
"Aku hanya merasa jika aku menceritakan hal itu pada yang lain mungkin hanya akan membuatmu tambah bersedih. Jadi, ku pikir lebih baik menunggu hingga kamu yang menceritakannya sendiri," balas ku.
"Sekali lagi makasih ya Lang," ucap Cindy.
Aku dan Cindy lalu terdiam beberapa saat sambil memandangi langit malam. Kini, perlahan Cindy sudah bisa menghentikan air matanya.
"Jadi, untuk sementara kamu akan tinggal bersama nenek mu terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah?" tanya ku membuka percakapan lagi.
"Mungkin bukan sementara Lang, mungkin untuk seterusnya aku akan tinggal di sini. Di sini, aku sangat merasa sangat disayangi. Mungkin nenek sudah tua, tapi rasa kasih sayangnya begitu membuatku merasa damai. Aku juga bisa sekalian membantu nenek menjaga toko buku ini," ucap Cindy.
"Kalau memang begitu pilihan mu aku akan mendukung. Oiya ngomong-ngomong ayah mu yang terdahulu sekarang dimana?" tanya ku lagi.
"Sekarang dia sudah tidak ada di sini lagi, dia sudah tenang di atas langit sana bersama kakek," ucap Cindy dengan nada lirih.
"Eh maaf aku tidak tahu. Aku tidak bermaksud untuk membuat mu bersedih kembali," ucap ku yang merasa tidak enak pada Cindy.
"Tidak. Tidak apa-apa kok. Justru aku yang harusnya minta maaf pada mu, Ahsan, serta Ruben." jawab Cindy.
"Kali ini minta maaf untuk apa lagi?" tanya ku heran.
"Maaf karena telah berbohong sewaktu kalian bertiga berkunjung kesini. Waktu itu aku berbohong soal kenapa aku tidak masuk sekolah selam dua hari itu," ucap Cindy lagi.
"Tidak apa-apa. Aku tahu perasaanmu. Jika aku di posisi mu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Terlebih lagi, aku sebenarnya sudah tahu sejak awal kalau kamu sedang berbohong," ucap ku.
"Eh beneran? Kamu tau dari mana kalau aku berbohong?" tanya Cindy keheranan.
__ADS_1
"Saat kau bilang bahwa karyawan toko buku ini sedang libur. Setahuku, toko ini tidak pernah memiliki karyawan. Soalnya aku sudah berkunjung ke toko ini sejak aku masih kecil dulu," jelas ku.
"Eh sungguh? Berarti Ruben dan Ahsan sudah tahu kalau aku berbohong?" tanya Cindy khawatir.
"Belum kok. Aku masih menyimpannya sendiri," jawab ku.
"Wah makasih banget ya Lang," Cindy terlihat merasa lega.
"Bukan apa-apa kok, lebih baik jika kamu sudah merasa lebih baik untuk bercerita pada mereka, segeralah bercerita. Mereka pasti akan membantu mu. Ahsan dan Ruben... Mereka adalah anak yang baik," ucap ku sambil memuji mereka berdua.
"Kurasa juga begitu hehehe," Cindy kini terlihat tertawa.
Setelah Cindy tertawa, kami pun kembali menjadi saling diam tanpa percakapan. Suara gesekan sayap serangga pun sampai terdengar tipis-tipis. Malam pun semakin larut.
"Masih ada hal yang ingin disampaikan lagi gak Cin?" tanya ku.
"Syukurlah kalau begitu. Aku senang bisa membantu meringankan masalah mu meskipun yang aku lakukan hanyalah mendengarkan. Kalau begitu aku mau pulang dulu yah. Sudah semakin malam juga hehe," ucap ku sambil melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 22.03.
"Oh iya maaf ya Lang, aku jadi lupa waktu. Hati-hati Lang," ucap Cindy.
"Oke, tenang saja hehe," Aku lalu pergi meninggalkan Cindy dan toko buku itu dengan senyuman tipis.
Aku lalu melambai pada Cindy yang sudah mulai jauh sebelum aku menghilang di ujung jalan dan berbelok. Kondisi jalanan saat ini masih saja cukup ramai. Aku tidak mengerti kenapa orang-orang sangat suka sekali bepergian di malam minggu. Jika aku sedang tidak merasa bosan seperti tadi, aku pasti akan selalu berada di rumah sambil membaca novel.
Sesampainya di rumah, aku langsung mencuci kaki, tangan, dan muka ku. Tak ketinggalan aku juga menggosok gigi. Rasanya cukup melelahkan berjalan tanpa tujuan seperti tadi. Setelah itu, aku pun langsung menuju kamar untuk bersiap-siap tidur.
__ADS_1
Akhirnya setelah cukup lama bertanya-tanya, kini aku pun sudah tahu masalah apa yang menimpa Cindy. Masalahnya memanglah berat. Aku jadi sedikit takut jika suatu hari nanti ibu ku menikah lagi dan akan berakhir seperti ayah dan saudara tiri Cindy seperti ceritanya tadi.
Aku masih saja merasa tidak percaya bahwa Cindy mau menceritakan masalahnya seperti tadi. Bahkan, tadi ia memanggil ku terlebih dahulu sambil sedikit berteriak dari balkon lantai dua.
Aku juga merasa sedih mendengar bahwa saudara dan ayah tirinya bersikap buruk padanya. Apa lagi, saat ibunya juga perlahan-lahan berubah. Kalau aku dalam posisi Cindy, aku pasti akan merasa sangat hancur dan mungkin keadaan ku akan lebih depresi dari pada apa yang terjadi pada Cindy saat itu.
***
Hari Minggu pagi ini, sudah tepat 4 Minggu sejak aku masuk SMA. Sudah banyak orang yang aku temui setelah itu. Bermacam-macam karakter dan latar belakang.
Tanpa sadar, aku sudah bisa menghafal seluruh siswa laki-laki yang ada di kelas ku. Aji, Ahsan, Ruben, Renaldi, Fahmi, Agung, Tomi, Risal, Ihsan, Fajar, dan Calvin.
Aji adalah orang yang sangat menggemari olahraga. Dia juga menjadi wakil ketua kelas. Ahsan dan Ruben adalah teman dekat ku. Dulu sebelum aku mengenal mereka, mereka sudah terlihat selalu bersama sejak hari pertama masuk SMA. Ternyata memang mereka berasal dari SMP yang sama.
Renaldi adalah sosok yang pendiam. Dia selalu saja terlihat serius. Bahkan, jarang ada hal yang membuatnya tertawa. Dia juga ikut ekstrakulikuler Sepak Bola sama seperti ku. Posturnya pun yang paling tinggi di kelas.
Kemudian Fahmi. Fahmi memiliki tubuh yang agak gempal. Yang paling mencolok dari Fahmi adalah rambutnya yang selalu terlihat klimis dan rapih.
Agung adalah sosok yang sangat indie. Dia sangat suka sekali mata pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi hanya pada materi Puisi saja.
Tomi adalah sosok yang cukup serius sama seperti Renaldi. Hanya saja sepertinya Tomi lebih gampang tertawa dari pada Renaldi.
Risal adalah sosok yang sangat menyukai komik. Tidak hanya komik, ia juga menyukai Anime (animasi dari Jepang). Secara garis besar ia sangat menyukai hal-hal berbau Jepang. Orang-orang sering memanggilnya dengan sebutan Wibu. Selain itu, Risal juga adalah sosok yang cukup pendiam dan sepertinya dia lebih suka menyendiri dari pada menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Setiap kali berangkat, ia pasti datang masuk ke kelas dengan mengenakan earphone besar yang menutupi kedua telinganya tersebut.
Ihsan adalah sosok yang ramah. Ia bisa melakukan apa pun. Ia pun cukup terkenal dikalangan para gadis. Selain itu ia juga menjadi satu-satunya laki-laki yang ikut OSIS dari kelas kami.
__ADS_1
***
Bersambumg