
Sekitar pukul 11.45, aku kini sudah berada kembali di rumah setelah dari tadi pagi membantu ibu di toko bunga, ya walaupun cuma bantu hal-hal kecil sih. Setelah makan siang, aku berencana untuk langsung menuju ke rumah Ruben yang mana tadi pagi dia mengirimi ku pesan untuk pergi ke rumah Ahsan.
Menu makan siang hari ini adalah telur ceplok atau yang biasa di sebut telur mata sapi. Aku tidak tahu kenapa telur ceplok itu diberi nama telur mata sapi. Padahal kita tau sendiri bahwa bahan utamanya adalah telur ayam, kenapa engga dikasih nama telur mata ayam yah? Kenapa malah telur mata sapi? Jika kalian jadi ayam, apakah kalian akan merasa sakit hati?
Lagi-lagi pikiran ku melayang tak karuan. Entahlah, hanya saja jika sedang berpikir liar seperti ini aku merasa bahwa aku sedang hidup.
Alasan ku memilih telur ceplok sebagai menu makan siang ku adalah karena pertama itu mudah dibuat, sangat simpel. Lalu, yang kedua adalah karena sekarang aku harus memasak menu makan siang ku sendiri.
**
Tepat pukul 12.40, aku berangkat pergi ke rumah Ruben. Kali ini seperti yang Ruben tadi pesan, aku menggunakan sepeda. Karena rumah Ahsan sekitar 3,5 km dari rumah Ruben, maka jika di tempuh dengan berjalan kaki akan memakan waktu yang relatif lama.
Suasana jalan saat ini lumayan sepi, tidak seramai pagi tadi. Apa mungkin karena langit saat ini yang sudah mendung yah? Padahal tadi pagi langit begitu cerah. Aku harap langit yang sudah mendung itu tidak sampai menjadi hujan.
***
Sesampainya di rumah Ruben, aku langsung mengetuk pintu rumahnya. Seperti biasa, rumah Ruben terlihat seperti selalu kosong. Wajar sih karena sekarang dia tinggal sendiri, sementara orang tuanya tinggal di luar kota bersama dengan adiknya.
Tok tok tok. "Rubeenn," ucap ku sambil mengetok pintu.
"Iya sebentar," jawab suara perempuan dari dalam yang mana langsung membuat ku terkejut. Kira-kira milik siapa suara perempuan itu? Padahal kan Ruben tinggal sendiri... Seingat ku, tidak ada yang memiliki suara seperti itu di kelas kami. Jadi, kemungkinan besar itu bukanlah suara perempuan dari kelas ku. Namun, jika diperhatikan lagi, suaranya itu seperti suara perempuan yang sudah dewasa.
Saat pintu rumah Ruben terbuka, seorang perempuan yang sepertinya berusia sekitar usia anak kuliahan keluar dari dalam rumah. Aku sangat terkejut. Sangat-sangat terkejut. Kira-kira siapa gerangan perempuan ini.
"Rubennya ada?" tanya ku sambil mencoba untuk menutupi rasa terkejut ku ini.
"Ruben ada, lagi mandi. Oh kamu ini temennya Ruben yah?" tanya wanita itu.
"I-iya kak," jawab aku agak canggung.
__ADS_1
"Oiya masuk, masuk aja dulu sini. Tunggu yah Ruben lagi mandi. Tadi ia pesen kalau jika ada temannya datang, suruh tunggu dulu," ucap wanita itu sambil mempersilahkan ku untuk duduk.
"Oh iya," jawab ku agak lirih.
"Oh iya kamu pasti bingung yah. Perkenalkan aku Sella, sepupunya Ruben. Kebetulan tadi aku mampir ke sini buat bawain makanan untuk Ruben," ucap perempuan yang ternyata bernama Sella tersebut sambil menjulurkan tangan mengajak bersalaman.
"Oh iya... Galang," jawab ku sambil menyambut juluran tangan kak Sella.
Kak Sella lalu pergi ke belakang. Sepertinya ia akan memberitahu Ruben kalau aku sudah datang.
***
"Wah maaf ya Lang, udah nunggu lama yah," ucap Ruben dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Oh iya gak papa, tapi kenapa muka mu kelihatan begitu bahagia begitu?" tanya ku.
"He hehe. Tadi aku puas banget. Pas aku lagi BAB rasanya semua amunisi yang ada di dalam perut ku udah keluar semua jadi ampas. Rasanya perut ku saat ini begitu lega he hehe," ucap Ruben dengan raut wajah yang masih girang.
"Ya sudah ayo kita segera berangkat ke rumah Ahsan," ucap Ruben.
"Oke," jawab ku.
"Kak Sella, aku pergi dulu yah... Kalau nanti kak Sella mau pulang, kuncinya taruh di atas pintu aja ya," ucap Ruben agak berteriak kepada kak Sella yang sepertinya sedang berada di dapur itu.
"Oh iya," jawab kak Sella yang juga agak berteriak.
***
Saat dalam perjalanan, hujan gerimis rintik-rintik tiba-tiba saja turun. Aku dan Ruben pun lalu langsung mempercepat laju sepeda kami agak tidak terlalu basah. Beruntung jarak dari sini ke rumah Ahsan kata Ruben sudah tidak terlalu jauh.
__ADS_1
Tak berselang lama, kami pun akhirnya tiba di depan pagar rumah Ahsan. Dan langsung berteduh di teras depan rumahnya dengan sebelumnya memarkirkan sepeda kami terlebih dahulu dihalaman rumah Ahsan.
Tok tok tok. "Ahsannn," ucap Ruben sambil diselingi mengetok pintu.
Tanpa ada suara yang menyahut, tiba-tiba saja pintu depan rumahnya langsung terbuka. Seorang bapak-bapak terlihat keluar dari dalam rumah membukakan pintu. Bapak-bapak itu terlihat mirip sekali dengan Ahsan. Sepertinya aku dapat menebaknya bahwa bapak-bapak itu adalah ayahnya Ahsan.
"Ahsannya ada om?" tanya Ruben seketika setelah bapak-bapak itu membukakan pintu depan rumah.
"Ada, silahkan masuk dulu," ucap bapak-bapak itu sambil mempersilahkan kami duduk di ruang tamu. Kemudian, bapak-bapak itu langsung kembali menuju ke arah belakang. Mungkin ia akan mencari Ahsan.
"Kau tau tadi itu siapa?" tanya Ruben sesaat setelah bapak-bapak itu pergi ke belakang.
"Ayahnya Ahsan?" jawab ku dengan masih ada tanda tanya.
"Wah kau hebat juga yah... Benar sekali itu ayahnya Ahsan. Dengan kata lain, kita habis saja bagaimana rupa dan bentuk Ahsan di masa depan. Bukankah itu sangat menggelitik sekali? Hahaha," ucap Ruben dengan diakhiri suara tawa. Lagi pula, siapa pun pasti akan langsung menyadari kalau itu bapak-bapak tadi adalah ayahnya Ahsan. Ruben ini terkadang pola pikirnya aneh sekali.
"Oi, ngapain kalian datang kemari?" ucap Ahsan saat baru keluar dari arah belakang itu. Dilihat dari suara dan raut wajah, sepertinya ia baru saja bangun tidur.
"Wahahaha kau lagi tidur yah?" tanya Ruben.
"Iyalah, gara-gara kalian datang kemari, bapak ku jadi membangunkan ku kan. Sial-sial, padahal tadi lagi mimpi indah loh," ucap Ahsan yang sudah semakin mendekat itu.
"Wahahaha, mimpi apaan tuch?" tanya Ruben dengan menirukan logat Ahsan.
"Mimpi kalau kau dapat nilai 0 di tiga mata pelajaran, hahahaha," Ahsan lalu langsung tertawa.
Disaat Ahsan sedang tertawa itu, tiba-tiba muncul dari arah belakang seorang wanita yang rambutnya sudah agak beruban datang kemari dengan membawa baki yang di atasnya sudah ada 3 buah cangkir yang dari aromanya sepertinya adalah teh.
"Hushh Ahsan. Suara tawa mu itu mengerikan sekali... Maaf ya dek, Ahsan memang orangnya itu begitu," ucap wanita yang sudah agak beruban itu.
__ADS_1
***
Bersambung