
"Wah tadi pertandingannya sulit banget yah," ucap Ahsan yang tampak kelelahan.
"Iya, ku rasa kita masih belum kompak. Maklum kita baru pertama kali main bareng sih. Untuk pertandingan selanjutnya melawan kelas 11 mari kita tingkatkan lagi," ucap Aji.
"Bener tuh, kita ambil pelajarannya aja dari pertandingan kita hari ini sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk selanjutnya," ucap Rudolf.
Rudolf adalah siswa yang bisa dibilang paling mencolok dari kami kelas 10. Iya parasnya masih sangat terlihat bule sekali. Seperti namanya yang memang terdengar seperti nama orang asing. Rambutnya pirang dan cukup panjang, kulitnya sangat putih khas seperti warna kulit orang barat. Warna bola matanya hijau, dan tinggi tubuhnya mungkin sekitar 170an sama seperti ku. Walaupun fisiknya masih sangat kelihatan bule sekali, akan tetapi cara bicaranya hampir sempurna sama seperti orang Indonesia pada umumnya. Tidak terdengar logat bule saat ia sedang bicara.
Akhirnya, pertandingan selanjutnya akan segera dimulai. Kini Kevin (pemain belakang) dan Adit (pemain tengah) akan bermain melawan kelas 11. Kevin akan menggantikan Rizky (pemain belakang), sementara Adit akan menggantikan ku. Untuk pertandingan kedua aku memutuskan untuk tidak ikut bermain saja dan lebih memilih untuk mengamati jalannya pertandingan. Mungkin dengan mengamati, akan ada lebih banyak ilmu yang bisa aku ambil. Toh juga aku sudah merasakan bermain saat pertandingan melawan kelas 12 tadi.
Akhirnya peluit tanda dimulai pertandingan pun berbunyi. Bola dimulai dari kubu kelas 10. Kali ini Deni (pemain tengah) terlihat sedang menguasai bola. Tak berselang lama, ia lalu mengumpan Bola tersebut langsung ke depan menuju Aji (pemain depan), akan tetapi bola kirimannya tak mampu menjangkau Aji karena berhasil dipotong oleh salah seorang pemain kelas 11.
Kelas 11 pun menguasai bola dengan tenang. Mereka tidak terburu-buru mengumpan Ki lini depan, akan tetapi mereka menguasai bola di tengah sambil menunggu celah terbuka. Para pemain lini tengah kelas 11 terlihat sangat tenang. Mereka memainkan bola dengan sangat rapih dan disiplin.
***
Akhirnya pertandingan antara kelas 11 dan kelas 10 pun berakhir dengan kemenangan kelas 11. Skor akhirnya adalah 4-0. Di akhir pertandingan mereka pun saling berjabat.
Setelah pertandingan tersebut selesai, kak Jo langsung mengumpulkan kami semua. Sambil kami beristirahat, dia pun menjelaskan hasil dari kegiatan hari ini.
__ADS_1
Ia mengatakan bahwa kami para pemain kelas 10 masih terlalu canggung dan kaku ketika berada di lapangan. Seharusnya kami bisa lebih tenang dan rileks saat berada di tengah pertandingan. Kami juga masih terlalu terburu-buru dalam melakukan umpan kata kak Jo. Namun, kak Jo tetap mengapresiasi kami karena telah berjuang hingga akhir.
Kemudian kak Jo juga menjelaskan kalau turnamen dalam kota akan segera digelar. Mungkin sekitar 2 bulanan lagi. Untuk itu, kami semua diharap untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin jika ingin dipanggil untuk memperkuat sekolah kami. Jumlah pemain yang akan di panggil dalam turnamen tersebut adalah sebanyak 25 anak. Jadi, hanya sekitar 30% saja yang akan di panggil dari total 76 anak.
Kemudian kak Jo juga mengatakan kalau turnamen tersebut mungkin akan menjadi turnamen terakhir bagi anak-anak kelas tiga, karena setelah semester ganjil ini berakhir, mereka akan fokus untuk ujian akhir. Di penutupannya, kak Jo mengucapkan banyak terima kasih karena telah datang pada latihan mandiri pada sore hari ini. Kak Jo sangat mengapresiasi akan hal itu. Dengan begitu latihan pada hari ini pun telah berakhir. Kami perlahan-lahan mulai meninggalkan tempat latihan.
"Aku pulang dulu ya," ucap ku pada Ahsan dan Ruben.
"Eh kau mau langsung pulang?" tanya Ruben.
"Iya Ben," jawab ku.
Aku pun lalu langsung bergegas menuju Rumah. Saat ini sudah sekitar pukul setengah 6 sore jadi sudah lumayan agak gelap. Lampu-lampu pun sudah mulai bernyalaan.
Hari ini, aku begitu merasakan perbedaan kekuatan antara kelas 10 dan para kakak kelas. Perbedaan yang sungguh besar. Aku pun sedikit cemas apakah nanti aku akan terpilih untuk mewakili sekolah kami. Tentu saja jika aku tidak segera meningkatkan kemampuan ku, ambisi ku untuk mewakili sekolah hanyalah akan menjadi angan-angan belaka.
Sejujurnya, aku masih belum tahu apa yang harus aku lakukan untuk meningkatkan kemampuan bersepak bola ku. Jika hanya mengandalkan ekstrakulikuler yang diadakan sekali setiap satu Minggu itu, rasanya masih belum cukup.
Aku terus berjalan menyusuri jalanan menuju rumah walau dengan perlahan. Sambil terus berpikir cara agar aku bisa meningkatkan kemampuan ku. Namun, selalu berakhir kebuntuan. Aku tidak bisa memikirkan ide apa pun.
__ADS_1
***
Malam ini aku termenung di balkon samping kamar. Aku duduk di bawah bulan yang hanya terlihat setengah itu. Di sekitar bulan itu, terlihat ada satu bintang yang sangat dekat dengannya. Namun, bintang tersebut terlihat hanya seperti sebuah titik saja.
Kira-kira jika ayah masih hidup, dan jika aku lalu bertanya pada ayah tentang hal ini, aku penasaran jawaban apa yang ayah akan berikan. Dulu ketika aku masih kecil, aku selalu bertanya apa pun yang aku belum ketahui pa ayah. Ayah terkadang menjawabnya dengan langsung, kadang dengan perumpamaan, kadang kala ayah hanya tersenyum. Walaupun kadang aku tidak terlalu mengerti tentang apa yang dikatakan ayah, akan tetapi aku selalu merasa senang jika sedang mengobrol dengan ayah.
Saat aku sedang melamun, tiba-tiba saja sebuah angin kencang menerjang ke arah ku. Rasanya sungguh tidak biasa ada angin sekencang ini. Tak berselang lama, angin itu pun menghilang tanpa jejak. Seolah seperti melebur dan menyatu dengan gelapnya malam.
Kini, aku pun kembali dengan lamunanku. Kali ini aku kembali memikirkan tentang kak Jo dan Sofia. Hingga saat ini aku masih belum mengetahui hubungan mereka berdua. Aku ingin sekali menanyakannya pada Sofia, akan tetapi aku rasa itu terlalu tidak sopan.
Namun, ku rasa wajar dan masuk akal jika Sofia memang benar-benar jatuh cinta dengan kak Jo. Sejauh ini yang ku lihat, kak Jo adalah orang yang selalu menghargai orang lain. Dia pun terlihat sangat mengayomi kami para anak kelas 10 agar merasa nyaman dalam mengikuti ekstrakulikuler Sepak Bola.
Jika bisa, aku ingin bertanya pada tuan malam atau tuan bulan saja tentang hubungan keduanya. Aku tahu ini sedikit gila, tapi entah kenapa aku untuk beberapa saat benar-benar berharap bulan dan malam menjawab pertanyaanku tadi.
Aku pun lalu kembali ke kamar untuk bersiap-siap tidur. Tak lupa, aku mematikan lampu terlebih dahulu sebelum membaringkan tubuh ku.
"Jika bulan dan malam tidak bisa menjawabnya secara langsung, paling tidak tolong katakan pada ku lewat mimpi saja," begitu bunyi pinta ku sebelum tidur terlelap. Selamat malam.
***
__ADS_1
Bersambung