
Setelah kami selesai makan, kami pun langsung bersiap-siap untuk segera pulang. Lagi pula, sekarang sudah hampir jam 8 malam.
"Sekali lagi terima kasih ya teman-teman. Maaf merepotkan kalian hingga malam-malam begini. Sekali lagi terima kasih," ucap ku sambil agak membungkuk ke depan.
"Sudah ku bilang kan, itu bukan suatu masalah besar. Lain kali, jangan terlalu memaksakan diri sendiri yah," ucap Ruben.
"Ya sudah, sampai jumpa besok yah semuanya," ucap Aji.
Lalu, kami pun pulang terpecah menjadi dua arah. Aku dan Cindy ke arah Utara, sedang Ruben, Ahsan, AJI, dan Renaldi ke arah selatan. Namun, rumah Ruben tidaklah terlalu jauh ke selatan. Rumahnya hanya sekitar 200 meter saja dari sekolah.
Akhirnya, kini tinggal aku dan Cindy yang sedang berjalan ke arah utara. Sebetulnya, tempat tinggal Cindy yaitu toko buku kecil itu, tidak juga terlalu jauh dari toko.
"Makasih ya Cin," ucap ku lagi.
"Hihihihi sudah berapa kali kamu mengucapkan terima kasih setelah sadar tadi? Kami semua senang kok bisa membantu teman kami yang sedang dalam masalah. Jadi, tak perlu sungkan-sungkan begitu. Mungkin rasanya sama seperti ketika kamu, Ruben, dan Ahsan membantu ku waktu itu, masih ingat?" timpal Cindy sembari memalingkan wajahnya pada ku.
Aku hanya diam saja mendengar ucapannya dan untuk saat ini entah kenapa aku jadi tidak berani menatap ke arah matanya. Agar tidak terlalu terlihat salah tingkah, aku pun lalu melihat ke arah langit.
Langit malam ini tak terlalu bertaburan dengan bintang. Bintang yang terlihat berkerlap-kerlip itu, tak sebanyak seperti biasanya. Jarak mereka pun, lumayan senggang-senggang. Mungkin kah saat ini para bintang sedang ada masalah, sehingga jarak mereka menjadi begitu senggang? Entahlah. Lagi-lagi aku berpikiran hal-hal yang aneh.
"Kamu sedang lihat apa Lang?" tanya Cindy tiba-tiba yang mana membuat ku sedikit kaget.
"Oh tidak sedang lihat apa-apa kok. Cuma sedang lihat langit saja," jawab ku.
"Oiya ngomong-ngomong kamu lebih suka langit malam atau langit sore?" tanya Cindy lagi.
"Mmm kalau disuruh memilih, aku pasti akan lebih memilih langit malam," jawab ku.
"Wah langit malam yah... Kenapa?" tanya Cindy lagi.
"Itu karena, aku merasa kalau langit malam itu sudah seperti sahabat ku sendiri," jawab ku.
__ADS_1
"Hihihihi maksudnya?" Cindy tertawa kecil.
"Kenapa tertawa? Aneh ya?" tanya ku.
"Engga, engga kok. Hanya saja jawaban mu tadi itu sedikit dari luar perkiraan ku. Jadi, kenapa kamu menganggap kalau langit malam itu seperti sahabat mu sendiri?" tanya Cindy lagi.
"Bagaimana menjelaskannya yah? Aku juga tidak terlalu mengerti, tapi yang jelas sedari kecil dulu, sejak ayah ku masih hidup, ayah selalu mengajak ku melihat langit malam hampir setiap hari sebelum tidur. Kami berdua lalu bercerita tentang bagaimana hari ini berjalan, bagaimana perasaan kami, semuanya kami ceritakan," jelas ku.
"Ayah mu pasti sangat menyayangi mu yah..." ucap Cindy agak lirih.
"Ya begitulah. Setidaknya aku memang merasa seperti itu. Selain itu, langit malam juga tidak pernah mengeluh jika kita mengeluh padanya. Dia bahkan tidak pernah mengeluh jika disakiti sekalipun oleh ulah serakah manusia. Ditambah lagi, aku juga menyukai warna gelap, jadi tidak aneh kalau aku juga menyukai langit malam yang warnanya juga gelap," tambah ku.
"Hihihi begitu ya," ucap Cindy sambil sedikit tersenyum.
"Kalau kamu lebih suka mana? Langit malam atau langit senja?" tanah ku.
"Mmm mungkin sama seperti mu, langit malam hihihi," jawab Cindy.
"Kalau begitu aku duluan ya Lang, sampai jumpa besok. Jangan tidur terlalu malam hari ini, oke? Hehehe," ucap Cindy sambil tersenyum.
"Okee, sekali lagi makasih ya..." ucap ku.
"Dahhh..." ucap Cindy sambil melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam toko buku itu.
***
Sesampainya di rumah, aku lalu langsung menyiapkan air hangat untuk ku mandi. Karena sudah malam, aku pun memutuskan untuk mandi dengan bathtube saja sekalian berendam dengan air hangat. Dengan berendam di air hangat, ku harap otot-otot ku yang kelelahan bisa rileks sejenak.
Setelah selesai berendam, aku pun lalu langsung menuju ke kamar ku untuk langsung tidur. Lagi pula, aku juga sudah mulai merasa ngantuk saat ini. Tidak biasanya seperti itu.
***
__ADS_1
Pagi ini, saat aku terbangun, entah kenapa aku malam tambah pusing dan rasa lemas ku juga belum hilang. Padahal, semalam aku merasa sudah lebih baik, kenapa sekarang terasa seperti bertambah buruk yah? Atau mungkin karena aku berendam terlalu lama semalam? Entahlah.
Tak lama berselang, ibu ku datang ke kamar ku. Aku lalu bilang pada ibu ku bahwa sepertinya aku tidak akan berangkat sekolah untuk hari ini. Sepertinya, aku masih butuh istirahat.
"Eh, kamu kenapa Lang? Kenapa muka mu agak pucat seperti itu?" tanah ibu yang langsung menempelkan tangannya di dahi ku sambil mengecek suhu tubuh ku.
"Entah kenapa aku merasa lemas dan sedikit pusing Bu. Sebenarnya, aku sudah merasakan hal ini dari kemaren sehabis bangun tidur. Kalau aku tidak berangkat hari ini gak papa kan bu?" ucap ku.
"Oh iya tentu saja gak papa... Nanti mau sekalian pergi ke dokter? Biar ibu antarkan?" tanya ibu yang raut wajahnya seketika menjadi begitu cemas.
"Sepertinya ga usah deh bu. Nanti kalau masih belum juga, baru ke dokter. Ibu juga jangan terlalu khawatir, aku masih baik-baik saja kok hehehe," ucap ku sambil berusaha tersenyum. Sebetulnya, aku juga belum memberitahu ibu soal aku yang pingsan waktu ekstrakulikuler kemaren. Aku takut kalau aku cerita ke ibu, ibu malah terus menjadi kepikiran dan malah menambah beban pikirannya.
"Kalau begitu, biar ibu bawakan sarapan mu dulu yah?" tanya ibu lagi.
"Ga perlu bu. Aku masih bisa berjalan kok hehe. Tapi tolong bantu berjalan yah," ucap ku.
Lalu aku dan ibu berjalan menuju ke lantai satu. Seperti yang aku minta sebelumnya, ibu kini tengah menuntun ku berjalan menuju ke lantai satu.
"Eh kakak kenapa? Kenapa dituntun seperti bayi kecil?" tanya Hana yang kebetulan sedang berjalan ke arah dapur.
"Kakak sedang agak sakit Hana, jadi ibu tuntun kakak biar gak jatuh..." jawab ibu dengan lembut.
"Eh kakak sakit apa? Gak biasanya kakak sakit..." ucap Hana yang juga raut wajahnya berubah menjadi agak khawatir.
"Belum tau ini, tapi kakak pikir ini cuma kelelahan biasa. Jadi, jangan terlalu cemas begitu yah," ucap ku.
Kalau dipikir-pikir lagi, aku ini memang jarang sakit. Rasanya, kemaren juga adalah pengalaman ku yang pertama mengalami pingsan.
***
Bersambung
__ADS_1