
"Ahsan?" tanya ku saat menyadari bahwa siswa yang baru saja dibangunkan itu adalah Ahsan.
"Oh kau Lang? Sedang apa?" ucapnya dengan suara yang masih mengantuk itu.
"Kalau mau tidur jangan di perpustakaan dek," ucap ibu-ibu petugas perpustakaan, namanya bu Ratmi.
"Iya bu maaf, tadi gak sengaja," jawabnya setelah ia mengucek-ucek matanya terlebih dahulu.
Bu Ratmi lalu langsung kembali ke tempatnya.
"Kau sudah lama sana tidur di sini?" tanya ku yang kini sudah berada di sekitarnya.
"Gak tau, sekarang jam berapa?" tanyanya balik.
"Udah jam setengah 11," jawab ku.
"Wah berarti sudah sekitar 2 jaman aku tidur, rasanya tapi masih mengantuk saja," jawabnya yang kini malah kembali memejamkan mata dan lalu meletakkan kepalanya di meja.
"Oi San jangan tidur lagi. Nanti kau kena tegur lagi loh," ucap ku.
"Oh iya, aku lupa. Sekarang kau mau kemana?" tanyanya yang terlihat masih sangat mengantuk.
"Aku kan baru sampai di sini, tentu saja aku mau baca-baca buku terlebih dahulu. Lagian kenapa kau terlihat sangat mengantuk begitu?" tanya ku penasaran.
"Aku habis nonton bola semalam. Yang bikin jadwal siarannya ga ada otaknya memang. Ngapain coba jadwal pertandingannya jam 2 pagi," jawabnya
"Kan memang zona waktu negara kita dan mereka berbeda. Lagi pula kenapa juga kau nonton bola kalau memang tidak kuat menahan kantuk?" tanya ku.
"Aku kira hari ini libur kan. Lalu aku baru ingat setelah aku mau pergi tidur lagi kalau ternyata hari ini adalah hari terakhirnya," jawab Ahsan.
"Mending kau cuci muka mu dulu sana," ucap ku.
"Oke lah," Ahsan lalu bangkit dan langsung menuju ke kamar mandi untuk cuci muka.
***
Siang pukul 11.00, aku dan Ahsan telah keluar dari perpustakaan dan sedang dalam perjalanan menuju stand memasak Ruben dan yang lainnya. Jika sesuai jadwal, maka sekarang seharusnya mereka sudah selesai. Aku jadi penasaran, masakan apa yang dimasak Ruben dan yang lainnya yah?
"Oiya Lang, kau sudah tahu Ruben masak apa?" tanya Ahsan.
"Belum, tadi waktu aku dan yang lainnya berkunjung dan tanya, Ruben tidak mau menjawabnya. Dia bilang untuk menunggu hingga makanannya jadi," jawab ku.
"Banyak tingkah sekali anak itu. Aku jadi ingin menghinanya," ketus Ahsan.
__ADS_1
"Hahahahaha," aku tertawa mendengar ucapan Ahsan tadi. Ternyata, walaupun Ruben tidak sedang berada di sisinya sekalipun, Ahsan masih bisa berdebat dengannya.
Saat kami sudah mulai mendekati stand memasak, tiba-tiba saja Ruben yang melihat kami berjalan menuju ke situ, langsung melambaikan kedua tangannya dan berteriak, "Oi oi, kalian terlambat."
"Kau lihat Lang? Kau sekarang mengerti kan kenapa aku selalu memanggilnya anak bodoh," gerutu Ahsan.
"Mood mu sepertinya sedang jelek yah? Mungkin karena kau sebenarnya masih mengantuk yah? Hahahaha," ucap ku.
Selain ada anak-anak 10-7, di sekitar stand itu juga terlihat Celine, dan kedua temannya. Selain itu, Sofia juga terlihat diantara yang lainnya.
"Dari mana saja kalian? Kalau kalian mau mencicipi makanan, kalian udah telat loh karena makanannya udah di bawa ke para juri. Dan sisa makanannya udah habis hahaha," ucap Aji yang juga sudah berada di situ.
"Wah sayang sekali. Padahal aku ingin sekali mencicipi masakan Ruben lagi," jawab ku.
"Ini pasti gara-gara Ahsan bersama mu ya Lang kau jadi telat? Memang Ahsan itu pembawa sial," ketus Ruben.
"Haaaa apa maksud mu?" timpal Ahsan.
"Hahaha engga, engga kok. Bukan gara-gara Ahsan. Aku sendiri yang ceroboh. Aku terlalu asik membaca buku novel hingga lupa waktu. Justru Ahsan yang mengingatkan ku tadi untuk segera kemari," jelas ku.
"Tuh kau dengar baik-baik yahh," timpal Ahsan.
"Hahaha Ahsan kayanya hari ini lebih emosian dari pada biasanya. Ada masalah apa San?" tanya Aji.
"Mungkin karena dia tadi dibangunkan dari tidurnya. Mungkin moodnya jadi jelek," jawab ku.
"Oiya ngomong-ngomong sepertinya di sini lumayan ramai yah," ucap ku.
"Iya, mereka-mereka yang datang pingin mencicipi masakannya Ruben," ucap Aji.
"Padahal kan di sini gak cuma Ruben loh yang masak, tapi ada kami juga. Kami berlima," tiba-tiba Ayu bersuara.
"Hahahaha iya-iya masakan kalian maksudnya," Aji mengoreksi ucapannya.
"Terus pengumuman pemenangnya kapan?" tanya ku.
"Nanti sekitar jam 3, sekalian sama pengumuman lomba-lomba yang lain," jawab Aji.
"Wah lama juga yah," ucap Ahsan.
"Hahaha iya nih. Sekarang kita punya banyak waktu kosong nih, ngapain yah enaknya?" tanya Aji.
"Mau ngapain emang? Kan kita masih di sekolah," ucap Calvin.
__ADS_1
"Ya mungkin mau nongkrong-nongkrong gitu?" ucap Aji lagi.
"Ayo, kebetulan aku juga pingin sekalian istirahat. Celine mau ikut sekalian?" ucap Ruben.
"Eh gimana yah... Emmm... Besok kapan-kapan aja deh kayaknya..." jawab Celine dengan agak ragu-ragu.
"Yah..." ucap Ruben sambil menunjukan raut wajah kecewa.
***
Pada akhirnya, kami tidak jadi kemana pun. Pada akhirnya, kami hanya menghabiskan waktu dengan beristirahat di kelas dan di kantin hingga waktu pengumuman tiba.
"Cepat Ben, lama banget sih," gumam Ahsan yang menunggu Ruben yang sedang berada di kamar mandi.
"Iyaaa, sebentar lagi. Kau jangan teriak-teriak seperti itu, nanti jadi masuk lagi," jawab Ruben dari balik pintu kamar mandi itu.
Aku, Ahsan, dan Ruben kini sedang berada di kamar mandi. Tentu saja, kami menggunakan kamar yang berbeda-beda. Aku dan Ahsan pergi ke kamar mandi karena keperluan untuk buang air kecil. Namun sepertinya Ruben melakukan hal yang lebih dari pada apa yang kami lakukan. Buktinya, sudah sekitar 5 menit aku dah Ahsan selesai menggunakan kamar mandi, Ruben masih saja belum selesai.
"Ya sudah, kami tinggal dulu yah?" ucap Ahsan lagi.
"Wahhh tunggu saja. Sebentar lagi," jawab Ruben dari balik pintu.
"Ya sudah, kita tunggu lima menit lagi yah, kalau sampai lima menit kau belum keluar, pokoknya kami tinggal," ucap Ahsan.
"Iyaaa... Beressss..." jawab Ruben yang entah kenapa jawabannya itu sekarang terasa menggema.
***
"Ayo kita segera ke sana," ucap Ruben yang baru saja keluar dari kamar mandi. Di wajahnya, kini tak terlihat satu penyesalan pun yang tersisa. Sepertinya, tadi ia telah mengeluarkan semua bebannya.
"Apa-apaan dengan raut wajah mu itu?" tanya Ahsan.
"Hah? Memang ada yang salah dengan muka ku?" tanya Ruben.
"Entah kenapa setelah keluar dari kamar mandi, muka mu terlihat lebih menjijikan dari pada biasanya," ucap Ahsan.
"Haaaa? Apa maksud mu?" timpal Ruben.
"Hahahahahaaha," aku lagi-lagi tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"Kenapa kau malah tertawa Lang? Ada yang salah?" tanya Ruben heran.
"Engga, engga. Ya sudah ayo kita segera ke sana. Mungkin acaranya sudah mau memasuki acara intinya," ucap ku.
__ADS_1
***
Bersambung