
Aku lalu membuka dan membaca pesan dari ketiga gadis itu. Pada intinya, ketiga gadis itu mengirimi ku pesan perihal menanyakan keadaan ku. Aku bisa mengerti jika Cindy mengirimi pesan seperti itu karena dia adalah teman satu kelas ku. Namun, aku tidak tahu mengapa Sofia dan Celine bisa tahu kalah aku sedang sakit dan tidak masuk sekolah. Mungkin saja mereka tahu karena habis berkunjung ke kelas ku dan melihat nama ku tertulis di papan absen kelas. Entahlah. Namun, terlepas dari semua itu, saat ini, aku benar-benar merasa senang dan bahagia.
Saat membalasi pesan mereka satu per satu, entah kenapa detak jantung ku berdetak begitu cepatnya dan jari-jari ku agak gemetaran. Aku membalasi mereka bertiga dengan balasan bahwa intinya keadaan ku sudah membaik dan sepertinya aku sudah bisa berangkat sekolah besok.
***
Sore hari sekitar pukul 4 lebih sedikit, tiba-tiba saja ada yang menyanyikan bel rumah ku tanda ada orang yang datang. Aku yang sedang berada di kamar tidur ku di lantai 2, langsung buru-buru turun untuk mengecek siapakah yang datang. Keadaan ku saat ini sudah semakin baik, aku bahkan sudah tidak merasakan lemas sedikit pun.
Saat aku sudah berada di ruang tamu, dari apa yang aku rasakan sepertinya orang yang datang kemari cukup banyak. Di luar juga terdengar kasak-kusuk percakapan. Saat aku membuka pintunya, aku sangat terkejut. Ternyata yang datang ini adalah teman-teman ku. Entah kenapa perasaan ku saat ini lebih senang lagi. Bahkan lebih senang dari saat aku menerima pesan dari Celine, Cindy, dan Sofia.
"Wahhh kelihatannya kamu sehat-sehat saja Lang, kenapa kau manja sekali sampai tidak masuk sekolah? Hahaha," ucap Ruben yang penuh dengan semangat seperti biasanya.
Aku lalu mempersilahkan teman-teman yang datang untuk masuk terlebih dahulu. Saat aku perhatikan lagi, ternyata tak cuma teman laki-laki saja yang datang, bahkan Celine, Cindy, dan Sofia juga datang. Entah kenapa lagi-lagi jantung ku saat ini berdetak begitu hebat dan cepat.
Teman-teman ku yang datang saat ini cukup banyak. Mereka adalah Ruben, Ahsan, Renaldi, Aji, Ayu, Cindy, Sofia, Celine, Devi, dan Fani. Total semuanya ada 10 orang.Karena sofa yang ada di ruang tamu tidak cukup, para anak laki-laki pun duduk di karpet.
"Gimana kabar mu Lang?" tanya Aji.
"Ini udah mendingan. Sepertinya besok aku sudah bisa berangkat. Ngomong-ngomong kenapa kalian tidak mengabari ku terlebih dahulu kalau mau datang ke sini? Aku kan jadi bisa mempersiapkan sesuatu untuk kalian.
"Hahaha gak usah repot-repot Lang, santai saja. Ayo yang lain jangan sungkan-sungkan yah, anggap aja rumah sendiri," ucap Ruben dengan raut wajah tak berdosa.
"Oi oi oi, kenapa malah kau yang mengucapkan kalimat itu? Kau kan bukan pemilik rumah ini, harusnya yang bilang seperti itu tuh yang punya rumah... Dasar... Gimana sih kau ini," timpal Ahsan.
"Hahaha oiya yah, gimana sih aku ini," timpal balik Ruben.
"Ya mana aku tahu, kau cari aja jawabannya sendiri," ucap Ahsan.
"Oiya, ngomong-ngomong kalian mau minum apa?" tanya ku.
__ADS_1
"Terserah apa aja Lang, hehe," jawab Aji.
"Baiklah kalau begitu. Tunggu yah, aku buatkan minum dulu," ucap ku yang lalu langsung menuju ke dapur.
"Oi Lang tunggu," ucap Ruben yang lalu langsung menyusul ku menuju ke dapur. Tak berselang lama, giliran Ahsan yang menyusul kami.
"Sini Lang biar aku saja yang bikin minumannya. Kira-kira mau bikin apa nih?" tanya Ruben.
"Iya Lang, biar aku dan Ruben saja yang membuatkan minumannya. Kau tinggal bilang saja mau bikin apa," ucap Ahsan.
"Gak papa nih?" tanya ku.
"Iya gak papa. Jangan kaku begitu," timpal Ruben.
"Kalau begitu menurut kalian lebih enak minuman dingin atau hangat yah?" tanya ku meminta pendapat pada mereka.
"Tentu saja... Dingin," ucap Ahsan bersamaan dengan Ruben.
"Haaa kenapa malah dingin? Sudah jelas-jelas untuk suasana kekeluargaan yang seperti ini cocoknya minuman hangat," ucap Ruben.
"Mana ada yang seperti itu. Sedang jelas-jelas minuman dingin akan langsung menyegarkan dan membuat mood kita kembali baik setelah seharian beraktivitas di sekolah," debat Ahsan.
"Tenanglah... Bagaiman kalau kalian buat saja dua macam... Minuman jangan dan minuman dingin... Nanti yang lainnya yang akan memutuskan sendiri mau ambil minuman yang mana," ucap ku.
"Wah ide bagus tuh... Ayo kita lihat mana dulu minuman yang paling banyak peminatnya, minuman hangat atau minuman dingin?" tantang Ruben.
"Siapa takut... Ayo kita buktikan," ucap Ahsan.
Mereka berdua lalu langsung mengambil teko yang ukurannya sama. Mereka lalu langsung memulai untuk membuat minuman. Ruben membuat teh hangat, sementara Ahsan membuat sirup dingin. Setelah selesai, keduanya lalu langsung membawa 2 teko itu ke depan. Selain itu, mereka juga membawa gelas kosong yang mana nanti yang lainnya yang akan menentukan sendiri mana yang mau mereka minum.
__ADS_1
Kalau aku pribadi, untuk saat ini aku lebih menyukai untuk minum minuman yang dingin. Itu berarti, aku akan mengambil minuman yang tadi dibuat Ahsan.
Sesampainya di ruang tamu, kami lalu langsung mengambil minuman yang ingin kami minum masing-masing. Hasilnya, 10 dari 11 orang lebih memilih minuman dingin milik Ahsan. Dengan begitu, tentu saja Ahsan menang dengan telak dari Ruben.
"Lihat hahahaha. Mana ada yang mau mengambil teh hangat di cuaca yang cukup panas ini. Apa lagi kita seharian habis beraktivitas dan belum mandi. Sudah jelas minuman dingin yang akan lebih nikmat diminum dari pada minuman hangat. Hahaha dasar bodoh," ejek Ruben.
"Kau hanya beruntung saja. Jangan sombong begitu," timpal Ruben.
"Hahahaha kenapa muka mu mendadak jadi kebingungan begitu? Kau malu yah?" ucap Ahsan.
"Malu? Pada mu? Mana mungkin hal seperti itu akan terjadi. Mengkhayal saja pekerjaan mu ini," timpal Ruben.
"Hahaha sudah-sudah, kita datang ke sini kan mau menjenguk Galang sekaligus membicarakan tentang liburan bersama setelah UTS nanti," ucap Aji.
"Iya-iya maaf. Kau sih San, mulai duluan," ucap Ruben.
"Kok aku sih?" timpal Ahsan.
"Berhubung karena yang mau ikut liburan besok itu cukup banyak, kita jadinya mau menyewa sebuah bus kan. Nah sekarang kalau cuma mau pergi ke candi Borobudur kan agak sayang, jadi sekarang ini kita mau berdiskusi tentang objek wisata yang lain, sekalian sama jenguk kamu Lang hehehe. Kalau kata pepatah itu, sambil menyelam minum air," ucap Aji.
"Oh iya gak papa," jawab ku.
Setelah itu kami pun memulai untuk berdiskusi menentukan tempat yang akan kami kunjungi selain candi Borobudur. Sementara itu, aku baru ingat bahwa aku masih mempunyai beberapa cemilan di lemari makan. Aku pun lalu mengambilnya dan menghidangkannya pada mereka.
***
Bersambung
***
__ADS_1