
Kamis 18 Oktober, pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya, aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Pagi tadi saat baru bangun tidur, entah kenapa mood ku tidak sebaik biasanya. Saat terbangun tadi pagi, aku merasa begitu gelisah dan aku pun terbangun dalam keadaan yang sudah sangat berkeringat.
Aku tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Atau mungkin karena semalam aku mimpi buruk yah? Entahlah. Malam tadi aku bermimpi bahwa aku dan kota ini tengah dalam keadaan perang dengan negara lain. Hampir setiap saat terdengar suara bom yang dijatuhkan.
Setiap warga kota terlihat begitu kotor dan lusuh. Setiap anak kecil yang aku temui pasti sedang menangis.
Meskipun latar mimpi itu ada di kota ini, akan tetapi anehnya aku tidak bertemu dengan orang-orang yang aku kenal. Bahkan aku juga tidak bertemu dengan Hana atau ibu. Sungguh mimpi yang aneh.
Disaat keadaan perang semakin memanas, aku pun diberi senjata oleh seseorang yang aku tidak kenal. Lalu sebelum aku sempat menggunakan senjata itu, tiba-tiba saja aku sudah terbangun dengan keadaan gelisah dan dalam kondisi yang sudah berkeringat. Saat aku terbangun ternyata waktu itu baru pukul setengah 4 pagi. Aku lalu mencoba untuk kembali tidur, akan tetapi selalu tidak bisa. Pada akhirnya, aku hanya belajar sebentar dan lalu lebih banyak membaca novel sambil ditemani satu gelas cokelat panas.
Pagi ini, langit tampak begitu cerah. Burung-burung kecil terlihat beterbangan ke sana-ke mari menghiasi pemandangan cakrawala pagi ini.
Karena pagi ini aku berangkat lumayan awal, mungkin nanti aku bisa bertemu dengan Cindy saat sedang melewati toko buku milik neneknya. Biasanya kalau kau berangkat di waktu-waktu segini, aku akan bertemu dengannya.
Sambil terus berjalan sambil pikiran ku memikirkan banyak hal. Aku memang jarang berbicara, akan tetapi bukan berarti tidak ada hal yang aku pikirkan. Malahan, justru sebaliknya. Banyak sekali hal yang aku pikirkan. Bahkan sampai hal-hal kecil sekali pun. Mereka selalu berputar-putar terus di kepala ku.
***
Saat aku sedang melewati area toko buku, Cindy tiba-tiba keluar dari dalam toko. Seperti yang aku duga sebelumnya.
"Eh Galang. Selamat pagi," sapa Cindy.
"Iya, pagi juga Cin," timpal ku yang mana saat ini aku menghentikan langkah ku sejenak sambil menunggu Cindy mendekat.
"Wah tumben kamu berangkat jam seginian," ucap Cindy lagi saat sudah mendekati ku. Kami berdua pun lalu langsung berjalan menuju ke sekolah.
"Iya nih, tadi aku kebangun pagi sekali terus gak bisa tidur lagi. Ya udah deh jadi tadi berangkatnya lebih awal dari biasanya," jawab ku.
"Oh begitu ya... Apakah tadi kamu habis mimpi buruk yah makanya kebangun pagi banget terus ga bisa tidur lagi?" tanya Cindy.
"Eh kamu kok bisa tau? Iya tadi kau habis mimpi buruk," jawab ku dengan cukup heran.
"Aku engga tau loh... Aku cuma mengira-ngira aja kan tadi? Makanya aku pake kalimat tanya, bukan pernyataan," timpal Cindy.
__ADS_1
"Eh oh iya yah hehehe," timpal ku sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong kamu habis mimpi buruk apa Lang? Boleh tau?" tanya Cindy lagi.
Aku pun lalu menceritakan mimpi ku tadi malam. Aku menceritakan padanya semua hal yang masih aku ingat.
***
Tanpa terasa, kini kami sudah berada di depan sekolah. Kami pun lalu langsung masuk dan menuju ke kelas.
Sesampainya di kelas, masih terlihat sedikit siswa yang baru datang. Mungkin belum sampai 10 siswa yang sudah datang. Maklum karena saat ini masihlah termasuk jam awal.
***
Kurang 5 menit lagi hingga bel masuk berbunyi. Namun masih ada dua orang siswa yang terlihat masih belum duduk di tempatnya. Nama dua siswa itu adalah Ruben dan Alex. Aku tidak terlalu terkejut dengan Ruben karena memang dia sering datang diakhir atau bahkan telat. Namun untuk Alex, walaupun ia baru berangkat sebanyak 3 kali, akan tetapi ia tidak pernah datang sampai se-akhir ini.
Tepat di detik-detik terkahir, Ruben dan Alex terlihat datang disaat yang bersamaan. Mereka terlihat berlari dengan kencang saat menuju ke sini.
"Oi minggir," ucap Ruben sambil menyenggol Alex.
"Lagian kenapa kau ini engga di antar lagi ha? Dasar anak manja. Baru berangkat sekali gak di antar aja udah mau telat, dasar manja," ucap Ruben lagi.
"Haaa? Lebih baik kau bercermin dahulu sebelum mengejek orang lain. Bukannya rumah mu itu yang paling dekat yah? Tapi kenapa kau selalu datang paling akhir?" ucap Alex.
Tet tet tet. Suara bel masuk mengakhiri perdebatan mereka sampai di sini.
***
Saat ini aku, Ruben, Ahsan, Aji, dan Renaldi tengah berada di kantin. Kami duduk di kursi kantin sambil mengobrol santai.
"Oi aku heran," ucap Ruben.
"Heran kenapa Ben?" timpal Aji.
__ADS_1
"Aku heran sama orang malas yang selalu disalahkan. Bayangkan yah orang malas kan gak ngapai-ngapain, tapi kok di salahin? Salahnya dimana coba? Kan dia gak ngapa-ngapain," jawab Ruben.
"Sudah aku beritahu kau berkali-kali kan kalau yang salah itu otak kau itu," timpal Ahsan yang mana langsung disambut gelak tawa yang lainnya.
"Haaa apa maksud mu? Dasar peringkat terakhir," timpal Ruben balik sambil mengejek Ahsan.
"Hahaha sudah-sudah," ucap Aji yang berusaha melerai Ahsan dan Ruben.
"Oiya Ji, ngomong-ngomong kau sudah baikan sekarang?" tanya Ruben.
"Oh iya sudah mendingan lah hehehe. Sejak saat kita kumpul bareng itu, perasaan ku menjadi lebih baik lagi," jawab Aji.
"Lalu kelanjutan hubungan mu dengan Fani gimana?" tanya Ruben lagi.
"Ya begitulah. Belum ada yang berubah. Mungkin kami memang cuma ditakdirkan untuk menjadi teman saja," jawab Aji dengan sedikit tersenyum.
"Hmmm memang wanita itu sulit dimengerti yah," timpal Ruben.
"Oiya Ben aku penasaran kenapa kau dan Alex tadi bisa berangkat bareng?" tanya ku.
"Kami gak berangkat bareng, cuma kebetulan berangkat di waktu yang bersamaan saja," jawab Ruben.
"Oh iya maksud ku begitu, berarti ia tadi beneran berangkat sendiri? Gak dianter mobil seperti biasanya?" tanya ku lagi.
"Iya, beneran. Waktu aku keluar dari gang rumah ku dan menuju jalan utama, aku tiba-tiba saja melihatnya tengah berjalan sendirian dengan raut wajah yang sudah begitu kecapean. Aku tidak tahu, tapi mungkin rumahnya cukup jauh atau semacamnya," timpal Ruben.
"Wah begitu ya, tapi ngomong-ngomong kenapa yah Alex tiba-tiba memutuskan untuk berangkat sendiri," ucap ku yang masih penasaran.
"Mungkin dia cuma lagi pingin kali," ucap Ruben.
"Mana mungkin begitu," timpal Ruben.
"Ngomong-ngomong soal Alex, dia sepertinya masih belum terlalu dekat dengan siswa yang lainnya yah? Siswa yang paling dekat dengannya itu ya cuma kau itu Ben," ucap Aji.
__ADS_1
***
Bersambung