Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 41 : Kelas XI Vs Kelas XII


__ADS_3

Sekitar 10 menit lagi hingga ekstrakulikuler Sepak Bola dimulai. Aku, Ahsan, dan Ruben sudah berada di pinggir lapangan tempat akan dilaksanakannya ekstrakulikuler.


Cuaca sore ini cukup bagus dan tidak mendung. Matahari pun dengan tenang menyinari dari atas sana.


"Oi Ben ngomong-ngomong kau sudah nembak Cindy belum?" tanya Ahsan yang sedang sibuk menali sepatunya.


"Ngomong apa kau ini?" jawab Ruben.


"Sudahlah jangan malu-malu, kau suka pada Cindy kan?" ucap Ahsan lagi.


"Kalau iya memang kenapa?" jawab Ruben tanpa ragu.


"Wah benar kan kau suka Cindy. Kalau begitu cepat nyatakan perasaanmu padanya," ucap Ahsan lagi.


"Haaa? Kenapa aku harus mengikuti perkataanmu?" balas Ruben dengan mengerutkan alisnya.


"Kalau kau tidak mengatakannya sekarang, mungkin dia akan terlebih dahulu jatuh cinta pada orang lain," jawab Ahsan lagi.


"Kenapa kau jadi sok tau begitu?" jawab Ruben sinis.


"Hahahaha cuma prediksiku saja. Tapi entah kenapa aku rasa sepertinya Cindy sedang menyembunyikan masalahnya dari kita," tiba-tiba Ahsan mengganti topik pembicaraan.


"Maksdu mu?" tanya Ruben penasaran.

__ADS_1


"Kemaren dia bilang kalau alasan dia tidak masuk adalah karena sibuk membantu neneknya kan? Menurut mu apakah alasan itu masuk akal? Jika kau ada di posisi neneknya, apakah kau akan membiarkan cucu kesayangmu tidak masuk sekolah hanya gara-gara membantu mu menjaga toko?" jelas Ahsan.


"Mungkin Cindy masih belum bisa menceritakan masalah kepada kita dengan suatu alasan," lanjut Ahsan.


"Priiiiiitttt," suara peluit menandakan bahwa ekstrakulikuler akan segera dimulai.


Semua anggota pun kini langsung membentuk barisan berdasarkan kelas mereka. Mulai dari kelas X, XI, dan XII. Lalu seperti biasa, kami melakukan lari kecil mengelilingi lapangan sebanyak dua kali.


Seperti biasa, baru satu kali putaran, Ruben sudah terlihat ngos-ngosan. Larinya pun kini melambat.


Akhirnya kami semua telah selesai melakukan lari mengelilingi lapangan sebanyak dua putaran. Selanjutnya, kami akan melakukan pemanasan anggota tubuh lain seperti kepala, tangan, badan, pinggul, dan kaki.


Yang memimpin pemanasan anggota tubuh adalah sang kapten tim, yaitu kak Jonathan yang kemaren hari Minggu baru saja berulang tahun dan dirayakan oleh Sophia dan yang lainnya, termasuk Ahsan dan Ruben. Ia memulai pemanasan dari bagian atas, kemudian bagian bawah. Gerakan pemanasannya pun terlihat begitu rapih dan efektif.


Setengah jam menjelang berakhirnya kegiatan ekstrakulikuler, pak Bimo kembali meniup peluitnya tanda kami harus segera berkumpul. Pak Bimo menjelaskan bahwa di sisa waktu ini, kita akan melakukan latihan bertanding internal antara kelas XI dan XII. Kelas X belum bisa ikut karena memang tim dari kelas X juga belum terbentuk. Pada kesempatan hari ini kelas X hanya berperan sebagai penonton saja sambil mengambil ilmu dari para senior.


Pak Bimo lalu memanggil nama-nama pemain yang akan bermain. Jadi, memang tak semua anggota kelas XI dan XII ikut bermain, hanya yang sudah terpilih saja yang ikut bermain.


Setelah pak Bimo selesai memanggil nama-nama pemain yang akan bertanding, pertandingan antara kelas XI dan kelas XII pun akan segera dimulai dalam 10 menit lagi. Yang bertugas untuk menyusun strategi dari kelas XII adalah kak Jerome, sementara dari kelas XI adalah kak Yos.


Bintang dari kelas XII sudah pasti adalah kak Jonathan, sang kapten yang bermain di posisi pemain tengah. Sementara untuk kelas XI adalah kak Taufik, yang berposisi sebagai pemain depan. Setelah 10 menit, akhirnya pertandingan pun dimulai.


Di awal-awal pertandingan ini, kelas XII terlihat sangat mendominasi penguasaan bola. Mereka dengan leluasa memainkan bola dari kaki ke kaki. Kelas XI juga tidak tinggal diam. Meskipun mereka tidak menguasai bola, akan tetapi mereka selalu melakukan pressing pada para pemain kelas XII.

__ADS_1


Akhirnya peluang pertama pun tercipta. Dimulai dari pergerakan kak Jo (Jonathan) yang berhasil melewati beberapa pemain di lini tengah, ia lalu mengirimkan umpan yang sangat indah dan terukur kepada kak Bagas, pemain depan dari kelas XII. Sayang, tendangan kak Bagas masih melenceng tipis di sisi kiri gawang kelas XI. Skor 0-0 pun masih bertahan.


Hingga kini, kelas XII masih saja menguasai jalannya pertandingan, akan tetapi setiap peluang yang tercipta belum mampu membuahkan gol. Berbanding terbalik dengan kelas XII, sejauh ini belum ada satupun peluang yang tercipta dari kelas XI. Serangan yang mereka bangun, selalu berhasil di gagalkan oleh para pemain dari kelas XII.


Ketika waktu sudah hampir habis, dan sepertinya pertandingan akan berakhir imbang 0-0, tiba-tiba saja kelas XI seperti mendapatkan momentum. Berawal dari sepak pojok untuk kelas XII yang berhasil di sundul menjauh dari daerah kotak pinalti kelas XI. Bola jatuh di kaki pemain tengah kelas XI yang sedang berjaga di area luar kotak pinalti.


Pemain itu yang melihat kak Taufik cuma di kawal satu pemain di garis tengah lapangan, langsung mengirimkan umpan panjang ke depan. Kak Taufik dan pemain bertahan dari kelas XII pun terlibat adu sprint untuk mendapatkan bola tersebut.


Pada akhirnya kak Taufik berhasil menang sprint melawan pemain bertahan tersebut dan langsung mengontrol bola memasuki kotak pinalti dari kelas XII. Lewat ketenangannya dalam menendang bola, kak Taufik pun berhasil menyarangkan bola tepat di pojok kanan atas kelas XII. Dengan gol ini, kelas XI pun memimpin 1-0. Para memain dan penonton pun bersorak riuh menyambut gol dari kak Taufik itu, tak terkecuali pak Bimo yang langsung memberikan tepuk tangannya pada gol tadi.


Di sisa waktu pertandingan yang tidak seberapa panjang, tidak ada gol lagi yang tercipta. Dengan ini kelas XI pun menang 1-0 dari kelas XII. Di akhir laga, semua pemain dari kedua belah pihak melakukan jabat tangan tanda sportifitas.


Entah kenapa setelah aku melihat pertandingan tadi, aku jadi lebih bersemangat untuk mempelajari sepak bola dan serius mengikuti ekstrakulikuler ini.


Dengan berakhirnya pertandingan tadi, maka berakhir pula kegiatan ekstrakulikuler pada sore hari ini. Kami anak-anak kelas X pun diberi tugas untuk mengumpulkan bola dan membereskan dan mengembalikan peralatan yang tadi digunakan selama kegiatan ekstrakulikuler berlangsung.


***


Sepulang dari ekstrakulikuler, aku pun langsung pulang menuju rumah. Ada dua pemain yang aku kagumi dari pertandingan tadi yaitu kak Jo dan kak Taufik. Meskipun aku agak sebal melihat kak Jo karena dia terlihat sangat dekat dengan Sofia, akan tetapi secara permainan dialah yang paling dominan di timnya. Dia seperti pusat aliran bola dari kelas XII.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2