-tiba angin sebesar itu lewat sini sihhh? Memangnya tidak ada jalan lain lagi yahhh?" gerutu Ruben sambil memandangi langit.


"Hahaha kau pikir ada gunanya kau memarahi angin barusan? Kau malahan terlihat seperti orang gila sekarang hahahaha," ucap Ahsan lagi.


"Cihhh," gumah Ruben.


Hari semakin sore, orang-orang yang tadi masih terlihat beristirahat di sekitar sini pun, kini sudah terlihat semakin sedikit. Hanya terlihat tinggal beberapa orang termasuk aku, Ruben, Ahsan, Aji, dan Renaldi yang masih terlihat asik bersenda gurau. Ya, walaupun aku dan Renaldi lebih banyak diam sih, tapi entah kenapa sore ini, meskipun banyak sekali angin yang bertiup, rasanya sedikit hangat dan tenang sekali.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2