
Hasil pertandingan pertama antara aku dan Ahsan berakhir imbang 1-1. Selanjutnya di pertandingan ke-2 akan mempertemukan aku dengan Ruben. Hasil pertandingan ke-2 ini adalah kemenangan bagi ku dengan skor 2-0. Di pertandingan ke-3 mempertemukan Ahsan dan Ruben yang mana pertandingan tersebut berakhir dengan skor imbang 2-2.
Klasemen sementara dari tiga pertandingan tersebut adalah Aku menempati posisi pertama dengan 4 poin hasil dari sekali menang (3 poin) dan sekali imbang (1 poin). Di posisi kedua ada Ahsan dengan 2 poin hasil dari 2 kali imbang. Sementara di peringkat terakhir ada Ruben dengan 1 poin Hasil dari sekali imbang dan sekali kalah (0 poin).
"Hahaha sepertinya sudah ketahuan nih siapa yang akan kalah," ledek Ahsan.
"Masih ada tiga pertandingan lagi, masih belum berakhir," balas Ruben.
"Haaa? Apa-apaan tuch? Percaya diri sekali kau ini. Memangnya kenapa kalau masih ada tiga pertandingan lagi?" ucap Ahsan lagi.
"Tentu saja aku akan menyapu bersih pertandingan yang tersisa dengan kemenangan," ucap Ruben yakin.
"Hahaha terserah kau saja lah," Ahsan hanya tertawa.
Pertandingan ke-4 pun dilanjutkan. Kini di pertandingan kali ini mempertemukan aku dan Ruben terlebih dahulu. Kali ini, aku lagi-lagi bisa mengalahkan Ruben dengan skor 2-0. Pertandingan selanjutnya giliran aku yang bertanding melawan Ahsan. Pertandingan kali ini cukup sengit, tetapi pada akhirnya aku tetap berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 2-1.
Klasemen sementara hingga pertandingan yang ke-5 ini adalah aku masih kokoh di puncak klasemen dengan 10 poin, Ahsan di peringkat ke-2 dengan 2 poin, dan Ruben masih di peringkat terakhir dengan 1 poin.
Di pertandingan yang ke-6 atau terakhir ini mempertemukan Ruben dengan Ahsan. Siapa pun yang berhasil memenangkan pertandingan ini akan berada di posisi dua, akan tetapi jika pertandingan berakhir imbang maka klasemen akan tetap sama seperti saat ini. Mau tidak mau Ruben harus meraih kemenangan kali ini, jika tidak ingin berada di peringkat terakhir.
Akhirnya pertandingan terakhir sekaligus penentuan dimulai. Kali ini Ruben terlihat bermain lebih bertahan dan menunggu momen-momem serangan balik. Pertahanan yang sangat rapat membuat Ahsan kesulitan untuk melakukan tendangan ke gawang. Alhasil, hingga babak pertama berakhir, skor masih sama kuat 0-0.
Di pertandingan babak kedua, Ruben langsung mendapatkan peluang. Namun peluang tersebut belum berhasil membuahkan gol karena bola hanya membentur tiang gawang bagian kanan lalu keluar lapangan. Akhirnya di pertengahan babak kedua tepatnya di menit ke-72 gol pun terjadi. Adalah Ruben yang berhasil mencetak gol terlebih dahulu melalui skema serang balik yang amat cepat. Ruben pun memimpin sementara 1-0.
Tidak ada gol lagi yang tercipta hingga pertandingan berakhir. Ruben pun akhirnya berhasil memenangkan pertandingan kali ini. Dengan hasil ini, ia berhasil naik ke posisi ke-2 dan Ahsan harus rela menempati posisi terakhir. Dengan begini makan yang akan memasak untuk sarapan besok adalah Ahsan, rival abadi dari Ruben.
"Hahaha kau lihat San siapa yang tersenyum di akhir? Hahahaha sudah ku bilang aku pasti akan mengalahkan mu kali ini. Hahaha," Ruben tertawa amat puas kali ini.
"Kau cuma beruntung saja tadi," ucap Ahsan membela diri.
"Kalah tetap kalah. Hahahaha," Ruben masih tertawa dengan riangnya.
__ADS_1
"Sekali-kali aku kasihan pada mu karena selalu kalah, jadi aku mengalah saja kali ini," balas Ahsan lagi
"Haaaaa? Apa-apaan tuch?" ucap Ruben menirukan logat khas Ahsan.
"Sialan kau. Iya deh aku kalah sekarang, lain kali aku tidak akan mengalah lagi hahahaha. Jadi, sekarang kita mau ngapain? Sekarang masih jam 9 nich, belum ngantuk," ucap Ahsan.
"Main game lagi aja hahaha," ucap Ruben.
"Bosen lach," jawab Ahsan.
"Oiya besok ngomong-ngomong ada karnaval gak yah?" tanya Ruben.
"Aku denger sih ada, kenapa?" ucap Ahsan.
"Kalau ada, nonton yuk?" ajak Ruben.
"Sori Ben, aku gak ikut kalau nonton karnaval," ucap ku.
"Aku gak terlalu suka karnaval, aku juga gak nyaman kalau berada di sekitaran karnaval. Jadi, aku lebih baik di rumah saja dari pada nonton karnaval," jawab ku.
"Wah begitu yah, kalau kau San?" kini giliran Ruben bertanya pada Ahsan.
"Tentu saja aku akan menonton hahahaha. Cuma setahun sekali," jawab Ahsan.
"Wah bagus kalau begitu, aku jadi tidak menontonnya sendirian hahaha," ucap Ruben sambil tertawa.
Aku sungguh merasa tidak enak kali ini. Di saat mereka akan pergi menonton karnaval bersama, aku malah menolaknya karena alasan pribadi. Namun, jika aku paksakan ikut menonton aku malah akan merasa lebih tidak nyaman lagi. Mungkin sesekali tidak apa-apa menolak ajakan teman.
***
"Apa-apaan ini?" ucap Ruben saat mengetahui bahwa yang dimasak Ahsan untuk sarapan pagi ini adalah telur ceplok.
__ADS_1
"Kenapa Ben? Kok terkejut terheran-heran seperti itu?" tanya Ahsan dengan tanpa beban.
"Kenapa cuma masak telor ceplok? Ditambah lagi bawahnya sedikit gosong lagi," protes Ruben.
"Sudahlah makan saja. Rasanya enak kok. Lagi pula tidak perjanjian aku harus masak apa kan? Perjanjiannya hanya mengatakan kalau yang kalah hanya harus memasak makanan untuk sarapan. Jadi, aku gak salah kan kalau masak telor ceplok?" ucap Ahsan membela.
"Tidak salah sih, tapi... Ah sudahlah terserah kau saja," ucap Ruben agak kesal.
"Hahahaha," Ahsan tertawa lepas.
Pagi ini sesuai perjanjian semalam bahwa yang kalah bermain game akan memasak makanan untuk sarapan. Ahsan pun memasak telur ceplok sebagai menu sarapan kami bertiga kali ini. Setelah selesai sarapan, mungkin aku akan langsung pamit pulang.
***
"Aku pamit dulu ya Ben, sampai jumpa di latihan Sepak Bola nanti sore," ucap ku pada Ruben sekitar pukul 8 pagi.
"Makasih ya Lang sudah mau menginap di tempat ku," balas Ruben.
"Aku juga mau pulang dulu Ben. Kabari nanti mau nonton karnaval jam berapa," Ahsan juga terlihat pamit pada Ruben.
"Okee," jawab Ruben singkat.
***
Akhirnya waktu telah menunjukkan pukul 15.10. Aku pun sudah bersiap-siap untuk berangkat latihan Sepak Bola bersama anggota yang lain. Setelah selesai mengecek barang bawaan ku, aku pun langsung bergegas berjalan menuju ke lapangan tempat latihan.
Cuaca sore hari ini terlihat cukup mendung, tapi mungkin tidak akan sampai hujan. Aku tidak tahu apakah saat ini Ahsan dan Ruben masih menonton karnaval atau tidak. Aku juga sebenarnya tidak tahu kapan karnaval itu berakhir, bisa saja saat ini karnavalnya sudah berakhir.
Sesampainya di lapangan, aku langsung duduk di kursi dan mulai memakai sepatu sepak bola ku. Sambil menali, aku melihat sekeliling untuk mencari tahu apakah Ruben dan Ahsan sudah ada di lapangan atau belum. Hingga aku selesai memakai kedua sepatuku, aku belum menemukan mereka di sini. Apa mungkin mereka masih menonton karnaval? Entahlah.
***
__ADS_1
Bersambung