Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 199 : Anak Baru


__ADS_3

Senin pagi, 15 Oktober, seperti biasa aku berangkat ke sekolah. Sepertinya, hari ini akan ada sedikit kejutan di sekolah.


Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah. Karena aku berangkat agak awal tadi, maka aku berjalan dengan santai dan tidak terlalu tergesa-gesa.


Semalam setelah aku pulang dari rumah kakek, aku mendapat kabar bahwa hari ini akan ada siswa baru. Siswa baru yang mana selama ini sudah diperbincang-bincang kan itu. Hari ini rumor-rumor yang beredar itu, akan menemui sendiri kebenarannya. Sejauh yang aku tahu anak baru nanti itu adalah seorang lelaki. Itu saja.


***


Sesampainya di kelas, seperti yang sudah aku duga, suasana kelas saat ini begitu gaduh. Para anggota kelas terlihat begitu antusias mengenai anak baru ini. Jika ada orang yang mendapat pengecualian, orang itu adalah Cindy dan juga Risal. Mereka berdua seperti tampak tak terlalu menghiraukan tentang anak baru ini.


Saat aku sampai kelas ini, aku belum melihat adanya murid baru itu. Besar kemungkinan ia belum lah berangkat.


***


Tepat sekitar 5 menit sebelum bel masuk berbunyi, pada akhirnya anak yang diperbincang-bicangkan itu datang juga.


Anak itu terlihat datang masuk ke kelas dengan kepala tegap, memakai kacamata hitam, sepatu yang begitu mengkilap, jam tangan, sabuk yang juga mengkilap dan juga seragam yang mana juga terlihat begitu mengkilap. Tak ketinggalan ia juga memakai tas punggung yang bermerek dan tentu saja terlihat mengkilap. Jika dilihat sekilas, ia pasti anak dari seorang yang sangat kaya.


Ia lalu terlihat berjalan menuju ke bangku yang masih kosong. Saat ini bangku yang masih kosong adalah bangku yang memang kosong dan satu lagi milik Ruben yang mana hingga sekarang masih belum berangkat. Entah kenapa aku mendapat feeling buruk yang mana mengatakan kalau anak baru itu akan duduk di kursi milik Ruben itu dari pada duduk di kursi yang memang belum berpenghuni dari awal.


Ya, benar sekali. Anak baru itu tepat seperti dugaan ku menduduki tempat milik Ruben.


"Maaf, tapi tempat itu udah ada yang memakainya. Untuk kursi yang masih belum bertuan itu kursi yang ada tepat di sebelah kanan kursi itu," ucap Cindy yang menegur anak baru itu. Hal itu pun semakin menjadi perhatian utama penghuni kelas. Saat ini, setiap mata dan telinga dengan fokus langsung mengarah ke arah percakapan Cindy dan anak baru tersebut.


"Ha? Siapa kamu? Kamu tau siapa aku?" ucap anak baru itu dengan nada yang sedikit arogan.

__ADS_1


Disaat percakapan tersebut terlihat akan memanas, tiba-tiba saja sang empunya tempat itu datang. Ya, Ruben kali ini terlihat langsung menghampiri tempat "persengketaan" tersebut.


"Tentu saja Cindy tidak mengenal mu, atau pun sebaliknya. Hari ini kan hari pertama mu masuk sekolah ini. Tentu saja kita semua belum saling kenal. Gimana sih kau, gitu aja gak paham," ucap Ruben yang mana membuat seisi kelas sedikit tertawa.


"Haa? Siapa kau ini? Kenapa datang-datang langsung membuat onar begitu? Ada masalah apa si hidup mu itu?" timpal anak baru itu masih dengan nada yang arogan.


"Wah kau belum tau nama ku ya? Perkenalkan nama ku Ruben, laki-laki yang akan menjadi raja bajak laut hahahaha," ucapnya sambil menirukan suara Monkey D Luffy di anime One Piece yang mana kali ini langsung disambut gelak tawa oleh seisi kelas.


"Hahahaha," suara tawa penghuni kelas.


"Hahaha bisa saja kau ini Ben," timpal salah satu penghuni kelas.


"Apa-apaan itu? Kampungan sekali," gumam anak baru itu.


"Haaa? Apa maksud mu? Kau itu yang kampungan... Kau gak pernah nonton One Piece yah? Hahaha," ucap Ruben agak memprovokasi.


"Cih, kurang ajar sekali kau yah..." timpal Ruben.


"Lalu kau mau apa?" tanya anak baru itu.


"Cih, terserah kau sajalah, yang penting sekarang kau cepat minggir dari tempat duduk ku. Aku mau meletakkan tas ku nih," ucap Ruben.


"Kalau aku tidak mau bagaimana? Lagi pula tidak ada aturannya kan kalau setiap orang itu berhak memiliki secara paten suatu tempat duduk?" timpal anak baru itu lagi.


"Cih dasar pengganggu, minggir kau," ucap Ruben yang mana saat ini sudah mulai mendorong anak baru itu agar supaya mau menyerahkan tempat duduk itu kembali pada Ruben.

__ADS_1


"Kau saja yang minggir Sana. Kenapa tidak kau saja yang duduk di situ. Lagi pula apa bedanya," balas anak baru itu yang tidak mau mengalah. Ia pun menahan dorongan Ruben tadi. "Baiklahhh stoppp... Aku tau solusinya," tiba-tiba saja anak baru itu berteriak yang mana langsung mengentikan adegan saling dorong antara Ruben dan anak baru itu.


"Apa maksud mu dengan solusi? Jadi kau akhirnya mau pindah juga dari tempat duduk itu?" tanya Ruben lagi.


"Bukan bukan seperti itu, tapi aku akan membayar mu. Hitung-hitung sebagai biaya ku membeli tempat ini dari mu," ucap anak baru itu sambil memegang dompet miliknya dan menggoyang-goyangkannya.


"Haa membelinya? Jangan omong kosong. Mana ada hal seperti itu. Lagi pula siapa juga yang mau menjual tempat yang begitu berharga itu. Tidak, aku tidak akan menjualnya," timpal Ruben.


"Haaa? Kau yakin tidak akan menjualnya?" tanya anak baru itu sambil mengambil satu lembar uang 20 ribuan.


"Haaa? Kau sudah gila ya? Mana mungkin aku akan menjual dengan uang segini. Maksud ku berapa pun yang akan kau tawarkan, aku tetap tidak akan menjual tempat duduk itu pada mu. Cepat sana kau pindah," ucap Ruben yang masih sangat teguh akan pendiriannya itu.


"Heee... Kau yakin?" tanya anak baru itu.


"Yakin lah... Yakin 100%..." timpal Ruben.


"Aku ragu kau akan masih tetap dengan pendirian mu itu..." ucap anak baru itu yang mana kini kembali mengambil satu lembar uang pecahan 20 ribu dari dalam dompetnya. Jadi, total sekarang yang ada di atas meja adalah 40 ribu.


"H-h-ha-aa... Jangan kira hanya dengan tambahan segitu aku akan langsung goyah yah. Hahaha," timpal Ruben dengan agak sedikit terbata-bata. Ia pun terlihat sedikit menelan ludahnya tadi.


"Heee kau masih keras kepala juga yah... Padahal tadi kau sudah menelan ludah mu loh... Sudahlah sebaiknya kau menyerah saja dan ambil uang itu sebelum kau menyesal nantinya," timpal anak baru itu lagi.


"Ti-ti-ti-tidak akan," jawab Ruben dengan masih terbata-bata.


"Hahaha bicara mu saja sekarang sudah mulai ragu begitu. Aku yakin kau tidak akan bertahan dengan pendirian mu lagi," ucap anak baru itu yang lalu kembali mengambil satu lembar uang pecahan 20 ribu dari dalam dompetnya.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2