
"Taman Panggung? Tumben kamu ke situ. Sapa siapa aja tadi? Ahsan, Ruben?" tanya ibu yang masih terlihat membaca buku di tangannya.
"Sama Celine bu. Soalnya tadi aku diajak sama Celine buat nemenin nonton drama, tapi pas mau masuk eh ternyata tiketnya ketinggalan. Ya udah deh akhirnya kita berdua cuma duduk sambil minum jus," jelas ku agak bersemangat.
"Cuma sama Celine?" tanya ibu ku yang saat ini langsung menutup buku yang sedang dibacanya.
"Iya bu, cuma kita berdua," jawab ku.
"Wahh anak ibu sudah besar yah... Hmmm..." ucap ibu yang kini kembali membuka buku di tangannya itu.
"Maksudnya bu?" tanya ku yang tidak mengerti apa arti dari kalimat yang ibu katakan barusan.
"Ya ya ya. Sebentar lagi kamu juga bakal mengetahuinya sendiri kok. Tapi tadi pas sama Celine apa yang kamu rasakan? Seneng? Apa biasa aja?" tanya ibu lagi.
"Seneng bu. Rasanya juga begitu damai dan nyaman," jawab ku.
Ibu lalu tersenyum dan langsung mengusap-usap kepala ku. Aku tidak tahu kenapa ibu melakukannya.
"Ya sudah sana cuci tangan, kaki, sikat gigi," ucap ibu ku lagi setelah selesai mengusap-usap kepala ku.
***
Setelah selesai sikat gigi, cuci tangan, cuci kaki, dan cuci muka, saat ini aku sedang bersantai di balkon lantai dua sambil menatap langit seperti biasanya. Tak ketinggalan, secangkir cokelat panas juga menemani ku malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya.
Sambil duduk bersandar, perlahan-lahan aku menyeruput cokelat panas yang ada di dalam cangkir di samping ku ini. Rasanya sungguh nikmat dan hangat. Suana yang begitu damai dan nyaman ini, sangat lah membuat diri ku berasa seperti sedang bukan berada di bumi.
Angin yang biasanya seperti membawa rasa sepi, kini perlahan-lahan telah berganti menjadi pembawa kabar bahagia. Bulan yang saat ini terlihat setengah itu, entah kenapa juga terlihat sedang tersenyum kepada ku. Meskipun langit sedang sepi, akan tetapi hati ku saat ini tidak merasa sepi. Justru sebaliknya, hati ku saat ini seperti kebun bunga di musim semi yang mana bunganya sedang bermekaran.
Kehidupan di SMA, ternyata tidak se-simpel kehidupan di SMP. Atau mungkin karena aku sekarang sudah mengenal lebih banyak orang? Entahlah. Yang jelas, saat ini aku merasa aku lebih hidup. Terkadang jalan yang kita ambil tidaklah selalu benar. Jika itu terlanjur terjadi, jadikanlah pelajaran untuk kedepannya.
***
Sabtu pagi sekitar pukul 9. Aku saat ini sudah menuntun sepeda ku untuk menuju ke sebuah bengkel sepeda yang terletak di sekitar SDnya Hana. Jika kalian masih ingat, semalam ban belakang sepeda bocor ketika sedang memboncengi Celine. Hari ini, aku berniat untuk memperbaikinya di bengkel sepeda.
__ADS_1
Pagi ini, langit begitu cerah. Awan putih tampak bergerak dengan cukup cepat di depan awan biru.
***
Sesampainya di bengkel, aku langsung menyerahkan sepeda ku kepada montir sepeda. Aku lalu bilang kalau ban sepeda belakang ku bocor. Aku tidak tahu apakah itu harus diganti atau bisa hanya dengan ditambal. Yang jelas aku menyerahkan sepenuhnya kepada montir sepeda tersebut.
Setelah diperiksa, ternyata ban sepeda ku bagian dalam harus diganti. Aku pun menyetujuinya. Lagi pula, rasanya sudah lama sekali semenjak aku menservis sepeda ku itu.
Setelah itu, aku lalu langsung duduk di kursi tunggu sekitar situ. Di samping ku, terlebih dahulu sudah duduk seorang pria yang mungkin usianya sekitar 50 tahunan. Rambutnya pun terlihat sudah sedikit beruban.
Sebelum aku duduk, aku terlebih dahulu tersenyum ke arahnya, "Permisi pak."
Lalu pria itu membalas senyum ku dan berkarta, "Silahkan."
***
Setelah selesai, aku lalu langsung pergi meninggalkan bengkel sepeda itu. Namun, aku tidak langsung pulang melainkan aku kepikiran untuk berkeliling kota sebentar dengan bersepeda. Lagi pula, cuacanya juga cerah.
***
Setelah cukup puas berkeliling kota dengan bersepeda, aku memutuskan untuk mampir sebentar di kedai burger untuk membeli minum dan makan sebentar. Kebetulan, aku juga sudah mulai merasa sedikit lapar.
Aku lalu berhenti dan memarkirkan sepeda ku di kedai burger yang lumayan sering aku kunjungi. Selain karena harganya yang murah, dan rasanya yang enak, kedai burger ini juga sangat nyaman. Ditambah lagi, suasana di sekitar kedai yang masih asri dan masih terasa sangat sejuk.
"Pesan Cheese Burger 1 sama teh bersoda yang mba," ucap ku saat sedang memesan.
"Oh iya mas, silahkan tunggu sebentar yah," ucap pelayan yang ada di hadapan ku.
"Baik mba," aku lalu langsung mundur dari situ dan duduk di kursi dan meja yang masih kosong.
***
Tak lama berselang, kini makanan pesanan ku pun datang. Aku lalu langsung buru-buru memakan Chesse burger pesanan ku karena aromanya yang begitu menggoda itu membuat ku menjadi semakin lapar.
__ADS_1
Hanya dalam waktu kurang dari 5 menit, aku sudah menghabiskan Cheese burger itu. Aku pun lalu langsung memesannya lagi. Tak kusangka satu burger masih terasa kurang.
***
Saat ini, aku sudah menghabiskan dua burger pesanan ku tadi. Dan saat ini, minuman ku juga tinggal seperempat. Rasanya, perut ku begitu penuh sekarang. Apa lagi soda-soda yang aku minum itu, membuat perut ku terasa lebih penuh lagi.
Saat sudah merasa sangat kembung begini, salah satu hak yang aku tunggu adalah bersendawa. Entah kenapa setelah bersendawa, rasa kembung ku bisa langsung hilang seketika itu juga.
Di saat aku sedang menunggu-nunggu untuk bersendawa, tiba-tiba saja salah satu favorit ku di putar di kedai ini. Lagu yang aku maksud itu adalah 21 Guns dari Green Day.
Aku merasa sangat senang jika lagu favorit ku diputar di tempat umum seperti ini. Rasanya, aku seperti yang paling tahu dengan lagu ini dibanding yang lain. Tentu saja, hak itu hanyalah ada di dalam pikiran ku saja.
🎼One twenty one guns...
🎼Lay down your arms...
🎼Give up the fight...
🎼One twenty one guns...
🎼Throw up your arms...
🎼Into the sky... You and I...
Tanpa sengaja, ketika lagu itu memasuk reff, kepalaku mengangguk-angguk dengan sendirinya. Tak hanya sampai di situ, aku pun untuk sesaat ikut menyanyikan lagu itu walau hanya dalam gerakan bibir saja.
Di saat aku sedang menikmati lagu favorit ku itu, tiba-tiba saja ada yang menepuk ku dari arah belakang. Secara spontan, aku langsung berbalik untuk mencari tahu siapa yang barusan menepuk ku tersebut.
Saat aku berbalik, ternyata yang menepuk ku barusan adalah Tora, teman lama ku. Kali ini Tora tidak sendirian, di sampingnya sudah ada seorang gadis yang mana terlihat seumuran dengan kami. Aku tidak tahu siapa gadis yang ada disebelahnya itu. Mungkin, teman satu kelasnya? Entahlah.
***
Bersambung
__ADS_1